MENGAPA PERDAMAIAN

Photo Author
M Kiblat Said, Suara Pembaruan
- Selasa, 28 Oktober 2025 | 10:25 WIB
H.M.Jusuf  Kalla
H.M.Jusuf Kalla


Oleh H.M. Jusuf Kalla

Kita memiliki sebuah pepatah: “Dalam keadaan damai, anak-anak menguburkan ayah mereka karena sebab-sebab alami. Dalam perang atau konflik, ayah menguburkan anak-anaknya karena sebab-sebab buatan manusia.” Hanya perdamaian, bukan perang, yang dapat menunjukkan keindahan masa depan.

Akar penyebab perang beragam dan berubah seiring waktu. Namun para ahli menemukan ada tiga penyebab utama, yang dikenal sebagai 3 G: God, Glory, dan Gold. God (Tuhan) berkaitan dengan agama, keyakinan, dan ideologi. Glory (Kemuliaan) berhubungan dengan perasaan superioritas dan supremasi. Gold (Emas) menunjuk pada alasan ekonomi: keserakahan, monopoli, dan kepemilikan.

Apa pun motifnya, perang selalu mengorbankan nyawa manusia. Perang selalu membelah masyarakat menjadi “Kami” dan “Mereka.” Selalu ada garis pemisah yang tidak dapat didamaikan, yang menghalangi harmoni kehidupan. Manusia saling curiga. Mereka berkomunikasi dalam diam karena tidak dapat mempercayai siapa pun. Masyarakat hidup dalam suasana saling mencurigai.

Pada 24 Februari 2022, dunia terkejut. Rusia menyerang Ukraina. Dengan menginvasi, menduduki, dan mencaplok sebagian wilayah negara berdaulat lain, Rusia membuat dunia lebih waspada terhadapnya.

Negara ini benar-benar menunjukkan bahwa mereka ingin dipertimbangkan kembali sebagai negara adidaya — supremasi yang hilang setelah runtuhnya komunisme. Seingat saya, serangan ini adalah yang pertama terjadi di Eropa sejak Perang Dunia II.

Hingga kini, perang antara kedua negara masih berlanjut, terlepas dari berapa banyak nyawa yang telah hilang. Pada awalnya, NATO membentuk koalisi militer yang solid di antara para anggotanya untuk membantu Ukraina. Dunia dibayangi oleh potensi perang besar antar negara kuat di Eropa.

Tak seorang pun dapat memprediksi kapan perang akan berakhir. Ini adalah perang antar negara.
Pada 7 Oktober 2023, kekerasan kembali pecah di Timur Tengah. Hari itu, kelompok Hamas mempermalukan militer Israel dengan menyerang secara tiba-tiba. Israel tidak siap menghadapi serangan itu, sehingga supremasi militernya tampak lumpuh. Sebagai balasan, Israel melancarkan serangan besar-besaran ke Gaza.
Gaza berubah menjadi ladang pembantaian, tempat nyawa manusia kehilangan martabat.

Israel menghancurkan Gaza sepenuhnya.
Pasukan militernya membunuh secara sewenang-wenang dan membabi buta penduduk sipil. Sebagian warga meninggal karena kekurangan makanan dan obat-obatan akibat blokade Israel terhadap bantuan kemanusiaan dari luar.
Iran ikut terlibat dengan menyerang Israel.

Sebagai tanggapan, Amerika Serikat menyerang Iran untuk melumpuhkan kemampuan nuklirnya. Dalam beberapa minggu, Israel melancarkan serangan ke Qatar untuk menargetkan para pemimpin Hamas yang berkantor di Doha. Seluruh dunia mengecam Israel. Negara-negara Arab bersatu dan bersiap menghadapi Israel. Bahkan Mesir mengusulkan pembentukan aliansi militer untuk melawan Israel.

Timur Tengah menjadi kawasan bertegangan tinggi, penuh kecemasan dan ketidakpastian.
Kecaman terhadap Israel tidak menghentikan pembantaian dan genosida di Gaza.
Setiap bangsa beradab berduka atas tragedi kemanusiaan ini.

Amerika Serikat mengambil inisiatif menekan Israel dan memberi ultimatum kepada Hamas untuk bernegosiasi demi gencatan senjata.
Langkah itu berhasil. Kini, Presiden Trump telah membuka jalan menuju penyelesaian perang antara Rusia dan Ukraina kemungkinan besar akan berhasil.

Sejak awal konflik, saya selalu menyuarakan dengan lantang dan jelas:
“Hanya Presiden Trump, Netanyahu, dan para pemimpin Hamas yang dapat menghentikan perang dan menyelamatkan nyawa di Gaza. Tidak ada yang lain.”

Faktanya, jika Amerika Serikat tidak mau menghentikan perang, maka perang akan terus berlanjut. Jika Amerika Serikat tidak mau menyelamatkan nyawa manusia di Gaza, maka rakyat akan terus mati.Saya benar: gencatan senjata bisa dicapai karena Presiden Trump memiliki tekad untuk mewujudkannya.

Kini, Presiden Trump telah membuka jalan menuju penyelesaian perang antara Israel dan Hamas, serta Rusia dan Ukraina — kemungkinan besar akan berhasil.

Halaman:

Editor: M Kiblat Said

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Rekomendasi

Terkini

Sapi Banpres dan Hikmah dari Dusun Ngumpul

Senin, 1 Juni 2026 | 11:20 WIB

Kebijakan Penghematan BBM dari Sisi Transportasi

Senin, 13 April 2026 | 07:05 WIB

“Untal Malang” ke Otonomi Guru

Jumat, 10 April 2026 | 14:27 WIB

Quo Vadis Tata Kelola PNBP Kepelabuhanan

Rabu, 1 April 2026 | 10:24 WIB
X