Fenomena 'Lipstick Effect' Libur Imlek : Daya Beli Lesu tapi Banyak Warga yang Liburan

Photo Author
Stefy Thenu, Suara Pembaruan
- Kamis, 30 Januari 2025 | 16:58 WIB
Ilustrasi keramaian masyarakat dalam perayaan liburan Tahun Baru Imlek 2025. (Unsplash.com / Hanny Naibaho)
Ilustrasi keramaian masyarakat dalam perayaan liburan Tahun Baru Imlek 2025. (Unsplash.com / Hanny Naibaho)

SUARA PEMBARUAN - Arus balik liburan Tahun Baru Imlek 2025 menyebabkan kepadatan lalu lintas di Tol Jakarta-Cikampek, pada Rabu, 29 Januari 2025.Baca Juga: Rampingkan Birokrasi dan Hemat Anggaran, Donald Trump Tawarkan Pensiun Dini Bagi PNS AS dengan Pesangon 8 Kali Gaji

Kepadatan kendaraan dari arah Cikampek menuju Jakarta mulai terjadi pada sore hari, sekitar pukul 17.00 WIB petugas mulai melakukan rekayasa lalu lintas contraflow satu lajur dari KM 55 sampai KM 47 di ruas Tol Jakarta-Cikampek.

Padatnya kendaraan arus balik liburan Imlek 2025 itu membuat petugas memperpanjang contraflow satu lajur dari KM 65 sampai KM 47 di ruas Tol Jakarta-Cikampek, pada sekitar pukul 18.00 WIB.Baca Juga: Trump Hentikan Bantuan Medis Obat, Dampak Global: Ancaman HIV/AIDS, Malaria, dan TBC Bakal Meningkat Pesat

Pada masa libur panjang itu, PT Jasamarga Transjawa Tol mengimbau pengguna jalan untuk mengutamakan keselamatan di tengah padatnya kendaraan karena arus balik liburan Imlek 2025.

Terkait kepadatan lalu lintas dalam suasana libur panjang ini, Pakar Bisnis, Profesor Rhenald Kasali menilai masyarakat kini mencari hiburan yang terjangkau dalam rangka mendapatkan kebahagiaan.Baca Juga: Pertamina dan Polda Sulut Teken Perjanjian Penyediaan BBM dan Pelumas Tahun 2025

Rhenald menyoroti masa liburan panjang Imlek 2025 ini membuat tempat-tempat hiburan dipenuhi pengunjung hingga menyebabkan kemacetan.

"Libur panjang, jalanan macet kembali, dan hari libur tahun ini diperkirakan lebih dari 100 hari dalam setahun, banyak libur ditambah sabtu minggu," ujar Rhenald melalui akun Instagram @rhenald.kasali, pada Rabu, 29 Januari 2025.Baca Juga: Hasrul Hasan : KPI Tegas Soal Pelanggaran Siaran, Denda PNBP Diberlakukan

Dari sisi yang lain, pakar bisnis itu juga menyoroti kondisi ekonomi Indonesia yang saat ini diwarnai penurunan daya beli hingga pemutusan hubungan kerja alias PHK.

"Kenapa jalan tetap ramai? Padahal, banyak yang mengatakan daya beli turun, jumlah kelas menengah berkurang, pengangguran banyak, orang kena PHK banyak," tutur Rhenald.

Rhenald menyebut, umumnya masyarakat mencari kemewahan untuk mendapatkan kebahagiaan dengan cara yang terjangkau, yakni melakukan aktivitas liburan.Baca Juga: Pertamina Pastikan Ketersediaan LPG 3 Kg di Sulawesi Aman Selama Libur Panjang

"Masyarakat selalu mencari kemewahan bagi dirinya, untuk mendapatkan kebahagiaan, tetapi yang dicari adalah semakin yang terjangkau, liburan," terangnya.

Rhenald mengungkap, fenomena itu kerap disebut dengan istilah 'Lipstick Effect' sebuah kondisi perubahan gaya konsumsi masyarakat dalam kondisi ekonomi tertentu.Baca Juga: Kasus Polwan Selingkuh, Kuasa Hukum Pelapor Belum Dapat Salinan Putusan Sidang KEPP

Dalam kesempatan yang sama, Rhenald menerangkan istilah 'Lipstick Effect' pertama kali dicetuskan oleh Chairman Emeritus The Estee Lauder Companies Inc Leonard Lauder saat tragedi 9/11 di Amerika Serikat (AS).

Saat itu, daya beli masyarakat turun dan membuat mereka sulit mencari pekerjaan, namun Lauder melihat keanehan terhadap penjualan lipstik yang justru meningkat.Baca Juga: Atraksi Barongsai Meriahkan Perayaan Imlek di Bengkulu

Halaman:

Editor: Stefy Thenu

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Polda Sulsel Tindak Penyalahgunaan BBM Subsidi

Selasa, 2 Juni 2026 | 20:25 WIB
X