“Di tengah kabut Dempo, seorang pemuda berdiri di kebun kopi peninggalan kakeknya. Ia menemukan Al-Qur’an tua dalam kotak kayu kecil. Tulisan di dalamnya sudah pudar, tapi catatan tangan sang kakek masih terbaca: ‘Kopi dan dakwah, keduanya harus hangat.’” (Berupa Kiasan, sering diungkapkan para penyair)
4. Lubuklinggau: Di Antara Sungai, Air Terjun, dan Jejak Kolonial
Lubuklinggau dahulu menjadi tempat persembunyian para pejuang kemerdekaan. Di balik hutan dan sungainya, mereka bersembunyi, menyiapkan perlawanan terhadap kolonial. Banyak gua dan lubuk yang menjadi saksi bisu pelarian para tokoh perjuangan.
“Seorang kakek penjaga air terjun Temam pernah berkata: ‘Di balik batu besar itu, dulu ada pejuang kita bersembunyi. Mereka lapar, tapi tidak takut. Karena bagi mereka, tanah ini lebih berharga daripada nyawa.’”
Kini, tempat itu menjadi wisata. Tapi bagi yang peka, desir airnya masih membawa semangat juang.
5. Ogan dan Banyuasin: Hutan, Danau, dan Hikmah dari Air
Di Ogan Komering Ilir dan Banyuasin, hutan dan danau bukan hanya keindahan, tapi juga sekolah alam. Orang-orang dahulu belajar berburu, bersyair, dan bermusyawarah di tepian sungai.
Danau-danau di sana menyimpan cerita mistis, tapi juga nilai filosofis. Seperti Danau Ulak Lia, yang dipercaya masyarakat sebagai tempat menenangkan jiwa bagi mereka yang gundah.
“Seorang ibu dan dua anak dari Ogan Ilir, bercerita bahwa saat hatinya galau karena ditinggal suami merantau, ia duduk di tepi danau. Seekor bangau putih terbang rendah, lalu menghilang. Saat itu juga ia merasa Allah sedang menenangkannya. Kini, ia mengajar anak-anak mengaji di rumahnya — karena yakin, ketenangan itu harus dibagikan.”
Wisata yang Menyentuh, Rasa yang Mengajarkan
Sumatera Selatan bukan sekadar tempat untuk dikunjungi. Ia adalah kisah yang hidup, rasa yang membentuk jiwa, dan warisan yang perlu dijaga. Dari jejak Sriwijaya yang agung, aroma kopi Dempo yang menyentuh, hingga seruit yang menghangatkan meja makan rakyat — semuanya mengajarkan satu hal: bahwa tanah ini bukan milik kita hari ini saja, tapi juga warisan untuk anak cucu esok hari.
“Jangan hanya datang, tapi dengarkan. Jangan hanya makan, tapi rasakan. Karena Sumatera Selatan bukan sekadar wisata. Ia adalah pelajaran tentang hidup, cinta, dan keberanian menjadi bangsa.”