Pada sesi paparan yang masing-masing berdurasi 45 menit, TEP memaparkan beragam temuan lapangan. Beberapa isu utama yang mengemuka antara lain:
Kerusakan dan keterbatasan infrastruktur jalan di kawasan transmigrasi
Belum terbentuknya kelompok tani dan koperasi desa, yang penting untuk distribusi pupuk dan sarana produksi
Komoditas pertanian tidak sepenuhnya sesuai dengan kesesuaian lahan
Dominasi lahan kelas S3 (sesuai marginal) di KT Tanabang, sehingga perlu perbaikan besar untuk naik ke S2 (cukup sesuai)
Plh. Sekda Dicky membenarkan temuan tersebut.
“Kendala anggaran menjadi faktor utama. Namun apa yang ditemukan TEP tentu menjadi masukan penting bagi kami untuk menyusun prioritas pembangunan,” ujarnya.
Kegiatan ditutup dengan pesan agar rekomendasi TEP menjadi rujukan kebijakan dan prioritas pembangunan daerah.
Pemkab Ogan Ilir menyampaikan bahwa hasil riset ini akan dijadikan pembelajaran penting, terutama terkait pengembangan SDM transmigran agar kawasan transmigrasi dapat menjadi pusat pertumbuhan ekonomi.
Acara kemudian ditutup dengan penyerahan cenderamata antara perguruan tinggi—ITB, UNDIP, dan UNPAD—dan Pemerintah Kabupaten Ogan Ilir.*