Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi dengan munculnya media sosial, dimana media sosial saat ini menjadi salah satu rujukan atau sumber informasi bagi warganet/netizen disamping sumber berita mainstream lainnya ( media cetak dan eletronik ),.
Dan muncul fenomena baru, dimana kebenaran atau fakta bisa dikalahkan oleh persepsi, dan diperkuat oleh dukungan para buzzer ( pendengung ) baik buzzer yang asli maupun buzzer yang palsu dengan akun hantunya ( istilah penulis ), yang berselancar di media sosial seperti Whatsapp Group, facebook, X, istagram.
Baca Juga: Puluhan Dosen Politeknik Negeri Malang Studi Banding ke Pabrik Semen Gresik Rembang
Terkini adapula fenomena dimana “keviralan” bisa mengalahkan “ kepakaran “ dimana omongan influencer justru lebih didengar atau dipercaya ketimbang argumen para pakar ( ahli ) dan Era post-truth ini tentunya harus menjadi perhatian dan tantangan bagi para ilmuwan dibidang ilmu ilmu sosial.
Absurdnya perilaku segelintir ilmuwan juga mendorong terjadinya absurdisme itu, dimana ada segelintir ilmuwan yang terkadang bertingkah absurd dengan berganti ganti peran, mis : pagi berbicara sebagai pakar hukum, siang berbicara sebagai politikus dan sore berbicara sebagai lawyer, bahkan terkadang terbelenggu oleh jabatan yang diterima diluar jabatan akademik , yang akhirnya argumentasi yang disampaikan menimbulkan bias dan terjadinya penggadaian idealisme.
Baca Juga: Andalan Hati Bertekad Lipatgandakan UMKM Sulsel Menjadi 3,6 Juta
Padahal Fungsi dan kedudukan manusia didunia ini adalah sebagai khalifah di bumi, yang memiliki tugas yang sangat mulia, dimana manusia harus memiliki kemampuan mengelola alam semesta sesuai amanat yang diemban masing masing.
Siapakah pemenang sampai diakhir dunia , prinsip idealisme atau teori Absurdisme , Wallahu A’lam Bishawab.
Bekasi, 12 November 2024
*Penulis adalah pemerhati sosial