RI Kembangkan Kapal Selam Tanpa Awak: KSOT Siap Diproduksi Massal Mulai 2026

Photo Author
Stefy Thenu, Suara Pembaruan
- Minggu, 16 November 2025 | 15:57 WIB
Menyoroti rencana kapal selam tanpa awak di Indonesia yang akan diproduksi massal pada tahun 2026 mendatang. (Dok. Kemhan RI)
Menyoroti rencana kapal selam tanpa awak di Indonesia yang akan diproduksi massal pada tahun 2026 mendatang. (Dok. Kemhan RI)


Jakarta, SUARA PEMBARUAN - Pemerintah Indonesia di bawah Presiden Prabowo Subianto kini memberi fokus besar pada penguatan pertahanan laut.

Dengan banyaknya celah perairan yang rawan dimanfaatkan untuk penyelundupan, Kementerian Pertahanan menilai modernisasi alutsista bawah laut menjadi urgensi nasional.

Salah satu langkah strategis terbaru adalah pengembangan Kapal Selam Tanpa Awak (KSOT) yang ditargetkan diproduksi massal di dalam negeri.

Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin mengungkapkan bahwa Indonesia sudah memasuki tahap uji coba, dengan prototipe KSOT telah diuji di Dermaga Ujung Koarmada II Surabaya.

“Kapal selam autonomous yang kami namakan KSOT sudah dicoba, dan akan diproduksi massal di PT PAL mulai 2026,” ujar Sjafrie dalam pernyataannya saat penerbangan menuju Aceh, Minggu, 16 November 2025.

KSOT dirancang untuk memperkuat pemantauan wilayah perairan yang rentan penyelundupan, sesuai karakter Indonesia sebagai negara kepulauan.

Drone selam ini dapat menyelam hingga enam bulan tanpa kembali ke permukaan dan dilengkapi torpedo.

Menurut Sjafrie, anak bangsa sudah mampu memproduksi kapal selam autonomous yang efisien dan berdaya tempur tinggi.

Selain KSOT, pemerintah juga terus memperkuat armada permukaan, termasuk dengan kehadiran KRI Brawijaya 320 yang kini menjadi fregat terbesar di Asia Tenggara.


Langkah Indonesia ini menarik untuk disejajarkan dengan negara-negara yang lebih dulu mengembangkan drone selam.

• KSOT Indonesia
Mampu beroperasi enam bulan, dilengkapi torpedo, dan dirancang untuk misi intelijen, pengawasan, hingga pemantauan daerah strategis.

• Orca – Amerika Serikat
AS tengah mengembangkan Ocean Explorer (OEX), drone bawah laut berukuran besar dengan payload modular. Program ini berjalan paralel dengan LDUUV dan XLUUV yang dipimpin Boeing, dengan fokus pada kemampuan jelajah jauh dan sensor canggih untuk mendukung operasi di Indo-Pasifik.

• Poseidon – Rusia
Poseidon adalah torpedo nuklir raksasa yang dibawa kapal selam Khabarovsk. Senjata ini digadang mampu memicu tsunami radioaktif dan menjadi salah satu aset paling kontroversial dalam peta pertahanan bawah laut dunia.

• Kapal Selam XXL – China
China menjadi negara paling agresif dengan pengujian dua drone selam raksasa sepanjang 40 meter yang beroperasi melalui floating dock rahasia. Ukurannya mendekati kapal selam konvensional sehingga masuk kategori XXLUUV, menunjukkan ambisi besar China untuk mendominasi peperangan bawah laut.

Halaman:

Editor: Stefy Thenu

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X