Beberapa pelajaran yang dapat kita ambil dari dua konflik tersebut, khususnya, dan dari pengalaman lain pada umumnya:
Pertama, kita masih hidup di dunia yang belum bebas dari perang dan konflik. Setiap perang selalu mengorbankan mereka yang paling rentan: perempuan, anak-anak, dan orang tua, serta menghancurkan fasilitas publik. Ekonomi lumpuh, kohesi sosial terancam, persatuan masyarakat hilang, dan kehidupan dipenuhi ketidakpastian serta kecemasan. Setiap perang, sekecil apapun, berpotensi meningkat dan melibatkan banyak pihak. Dengan demikian, planet kita tidak pernah benar-benar tenang. Dunia selalu berada di tepi bahaya.
Kedua, kita menghadapi tren baru dalam peperangan modern. Perang besar kini tidak hanya terjadi antarnegara, tetapi juga antara negara dan aktor non-negara, seperti Hamas melawan Israel.Namun bentuk perang baru ini dengan mudah dapat berkembang menjadi konflik antarnegara.
Ketiga, senjata berteknologi tinggi kini mudah dimiliki dan dibeli dengan harga murah di pasar terbuka oleh kelompok non-negara. Hal ini jelas mengancam keamanan dan perdamaian global. Negara-negara baru dengan kemampuan berinovasi dan menciptakan senjata menjadi aktor baru dalam hubungan internasional. Kepemilikan senjata kini tidak lagi terbatas pada negara besar — banyak pemain baru muncul. Semakin beragam kepemilikan senjata, semakin besar pula peluang pecahnya perang.
Keterlibatan aktor non-negara dalam perang bahkan bisa lebih berbahaya daripada perang antarnegara, karena mereka merekrut anggota dari seluruh dunia.Hal ini membuka peluang lebih luas bagi banyak negara untuk terseret dalam satu konflik.
Lebih jauh lagi, tantangan terbesar saat ini adalah keterlibatan aktor non-negara dalam peperangan.Mereka membawa ideologi tunggal: utopia yang menumbuhkan intoleransi. Aktor-aktor intoleran ini datang dari berbagai belahan dunia, menyatakan perang terhadap negara, terhadap rakyat biasa, terhadap umat manusia.Ideologi utopia ini menjadi tantangan terbesar bagi kehidupan dan peradaban manusia hari ini.
Keempat, keamanan dan perdamaian di Timur Tengah sangat ditentukan oleh Amerika Serikat.
Semua bergantung pada kebijakan luar negeri presiden negara itu. Amerika Serikat tampak sebagai pemain kunci yang bisa menciptakan perdamaian — atau menyalakan api perang — di Timur Tengah. Kita semua tahu bahwa konflik paling rumit di dunia adalah konflik Israel–Palestina. Ia melibatkan isu agama (Islam vs Yudaisme), ras (Arab vs Yahudi), perebutan wilayah, sejarah, dan banyak hal lain. Perang ini memiliki banyak motif, sehingga mudah melibatkan banyak negara dan aktor non-negara. Faktanya, Israel saat ini berperang melawan Hamas, Hezbollah, dan Houthi — semuanya aktor non-negara.
Kelima, solusi bagi konflik Israel–Palestina hanya ada satu: solusi dua negara (two-state solution). Masing-masing pihak harus saling mengakui keberadaan yang lain. Namun apapun jalannya, perdamaian harus dimulai dengan rekonsiliasi antara Hamas dan Al Fatah. Tanpa rekonsiliasi dua kelompok besar ini, jalan menuju perdamaian tidak akan pernah terbuka.Tahun lalu, saya sempat mendekati tahap ini, tetapi Israel membunuh Ismail Haniyeh.
Saya telah bertemu dengannya, dan ia meminta saya untuk menengahi organisasinya dengan Al Fatah.Tugas dan upaya kita harus difokuskan pada mediasi antara kedua kelompok tersebut.
Haniyeh menjamin kepada saya saat itu, ia sungguh-sungguh bersedia bernegosiasi damai dengan Al Fatah. Inilah arah yang harus kita tempuh bersama. Berkali-kali saya tegaskan: Sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, Indonesia tidak pernah mengubah posisinya. Jika Israel mengakui Palestina sebagai negara merdeka dan berdaulat, maka Indonesia akan segera mengakui Israel sebagai negara merdeka dan berdaulat.
Keenam, sebagaimana pengalaman Indonesia beberapa tahun lalu, kita pernah mengalami dua konflik horizontal di dua provinsi berbeda: Muslim melawan Kristen. Pertikaian itu berdarah dan mematikan. Kita belajar bahwa konflik agama adalah salah satu yang paling sulit diselesaikan.
Setiap pihak mengklaim berjuang demi keadilan dan membela keyakinannya. Mereka percaya bahwa membunuh lawan akan membawa mereka ke surga.
Saya berdiri sendirian, mewakili negara, dan menyatakan dengan tegas:“Tidak satu pun dari kalian akan masuk surga. Kalian semua akan masuk neraka karena tidak ada agama yang membenarkan pembunuhan terhadap sesama manusia.”
Saya mengubah cara berpikir mereka.
Agama selalu memiliki pengikut — dan banyak di antara mereka bersifat irasional, fanatik, dan fundamentalis.Mudah sekali memprovokasi mereka untuk berperang. Selain itu, setiap agama memiliki konsep sendiri tentang surga. Provokator dapat memanipulasi keyakinan ini untuk menyalakan perang.
Pernah saya katakan secara tegas: Konflik agama di berbagai belahan dunia terjadi karena surga telah dijadikan komoditas, tunduk pada hukum ekonomi: permintaan dan penawaran.
Mereka menjual imannya dengan sangat murah.
Tugas kita adalah mengubah paradigma ini.
Iman itu suci, dan tidak boleh digunakan untuk tujuan yang kotor.
Bentuk konflik lain yang sulit diselesaikan adalah konflik etnis dan ras. Beberapa dekade lalu, kita belajar dari Afrika: konflik antara Hutu dan Tutsi di Burundi menewaskan jutaan jiwa. Etnis dan ras bersifat tetap dan tidak dapat diubah. Seseorang bisa berpindah agama, tapi tidak bisa mengubah etnis atau rasnya. Karena itu, konflik berbasis etnis dan ras bisa dianggap permanen.