Desakan Kebutuhan Energi Alternatif, UGM Kembangkan Minyak Nyamplung dan Malapari

Photo Author
Philipus Anton, Suara Pembaruan
- Kamis, 16 April 2026 | 12:38 WIB
nyamplung (Calophyllum inophyllum)dok. ist
nyamplung (Calophyllum inophyllum)dok. ist

Yogyakarta, SUARA PEMBARUAN - Gejolak konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang memanas di kawasan Timur Tengah kian menekan stabilitas pasokan energi global. Penutupan jalur strategis di Selat Hormuz membuat distribusi minyak mentah dunia terganggu, memicu kelangkaan serta lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM). Kondisi ini menjadi pukulan bagi negara-negara importir energi, termasuk Indonesia, yang harus menjaga ketersediaan pasokan tanpa membebani masyarakat dengan kenaikan harga.

Di tengah tekanan tersebut, langkah pemerintah untuk membuka peluang impor dari Rusia melalui kunjungan Presiden Prabowo Subianto menjadi salah satu solusi jangka pendek. Namun di sisi lain, kalangan akademisi menilai situasi ini justru mempertegas kebutuhan mendesak Indonesia untuk segera beralih ke sumber energi alternatif yang lebih mandiri dan berkelanjutan.

Guru Besar Kimia dari Universitas Gadjah Mada, Prof. Wega Trisunaryanti, menilai krisis akibat konflik global seharusnya menjadi momentum strategis bagi Indonesia untuk mengurangi ketergantungan pada energi fosil impor. Ia menekankan pentingnya pengembangan bahan bakar berbasis nabati non-pangan sebagai solusi jangka panjang.

Menurutnya, tanaman seperti nyamplung (Calophyllum inophyllum) dan malapari (Pongamia pinnata) memiliki potensi besar sebagai bahan baku biofuel. Kedua tanaman ini tumbuh melimpah di berbagai wilayah Indonesia dan tidak bersaing dengan kebutuhan pangan, sehingga sangat ideal untuk dikembangkan sebagai sumber energi alternatif.

“Dalam situasi seperti sekarang, kita tidak bisa terus bergantung pada impor BBM. Sumber daya lokal seperti minyak nyamplung dan malapari harus mulai dimanfaatkan secara serius untuk mendukung kemandirian energi,” ujarnya, Kamis (16/4).

Tak hanya untuk kendaraan darat, pengembangan biofuel dari kedua tanaman tersebut juga dinilai strategis untuk sektor aviasi. Penelitian yang tengah dilakukan menunjukkan potensi pengolahan minyak nabati menjadi Sustainable Aviation Fuel (SAF), bahan bakar ramah lingkungan yang semakin dibutuhkan secara global seiring upaya pengurangan emisi karbon.

Meski demikian, Wega mengingatkan bahwa peralihan ke bahan bakar alternatif tidak bisa dilakukan secara instan. Penggunaan biofuel harus disesuaikan dengan spesifikasi mesin yang ada agar tidak menimbulkan kerusakan dalam jangka panjang. Oleh karena itu, riset mendalam dan uji coba teknis tetap menjadi prasyarat utama sebelum implementasi secara luas.

Di sisi lain, ia juga menyoroti tantangan dalam dunia penelitian di Indonesia yang masih cenderung berjalan secara terpisah. Kolaborasi antarpeneliti dan institusi dinilai belum optimal, terutama dalam mendorong hilirisasi hasil riset ke sektor industri.

“Banyak penelitian berhenti di tahap akademik dan tidak berlanjut ke produksi massal. Padahal, dalam kondisi krisis energi seperti sekarang, hasil riset harus bisa segera dimanfaatkan,” jelasnya.

Menurut Wega, peran pemerintah sangat krusial dalam menjembatani riset dan industri. Dukungan kebijakan, pendanaan, serta ekosistem hilirisasi menjadi kunci agar inovasi energi terbarukan tidak hanya berhenti sebagai wacana.

Selain pengembangan teknologi, ia juga menekankan pentingnya perubahan perilaku masyarakat dalam penggunaan energi. Penghematan BBM, penggunaan transportasi umum, serta kepatuhan terhadap kebijakan efisiensi energi dinilai dapat membantu mengurangi tekanan terhadap konsumsi nasional.

Lebih jauh, Wega mendorong pengembangan berbagai sumber energi terbarukan lainnya seperti tenaga angin, air, dan matahari, termasuk teknologi fuel cell yang mampu mengubah energi kimia menjadi listrik secara efisien dan ramah lingkungan.

Saat ini, ia bersama timnya terus mengembangkan riset katalis berbasis nanosilika, zeolit, dan graphene oxide untuk mengolah biomassa menjadi biofuel, termasuk bio-jet fuel. Upaya ini menjadi bagian dari kontribusi ilmiah dalam menjawab tantangan krisis energi global yang semakin nyata.

“Perang dan konflik global menunjukkan betapa rentannya ketergantungan kita pada energi fosil. Indonesia harus bergerak cepat menuju energi bersih dan mandiri,” tegasnya.

Editor: Philipus Anton

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X