Viral Skandal Kekerasan Brandoville Studio, Ini Analisis Seputar Kekerasan Verbal di Media Sosial

Photo Author
Stefy Thenu, Suara Pembaruan
- Senin, 16 September 2024 | 10:56 WIB
 Poster penutupan Brandoville Studio. (Instagram.com/@brandoville_studios)
Poster penutupan Brandoville Studio. (Instagram.com/@brandoville_studios)

 

SUARA PEMBARUAN - Media sosial diramaikan oleh laporan tentang sebuah studio game bernama Brandoville Studio yang mendapatkan tuduhan kekerasan verbal dan fisik terhadap karyawannya.


Kabar ini mencuat setelah berbagai laporan dari mantan karyawan studio game Cherry Lai. Akibatnya, nama Co-owner sekaligus istri CEO Brandoville Studio trending di platform media sosial X.

Baca Juga: Kasus Pembobolan Data Pemilik Akun Fufufafa, Ini Deretan Aksi Hacker Indonesia
Menurut berbagai cuitan dan laporan dari mantan karyawan tersebut, Brandoville Studio diduga terlibat dalam praktik kekerasan atau bullying, baik verbal maupun fisik.


Selain itu, mereka mengklaim telah mendapatkan berbagai pelecehan verbal sebagai bentuk hukuman karena tidak mematuhi peraturan studio.


"Melecehkan tim secara verbal dalam grup chat, pengakuan pengakuan penganiayaan fisik, pelanggaran jam kerja," tutur mantan karyawan Brandoville, pada 9 September 2024.

Baca Juga: Anindya Bakrie Resmi Jadi Ketum Kadin Lewat Munaslub 2024, Kubu Arsjad Rasjid Sebut Forum Tidak Sah
Berkaca dari viralnya kekerasan verbal terhadap karyawan, berikut ini analisis seputar kekerasan verbal di ruang digital yang perlu dicermati:


Bahaya Kekerasan Verbal


Anggapan tentang seseorang harus kuat mental di dunia maya adalah pandangan yang keliru dan berbahaya.


Meski tak meninggalkan bekas fisik, namun kekerasan verbal memiliki dampak yang tak kalah serius dengan kekerasan fisik.

Baca Juga: Viral Pernyataan Kontroversial Peter Gontha Soal Pemain Diaspora Timnas Indonesia, Ini Pembelaan PSSI dan Kebijakan FIFA
Bahkan, dalam beberapa aspek, dampaknya bisa lebih parah dan bertahan lebih lama. Kekerasan verbal dapat menembus batas ruang dan waktu.


Korban bisa mendapat serangan kapan saja, bahkan di tempat yang seharusnya aman seperti rumah.


Ini menciptakan perasaan terancam yang konstan, memicu stres kronis yang berdampak pada kesehatan fisik dan mental.

Baca Juga: Duta Genre Sebar Virus Kebaikan di Kota Semarang
Dari segi kesehatan mental, korban kekerasan verbal online berisiko mengalami depresi, kecemasan, dan dalam kasus ekstrem, keinginan bunuh diri.

Halaman:

Editor: Stefy Thenu

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Polda Sulsel Tindak Penyalahgunaan BBM Subsidi

Selasa, 2 Juni 2026 | 20:25 WIB
X