Miskonsepsi lain datang dari lingkungan pendidikan. Banyak guru berpegang pada slogan bahwa “semua anak itu istimewa”. Benar, tetapi kalimat ini sering menutup fakta bahwa anak gifted memiliki kebutuhan belajar berbeda.
Untuk membangun pemahaman lintas sektor, PSGGC aktif menggelar berbagai program; Diskusi publik seperti di JogjaWow, Live edukasi di Instagram, kelas pengenalan gifted untuk guru dan orang tua, konsultasi komunitas, kolaborasi dengan pakar pendidikan dan psikologi. Hal ini bertujuan menyatukan pemahaman antara orang tua, guru, psikolog, terapis, dan pemangku kebijakan. “Kami ingin semua pihak bergerak bersama. Masa depan anak gifted Indonesia bergantung pada seberapa baik kita memahami mereka,” pungkas Patricia.
PSGGC berkomitmen untuk terus menjadi rumah yang aman, suportif, dan informatif bagi keluarga dengan anak gifted. Mereka berharap semakin banyak pihak yang memahami bahwa anak gifted bukan hanya “pintar”, tetapi memiliki dinamika perkembangan yang kompleks. Dengan pendampingan yang tepat—di rumah, sekolah, dan lingkungan profesional—anak gifted tidak hanya mampu bertahan, tetapi dapat bersinar dan memberi kontribusi besar bagi masyarakat.