opini

Debat Bukan Cerdas Cermat !

Rabu, 13 November 2024 | 13:38 WIB
Direktur Eksekutif Of Political Consultant and Strategic Campaign, Nasarudin Sili Luli (Istimewa)

Oleh.Nasarudin Sili Luli

Dalam debat tidak ada kalah-menang. Yang ada adalah pelaku debat yang menguasai masalah dan tidak menguasai masalah

Kamus Besar Bahasa Indonesia mendefinisikan debat sebagai pertukaran dan pembahasan pendapat terkait suatu hal dengan saling menyampaikan argumentasi atau alasan. Tujuannya mempertahankan pendapat, bahkan memenangkan pendapat. Debat adalah diskusi yang dirancang dan diskenariokan untuk tidak setuju.

Penekanan makna ini perlu dipahami agar debat bisa dibedakan dengan forum sejenis yang lain. Misalnya, diskusi dengan berbagai macam ragamnya, seminar, diskursus, dan lain-lain.Namun dalam pelaksanaan debat kepala daerah baru-baru ini tidak merubanya seperti cerdas cermat pasalnya ,calon kepala daerah yang nota benenya akan menjadi pemimpin daerah tersebut dalam lima tahun kedepan,terlihat begitu gagap ,gugup ,demam panggung bahakan sangat kelihatan jika visi dan misinya hasil dari penjiplakan program pemerintahan kepala daera lain.

Penulis kadang senyum-senyum sendiri saat pemaparan dan pendalaman program oleh calon kepala daerah ,dalam membaca visi dan misipun ,kelabakan dan terkesan sangat tidak siap dan tidak mengusai persoalan atau permasalahan didaerah tersebut.

Padahal dalam merancang debat cukup sederhana. Tentu ada perancangnya, ada para pelaku debat, ada tajuk, dan ada mekanisme. Skenario adalah mekanisme jalannya perdebatan. Pengaturan aktor dan waktu tentu sudah standar. Masuk dalam skenario adalah aturan mekanisme debat.

Debat membahas data dinamakan skillful debate. Jika debatnya asal ingat, disebut raw debate. Siapa yang paling siap dengan data, maka dia paling siap memasuki forum debat dan paling berpotensi memenangkan simpati pemirsa.

Pengalaman, pengetahuan, kompetensi, dan persentuhan peserta debat dengan tajuk debat yang disodorkan tentu sangat memengaruhi kualitas debat yang bersangkutan.

Akan tetapi, data adalah variabel utama. Ingatlah adagium lama, kalau naik panggung tanpa persiapan, turun panggung tanpa penghormatan.

Tata tertib debat dirancang dengan mengambil tajuk (topik besar) tertentu. Bagaimana posisi para pelaku debat? Di sini serunya debat.

Ambil contoh, tajuk kesehatan terkait penanganan stunting . Satu pihak menanggapi topik yang dilemparkan dengan mengatakan, misalnya, sukses. Oleh karena itu, pihak lain mengatakan sebaliknya. Sekali lagi, tentu, bukan asal ingat, tetapi data bicara.

Demikian juga sebaliknya. Jika pihak pertama yang menanggapi mengatakan gagal, maka tidak ada cara lain kecuali pihak lain mengatakan sukses, lagi-lagi data sebagai fondasinya, demikian juga variasinya. Misalnya, sebagian sukses, sebagian gagal. Oleh karena itu, kesiapan data adalah keniscayaan.

Apakah peserta debat sudah tahu akan tajuk debat? Sepertinya sudah. Akan tetapi, lebih detail tentang topiknya, saya tidak tahu. Itu hanya sekadar contoh kecil untuk dapat mendeskripsikan proses debat.

Subtansi debat

Mengapa debat dikatakan seru? Pertama, karena peserta debat buta akan topik yang akan diperdebatkan. Paling banter hanya menduga-duga dan harus diskenariokan begitu. Yang diketahui hanya tajuk besar, misalnya kesehatan, pertanian, urusan luar negeri, pertahanan, dan lain-lain.

Halaman:

Terkini

Sapi Banpres dan Hikmah dari Dusun Ngumpul

Senin, 1 Juni 2026 | 11:20 WIB

Kebijakan Penghematan BBM dari Sisi Transportasi

Senin, 13 April 2026 | 07:05 WIB

“Untal Malang” ke Otonomi Guru

Jumat, 10 April 2026 | 14:27 WIB

Quo Vadis Tata Kelola PNBP Kepelabuhanan

Rabu, 1 April 2026 | 10:24 WIB