Yogyakarta, SUARAPEMBARUAN – Pusaka atau warisan perkotaan di Indonesia saat ini berada dalam kondisi rentan mengalami kerusakan dan terpinggirkan. Minimnya upaya pelestarian serta tekanan modernisasi dan globalisasi disebut sebagai penyebab utama. Hal ini mengemuka dalam pidato pengukuhan Prof. Ir. Ikaputra, M.Eng., Ph.D., sebagai Guru Besar dalam Bidang Arsitektur Pusaka Perkotaan pada Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada, Kamis (4/6), di Balai Senat UGM.
Dalam pidatonya yang bertajuk Marjinalisasi Arsitektur Pusaka Perkotaan, Ikaputra menjelaskan bahwa pusaka perkotaan merupakan jembatan antara masa lalu dan masa kini. Warisan ini membawa informasi sejarah yang kaya, seperti struktur sosial, kondisi ekonomi, sistem politik, serta kehidupan sehari-hari masyarakat di masa lalu yang terintegrasi dengan tata kota saat ini. Saat ini Indonesia memiliki dua kawasan perkotaan berstatus warisan dunia yang diakui UNESCO, yaitu Sawahlunto dan Yogyakarta. Menurut Ikaputra, status tersebut seharusnya menjadi modal penting bagi pelestarian, namun tanpa perencanaan kota yang baik, pusaka perkotaan justru rentan termarjinalkan dalam kontestasi pembangunan.
Ikaputra menyoroti rentannya pusaka perkotaan saat ini yang disebabkan oleh berbagai macam faktor, seperti usia bangunan yang semakin tua, kelemahan teknis bangunan, pemanfaatan baru tanpa memahami nilai sejarah dan keaslian, serta faktor manusia dan alam. Kerentanan ini, menurutnya, lebih berbahaya dibandingkan waktu-waktu sebelumnya karena perubahan yang terjadi cenderung mengabaikan nilai pelestarian. Ia juga menyoroti kondisi kota-kota yang jauh dari ibu kota dan cenderung terpinggirkan, seperti Amlapura di Bali, Liwa di Lampung, dan Cakranegara di Lombok. Ketiga kota tersebut memiliki keunikan dan kekayaan budaya yang jarang diketahui publik. Beberapa kasus kuatnya pengaruh pemerintah pusat atas daerah karena alasan kebijakan pembangunan ekonomi wilayah dan perkotaan menyebabkan kota-kota bersejarah kita kehilangan identitas, jelasnya.
Lebih lanjut, Ikaputra menyoroti bahwa pusaka arsitektur perkotaan cukup rentan terpinggirkan jika status peninggalan arsitektur tersebut bukan karya arsitek terkenal atau dibangun oleh perusahaan ternama pada zamannya. Daya tarik visual yang menonjol karena dimensi atau skala bangunan menempatkan bangunan besar memojokkan bangunan kecil, walaupun nilai autentisitas, sejarah, dan artistiknya sama berharganya. Ia menekankan pentingnya membangun empati atas pusaka-pusaka yang terpinggirkan tersebut, terutama di dunia yang bergerak cepat dengan segala tantangan modernisasi dan globalisasi. Berempati kepada warisan budaya perkotaan bukan sekadar tindakan sentimental, melainkan kebutuhan rasional untuk menjaga keberlanjutan peradaban kota dan identitas sosial, ekonomi, politik, dan budaya masa lalu yang terpadu dengan struktur spasial dan kehidupan perkotaan saat ini, ingatnya.
Menurut Ikaputra, kota-kota bersejarah sebagai warisan budaya yang memiliki nilai sosial, budaya, ekonomi, dan historis kini menghadapi tekanan besar akibat modernisasi dan globalisasi. Karena itu, pelestarian, perlindungan, dan pengelolaan warisan perkotaan secara berkelanjutan menjadi syarat penting dalam pembangunan kota. Ketua Dewan Guru Besar UGM, Prof. Dr. M. Baiquni, M.A., menyebutkan bahwa Prof. Ikaputra merupakan salah satu dari 544 Guru Besar aktif di UGM. Di tingkat fakultas, beliau adalah satu dari 86 Guru Besar aktif dari total 112 Guru Besar yang pernah dimiliki Fakultas Teknik UGM.
Artikel Terkait
Indonesia Desak Rapat Darurat PBB Usai Tewasnya Pasukan Perdamaian di Lebanon
PBB Dorong DPD-RI Percepat Pencapaian SDGs
Eks Kepala BGN Dadan Hindayana Ditahan Kejagung, Kasus Dugaan Jual Beli Titik Dapur MBG Memanas
Usai Jadi Tersangka Korupsi MBG, Unggahan Terakhir Sony Sonjaya untuk Nanik S Deyang Jadi Sorotan
Polres Kepahiang dan Instansi Terkait Tangani Cepat Keluhan Kesehatan Penerima MBG