pendidikan

PSGGC Jogja Dorong Literasi Gifted Ungkap Mitos dan Buka Ruang Aman Bagi Anak Berbakat di Indonesia

Sabtu, 29 November 2025 | 17:30 WIB
3 founder PSGGC jogja (Philipus Anton)

Yogyakarta, SUARA PEMBARUAN– Stigma dan kesalahpahaman terhadap anak-anak berbakat atau gifted masih mengakar kuat di masyarakat Indonesia. Dari disamakan dengan autisme, dianggap “anak jenius yang pasti mudah sekolah”, hingga dipersepsikan tidak membutuhkan pendampingan khusus. Situasi ini mendorong PSGGC (Parents Support Group for Gifted Children) Jogja untuk terus menggerakkan edukasi publik tentang apa itu “giftedness” dan bagaimana anak-anak ini seharusnya dipahami.

Dalam diskusi publik bertajuk Understanding Gifted Children yang berlangsung Sabtu (29/11/2025) di acara Jogja Wow Inacraft, Yogyakarta, salah satu pendiri PSGGC Jogja, Patricia Lestari Taslim, S.Pd, M.Pd menegaskan bahwa istilah gifted sendiri masih belum benar-benar dipahami masyarakat.

“Banyak yang menyamakan anak gifted dengan autisme. Padahal meski ada irisan di beberapa anak, keduanya berbeda baik dalam karakteristik maupun kebutuhan pendampingannya,” ujar Patricia di hadapan peserta diskusi.

Patricia menjelaskan bahwa anak gifted termasuk dalam kategori Anak Berkebutuhan Khusus (ABK), namun berbeda dari ABK lainnya. Bila ABK umumnya dikenali karena hambatan yang terlihat secara fisik atau perilaku, anak gifted justru memiliki hambatan karena kelebihan yang mereka miliki.

Ciri-ciri gifted biasanya mencakup, kemampuan intelektual di atas rata-rata, termasuk IQ tinggi., Kreativitas kuat dan kemampuan berpikir kompleks sejak kecil, komitmen terhadap tugas (task commitment) yang tak lazim untuk anak seusia, sensitivitas emosi dan empati yang lebih dalam.

Namun, keunggulan itu sering memunculkan tantangan besar. “Di kelas, mereka bisa bertanya tanpa henti karena rasa ingin tahunya ekstrem. Mereka dianggap mengganggu, padahal itu cara alami mereka belajar,” tambah Patricia. Selain itu, pola pikir mereka kadang melompat jauh sehingga sulit mengikuti metode belajar konvensional. Akibatnya, banyak anak gifted justru distigma sebagai pembangkang, sulit diatur, atau tidak bisa bekerja dalam kelompok.

PSGGC Jogja bermula dari sekelompok kecil orang tua yang memiliki anak gifted dan merasa tidak memiliki tempat berbagi. Mereka menghadapi kebingungan yang sama: anak terlihat sangat cerdas, tetapi kesulitan bersosialisasi; mampu menyerap pelajaran cepat, tetapi mudah frustrasi; memiliki minat mendalam, tetapi dianggap aneh oleh lingkungan.

Saat ini PSGGC telah ada di berbagai kota mulai dari Jakarta, Bandung, Surabaya, hingga Kalimantan. Bahkan ada anggota dari luar negeri, seperti Thailand dan Dubai, menandakan kebutuhan terhadap literasi gifted sangat luas. “Kami menyadari bahwa isu giftedness ini bukan persoalan satu kota, melainkan terjadi di banyak tempat. Banyak orang tua butuh pendampingan dan ruang aman,” jelas Patricia.

Beberapa waktu lalu, isu anak gifted menjadi sorotan setelah pemberitaan massif dari salah satu media nasional. Meski liputan tersebut membuka mata banyak orang, masih banyak masyarakat yang keliru memahami konteksnya. Patricia menekankan bahwa “ tantangan anak gifted tidak selalu tampak. Sistem kerja otak mereka unik, kompleks, dan cepat—tetapi tidak terlihat secara fisik”.

“Yang sering tampak justru hambatan penyertanya seperti, masalah interaksi sosial, kesulitan mengelola emosi, sensitivitas tinggi terhadap suara atau konflik, kecenderungan overthinking, rentan mengalami kecemasan” “Hambatan-hambatan ini membuat mereka mudah menjadi korban bullying, terutama ketika lingkungan pendidikan tidak memahami kebutuhan mereka” imbuhnya

Dalam kegiatannya, PSGGC juga menemukan kasus orang tua yang merasa tersesat karena mendapatkan penanganan yang tidak tepat dari sebagian psikolog. Ada yang salah dalam asesmen, ada yang asal memberi label, ada pula yang memberikan intervensi tidak sesuai kebutuhan anak gifted.

Untuk itu, PSGGC menggandeng Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi) DIY untuk mengedukasi publik mengenai; cara memilih psikolog professional, batasan pekerjaan psikolog sesuai kode etik, pentingnya asesmen yang komprehensif dan tidak terburu-buru. Langkah ini diharapkan membuat orang tua lebih sadar dalam memilih pendamping bagi anaknya.

PSGGC menjadi tempat yang sangat dibutuhkan: ruang aman bagi orang tua. Banyak dari mereka awalnya merasa sendiri, bingung, bahkan tertekan menghadapi anak yang “berbeda tetapi tidak tampak berbeda.” “Mendampingi anak gifted sangat menguras energi. Kami ingin orang tua merasa tidak sendirian,” kata Patricia.

PSGGC mengibaratkan anak gifted seperti batu akik yang tampak kusam: jika diasah dengan benar, kilaunya memancar indah. Namun tanpa pendampingan, potensi itu bisa retak atau bahkan hilang.

Halaman:

Tags

Terkini