Negara Nikmati Kerja Guru, Tapi Lupa Menjamin Kesejahteraannya

Photo Author
Stefy Thenu, Suara Pembaruan
- Kamis, 22 Januari 2026 | 11:10 WIB
Sri Hartono, guru senior di Kota Semarang  (dokpribadi )
Sri Hartono, guru senior di Kota Semarang (dokpribadi )



Semarang, SUARA PEMBARUAN – Guru senior di Kota Semarang, Sri Hartono, menyoroti masih lemahnya keberpihakan negara terhadap guru dan tenaga kependidikan (tendik) honorer. Padahal, pendidikan selalu disebut sebagai prioritas dalam berbagai pidato dan kebijakan pemerintah.

Sri Hartono menilai negara kerap memetik hasil kerja guru, namun enggan memahami kehidupan dan kesejahteraan mereka, khususnya guru honorer yang telah mengabdi puluhan tahun.

“Guru honorer memikul tanggung jawab yang sama dengan guru tetap, tetapi perlakuannya jauh berbeda. Negara belajar dari guru, tapi tidak mau belajar tentang guru,” kata Sri Hartono, Selasa (22/1).

Ia menyebutkan, upah yang rendah, status kerja yang tidak pasti, serta masa depan yang kabur masih menjadi persoalan utama guru honorer di berbagai daerah, termasuk di Jawa Tengah.
Menurutnya, kontras kebijakan terlihat saat pemerintah dengan cepat menyiapkan skema kepegawaian untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG), sementara penyelesaian status guru honorer terus tertunda.

“Kalau negara bisa cepat untuk program baru, seharusnya pengabdian guru honorer yang puluhan tahun juga bisa dihargai secara adil,” tegasnya.

Sri Hartono menegaskan, pengabaian terhadap guru honorer berpotensi melemahkan fondasi pendidikan nasional. Ia mengingatkan, konstitusi mewajibkan negara mencerdaskan kehidupan bangsa, termasuk menjamin keadilan bagi para pendidik.

“Cara negara memperlakukan guru hari ini akan menentukan masa depan pendidikan dan martabat bangsa,” pungkasnya.*

Editor: Stefy Thenu

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X