Police Goes to School, Cegah Pelanggaran Lalin Pengendara Di Bawah Umur

Photo Author
Stefy Thenu, Suara Pembaruan
- Jumat, 8 Maret 2024 | 14:46 WIB
Kombes Satake Bayu, Kabidhumas Polda Jateng.
Kombes Satake Bayu, Kabidhumas Polda Jateng.

Semarang, suarapembaruan.news Polda Jateng menggalakkan kegiatan sosialisasi di lingkungan sekolah.


Kegiatan yang dikemas dalam program Police Goes To School ini menjadi salah satu andalan Polda Jateng untuk mengedukasi kalangan remaja dan anak-anak di tingkat SD hingga SMA.


Hal itu untuk menekan aksi kebut-kebutan dan pelanggaran lalu lintas yang dilakukan pengendara belia atau anak di bawah umur.


"Pelajar atau kalangan di bawah umur diberi edukasi agar mereka paham tentang keselamatan berlalu lintas," kata Kabidhumas Polda Jateng, Kombes Pol Satake Bayu Setianto, Jumat (8/3).


Para pengendara belia, ungkapnya, sering terjaring karena melakukan pelanggaran seperti berboncengan tiga, menggunakan ranmor yang tidak sesuai spesifikasi hingga aksi kebut-kebutan dan balap liar.


"Mereka perlu pemahaman tentang aspek keselamatan. Bila melakukan aksi kebut-kebutan dapat membahayakan diri dan orang lain," terangnya


"Berkendara itu perlu etika. Ada sanksi hukum buat mereka yang melanggar, apalagi kalau sampai terlibat kecelakaan sehingga merugikan orang lain," imbuh Kabidhumas.


Pakar psikologi Universitas Diponegoro, Dr. Hastaning Sakti, M.Kes, mendukung upaya Polri dalam memberikan pemahaman tentang keselamatan berlalu lintas pada remaja termasuk anak-anak di bawah umur.


Menurutnya, anak-anak perlu paham tentang tanggung jawab sosial dan konsekwensinya bila melakukan pelanggaran lalu lintas.


Dirinya merasa amat prihatin terhadap anak-anak yang melakukan aksi kebut-kebutan di jalan raya.


"Bisa saja awalnya mereka diberi kelonggaran oleh orang tua. Tapi ujung-ujungnya malah ngebut di jalan," kata Hastaning


Dilihat dari sisi psikologis, anak-anak dibawah umur cenderung merasa dirinya adalah "raja" dan bisa melakukan banyak hal. Kalangan ini cenderung berpikiran pendek dan emosi yang kurang matang.


Hal ini, kata dia, dipengaruhi oleh amigdala yang mereka miliki. Amigdala merupakan 

bagian dalam anatomi otak yang berhubungan dengan proses emosi, perilaku, dan memori. 

Halaman:

Editor: Stefy Thenu

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

DMI Kerja Sama Dewan Imam Nasional Australia

Rabu, 15 Juli 2026 | 13:56 WIB
X