Semarang, suarapembaruan.news – BINUS University Semarang berkolaborasi dengan Komunitas Diajeng Semarang, Rabu (24/7), menggelar acara 1000 Gen Z Berkebaya bertajuk "Cultural Fusion: Kebaya dalam Kreativitas Gen Z". Acara yang digagas bertepatan dengan Hari Kebaya Nasional, itu merupakan upaya dalam melestarikan kebaya di kalangan generasi milenial dan Gen Z.
"Hari ini, kami berkolaborasi dengan BINUS University Semarang untuk menunjukkan kebaya sebagai identitas budaya yang perlu kita lestarikan, khususnya bagi Gen Z dan kami ingin mengedukasi Gen Z untuk mencintai budaya, khususnya batik dan kebaya,’’ ujar Maya, Founder Komunitas Diajeng Semarang.
Acara ini, kata Maya, digelar di Semarang yang dikenal sebagai kota yang kaya akan sejarah dan budaya, dengan melibatkan 1000 peserta, termasuk siswa, mahasiswa, dosen, dan masyarakat sekitar, untuk bersama-sama merayakan dan merevitalisasi kebaya sebagai bagian dari identitas nasional.
“Bagi kami ini perjuangan sebenarnya untuk menuju hari kebaya nasional untuk disahkan kepres oleh Bapak Jokowi pada Agustus 2023. Ini perjuangan yang panjang. Mengapa kebaya perlu di-Keppres-kan menjadi sebuah hari kebaya nasional. Lalu dikaitkan dengan kegiatan Gen Z bersama BINUS, itu karena ada kesejarahan yang panjang, ada nilai perjuangan, ada keberagaman.
BINUS punya program namanya Character Building. Dan itu benang merahnya kuat banget dengan kegiatan kebudayaan yang sedang kami kerjakan dari tahun 2016 hingga sekarang ini. Jadi ini menurut saya ini adalah semesta bekerja luar biasa pada pergerakan kami dan ditangkap oleh BINUS University. Saya sungguh-sungguh dari lubuk hati yang paling dalam atas nama kegiatan kebudayaan mengucapkan terima kasih kepada BINUS University,’’papar Maya.
Kegiatan terdiri dari beberapa kegiatan yaitu Parade Kebaya yang memamerkan kebaya kutubaru dan jarik motif sogan yang memadukan keanggunan tradisional dengan sentuhan modern. Hal ini membuktikan bahwa kebaya bisa tetap stylish dan relevan bagi generasi muda. Selain itu juga parade kebaya ini mendapatkan Rekor Museum Rekor Indonesia (MURI), karena merupakan pemrakarsa dan penyelenggaraan mengenakan kebaya kutubaru dan jarik motif sogan oleh perempuan terbanyak. Rekor ini diterima langsung oleh Rektor BINUS University yang menandai pencapaian luar biasa dalam upaya pelestarian kebaya.
"Acara ini bukan hanya sekadar perayaan, tetapi juga gerakan untuk menginspirasi generasi muda agar lebih menghargai dan melestarikan warisan budaya Indonesia.
Selain itu juga, membuktikan bahwa kebaya bisa menjadi bagian penting dari identitas kita, bahkan di era modern ini. Mari kita dukung dan apresiasi setiap upaya untuk menjaga kebaya tetap relevan dan menjadi bagian dari pendidikan karakter generasi penrus bangsa,” ungkap Rektor BINUS Dr: Nelly, S.Kom., M.M., CSCA, usai menerima plakat dan piagam penghargaan dari pihak MURI.
Penanggung jawab MURI Semarang, Ari Andriani mengatakan, rekor berkebaya ini sebelumnya pernah tercatat di MURI.
‘’Namun, karena ada kekhususan yakni para pesertanya mengenakan kebaya kutubaru dan motif sogan, maka kami catat sebagai rekor baru. Dari semula peserta hanya 1.000, saat acara berlangsung ternyata lebih, yakni tercatat 1.170 orang,’’ ujar Ari.
Selain parade kebaya dan pemecahan rekor MURI, acara juga diisi talkshow, launching buku, dan kompetisi untuk menunjukkan kreativitas mereka serta membuka wawasan tentang pentingnya kebaya di era modern.
Hal ini menjadi ajang unjuk bakat bagi generasi muda yang ingin berkontribusi dalam pelestarian budaya. Selain itu juga, dalam acara ini dimeriahkan oleh alat musik tradisional asal Sulawesi Utara yaitu Kolintang dan alat musik tradisional asal Jawa yaitu Karawitan.
"Kami berharap melalui acara ini, generasi muda dapat mengenal dan mencintai kebaya sebagai warisan budaya Indonesia yang kaya, sambil mengintegrasikan semangat kolaborasi dan teknologi industri 4.0. Dengan sinergi antara kreator muda, pelaku industri, dan inovasi teknologi, semoga kebaya tetap relevan dan menjadi simbol kebersamaan serta kebanggaan budaya di era modern ini,’’ ujar BINUS University Semarang Campus. Director, Dr. Fredy Purnomo, S.Kom., M.Kom.*
Artikel Terkait
Jalan Sehat Nusantara Pakai Penutup Kepala Khas Daerah Terbanyak Raih Rekor MURI
Satu-satunya di Jawa Tengah, BINUS University @Semarang Jadi Kampus yang Mengusung Teknologi Revolusi Industri 4.0
Hadirkan Borobudur Metaverse, BINUS University Kembangkan Wisata Digital
Gunungan Oleh-Oleh UMKM DIY Pecahkan Rekor Dunia Dan MURI
Cepat Gapai Karir di BINUS @Semarang? Cukup dengan Kuliah 2,5 Tahun