Mbak Ita Wariskan Kearifan Lokal dan Prinsip Keberlanjutan yang Mengubah Kota Semarang

Photo Author
Stefy Thenu, Suara Pembaruan
- Selasa, 18 Februari 2025 | 18:33 WIB
Mbak Ita saat menerima ucapan selamat jalan dari para ASN Pemkot Semarang dalam acara pamitan di halaman balai kota Semarang.
Mbak Ita saat menerima ucapan selamat jalan dari para ASN Pemkot Semarang dalam acara pamitan di halaman balai kota Semarang.

Semarang, SUARA PEMBARUAN – Pemerintah Kota Semarang di bawah kepemimpinan Wali Kota Hevearita Gunaryanti Rahayu yang akrab disapa Mbak Ita, terus berinovasi dalam membangun ketahanan pangan berbasis kearifan lokal dan keberlanjutan lingkungan. Salah satu inisiatif unggulannya adalah revitalisasi lahan tidur terdampak rob melalui penerapan teknologi padi biosalin, yang telah menghidupkan kembali 20 hektare lahan pertanian di pesisir Kecamatan Tugu.Baca Juga: Pamit Undur Diri, Mbak Ita: Maturnuwun telah Bersama-sama Membangun Kota Semarang

Padi biosalin merupakan varietas unggul yang mampu tumbuh di lahan dengan kadar garam tinggi akibat intrusi air laut. Keberhasilan program ini menegaskan komitmen Semarang dalam membangun sistem pertanian yang tidak hanya produktif dan berdaya saing, tetapi juga berkelanjutan dan ramah lingkungan.

Kolaborasi Pemerintah dan Masyarakat untuk Masa Depan Pertanian

Keberhasilan program ini tidak terlepas dari sinergi multi-pihak, termasuk BRIN, Universitas Diponegoro (Undip), kelompok tani lokal, dan industri terkait. Salah satu petani di Kelurahan Mangunharjo, Bahrun (50), Ketua Kelompok Tani Sumber Rejeki, mengungkapkan bahwa padi biosalin telah mengubah kehidupan petani yang sebelumnya terdampak rob.

"Dulu sawah kami tidak bisa ditanami karena air asin. Dengan adanya padi biosalin, panen kami meningkat hingga 50 persen. Kami berharap program ini bisa diperluas ke daerah lain yang menghadapi masalah serupa," ujar Bahrun.

Lokasi utama implementasi program ini berada di Kelurahan Mangunharjo, Kecamatan Tugu, yang kini menjadi model pertanian berkelanjutan bagi daerah pesisir lainnya seperti Mangkang Kulon dan Mangkang Wetan.

Padi Biosalin: Teknologi Berkelanjutan yang Menjadi Perhatian Nasional

Program padi biosalin pertama kali diuji coba pada Juli 2024 di area seluas 2.800 meter persegi. Keberhasilannya mendorong ekspansi hingga 20 hektare pada musim tanam Desember 2024 – April 2025. Inovasi ini bahkan mendapat apresiasi dari Mantan Presiden RI Joko Widodo, yang secara langsung meninjau implementasi program pada 18 Januari 2025.

Berikut keunggulan utama padi biosalin yang menjadikannya solusi berkelanjutan bagi pertanian pesisir:
✅ Tahan Air Payau dan Rob

Mampu tumbuh di lahan yang terpapar air asin, menjadikannya solusi ideal bagi pertanian di pesisir.

✅ Hasil Panen Lebih Tinggi

Produktivitas mencapai 5–6 ton per hektare, lebih tinggi dibanding varietas padi konvensional.

✅ Ramah Lingkungan

Lebih tahan terhadap hawar daun bakteri dan kresek hingga 90%, mengurangi ketergantungan petani pada pestisida.

Halaman:

Editor: Stefy Thenu

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Polda Sulsel Tindak Penyalahgunaan BBM Subsidi

Selasa, 2 Juni 2026 | 20:25 WIB
X