opini

Debat Bukan Cerdas Cermat !

Rabu, 13 November 2024 | 13:38 WIB
Direktur Eksekutif Of Political Consultant and Strategic Campaign, Nasarudin Sili Luli (Istimewa)

Dengan demikian, data yang disiapkan harus maksimal untuk semua tajuk. Dalam ”bahasa” Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD), sektor pembangunan tentu sangat banyak. Karena keterbatasan waktu, tidak semua sektor dapat dijadikan tajuk debat.

Pemilihan sektor adalah hak prerogatif perancang debat. Dengan data yang lengkap, peserta debat akan siap dengan posisi apa pun, baik dalam posisi pro maupun kontra.

Di sini pemirsa debat harus menyadari bahwa kesiapan data dan penyampaiannya dalam debat menjadi ajang ”jual diri” peserta debat. Hal itu akan menunjukkan dirinya layak dipertimbangkan karena memahami, menguasai, dan menjiwai tajuk, topik. Selain itu, cara menyajikannya pun atraktif, memikat, dan memesona.

Keputusan sepenuhnya di tangan pemirsa. Jika siap dengan data, kita bisa simpulkan peserta debat itu siap. Keseruan bukan pada intonasi suara keras, menggebu-gebu, apalagi teriak, tetapi bagaimana para pihak menyajikan data berkaitan dengan tajuk.

Intonasi itu hanya bumbu. Yang terpenting adalah masakan utamanya. Kalau tanpa bumbu saja sudah enak, tambah bumbu bisa jadi makin lezat atau malah bisa-bisa merusak kaldu.

Kesiapan Data

Perlu diperhatikan, penajaman dan penurunan fokus tajuk debat menjadi kejelian, kecerdasan, dan kepiawaian tim sukses dalam menjabarkan serta menurunkannya sebagai materi debat. Dengan demikian, pembahasan debat itu enak dinikmati, ditonton, dan didiskusikan setelah debat berakhir, baik di kantor, di komunitas, maupun di warung kopi.

Kesiapan akan kelengkapan data turunan tajuk, kesiapan substansi, mental, teknis, dan penguasaan panggung adalah modal utama pelaku debat. Perlu diingat bahwa pemirsa mendengarkan, melihat, dan mencerna setiap kata yang diucapkan, setiap gestur, bahasa tubuh, pandangan mata, dan gerak. Bahkan, pakaian yang dikenakan, potongan rambut, senyum, sampai cara jalan.

Debat bukan forum mengalahkan lawan debat, melainkan memenangkan simpati pendengar atau pemirsa karena cakap dalam mengolah tajuk debat yang diberikan dengan penguasaan masalah, mengolah tajuk dengan menarik, dan menyajikannya dengan pesona.

Ini kompetensi lain yang harus disadari para pelaku debat. Para leluhur mengajarkan agar kita menang tanpa merendahkan martabat yang ”kalah” di arena debat.

Media Kontestasi

Debat adalah media kontestasi untuk mengatakan kepada khalayak, ”Ini lho saya, begini saya. Ini pengetahuan saya. Begini cara saya menyampaikan pendapat, begini cara saya mempertahankan pendapat. Begini cara saya mengambil keputusan, mengatasi emosi, dan lain-lain. Kelak kalau saya jadi kepala daerah , kurang lebih seperti itulah saya.”

Tunjukkan kepemimpinan yang elegan. Kualitas debat diukur dari sejauh mana peserta memiliki pemahaman tentang tajuk, topik, sukses atau gagalnya, cara menyampaikan dan memperdebatkannya.

Demam panggung, sindrom permulaan, atau nervous sepertinya tidak bisa dihindari. Hal itu juga menghinggapi seluruh peserta pada debat yang akan berlangsung selanjutnya.

Pertama, perlu disadari bahwa jutaan pasang mata melihat, menunggu, dan memperhatikan berlangsungnya debat itu. Kedua, sadarilah bahwa debat ini bukan level ”kaleng-kaleng”bukan sepert lomba cerdas cermat . Ketiga, sadarilah dampaknya.Pada debat berikutnya, tentu peserta sudah punya pengalaman sehingga bisa mengatur strategi lebih matang.

Halaman:

Terkini

Sapi Banpres dan Hikmah dari Dusun Ngumpul

Senin, 1 Juni 2026 | 11:20 WIB

Kebijakan Penghematan BBM dari Sisi Transportasi

Senin, 13 April 2026 | 07:05 WIB

“Untal Malang” ke Otonomi Guru

Jumat, 10 April 2026 | 14:27 WIB

Quo Vadis Tata Kelola PNBP Kepelabuhanan

Rabu, 1 April 2026 | 10:24 WIB