Semarang, SUARA PEMBARUAN – Guru senior di Kota Semarang, Sri Hartono, menyoroti masih lemahnya keberpihakan negara terhadap guru dan tenaga kependidikan (tendik) honorer. Padahal, pendidikan selalu disebut sebagai prioritas dalam berbagai pidato dan kebijakan pemerintah.
Sri Hartono menilai negara kerap memetik hasil kerja guru, namun enggan memahami kehidupan dan kesejahteraan mereka, khususnya guru honorer yang telah mengabdi puluhan tahun.
“Guru honorer memikul tanggung jawab yang sama dengan guru tetap, tetapi perlakuannya jauh berbeda. Negara belajar dari guru, tapi tidak mau belajar tentang guru,” kata Sri Hartono, Selasa (22/1).
Ia menyebutkan, upah yang rendah, status kerja yang tidak pasti, serta masa depan yang kabur masih menjadi persoalan utama guru honorer di berbagai daerah, termasuk di Jawa Tengah.
Menurutnya, kontras kebijakan terlihat saat pemerintah dengan cepat menyiapkan skema kepegawaian untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG), sementara penyelesaian status guru honorer terus tertunda.
“Kalau negara bisa cepat untuk program baru, seharusnya pengabdian guru honorer yang puluhan tahun juga bisa dihargai secara adil,” tegasnya.
Sri Hartono menegaskan, pengabaian terhadap guru honorer berpotensi melemahkan fondasi pendidikan nasional. Ia mengingatkan, konstitusi mewajibkan negara mencerdaskan kehidupan bangsa, termasuk menjamin keadilan bagi para pendidik.
“Cara negara memperlakukan guru hari ini akan menentukan masa depan pendidikan dan martabat bangsa,” pungkasnya.*
Artikel Terkait
Honorer Non Data Base Pemprov Bengkulu Gelar Aksi Damai Minta Kejelasan Nasib
Gubernur Bengkulu Tegaskan Usulan Honorer R4 Jadi PPPK Sudah Diteken
Gubernur Bengkulu Setuju Insentif Guru Honorer Guru dan Staf Pengajar Naik 2026
Viral! Guru Honorer Bandingkan Gaji dengan Sopir MBG, Curhatannya Bikin Haru
Razia Rambut Berujung Pidana, Guru Honorer Jambi Curhat Pilu ke DPR