Langka! Imlek, Ramadan, dan Prapaskah 2026 Berdekatan, Jadi Simbol Harmoni Keberagaman

Photo Author
Stefy Thenu, Suara Pembaruan
- Jumat, 20 Februari 2026 | 15:55 WIB
Mengintip momen langka terkait perayaan Imlek, Ramadan, dan Prapaskah yang jatuh secara berurutan di tahun 2026. (Instagram.com/infipop.id)
Mengintip momen langka terkait perayaan Imlek, Ramadan, dan Prapaskah yang jatuh secara berurutan di tahun 2026. (Instagram.com/infipop.id)

Jakarta, SUARA PEMBARUAN - Sebagian warganet tengah ramai membicarakan momen hari raya lintas agama yang dinilai sangat jarang terjadi. Tahun 2026, sejumlah perayaan besar seperti Tahun Baru Imlek, Ramadan, dan Prapaskah berlangsung dalam waktu yang sangat berdekatan.Baca Juga: Stok Beras di Jatim 881.000 ton, Bisa Penuhi Kebutuhan 14 Bulan ke Depan

Dalam unggahan Instagram @infipop.id pada Jumat, 20 Februari 2026, disebutkan bahwa ketiga momen tersebut hanya terpaut beberapa jam hingga kurang dari 24 jam. Kondisi ini pun memicu perhatian publik karena dianggap sebagai fenomena unik dalam siklus kalender keagamaan.

Fenomena tersebut terjadi karena perbedaan sistem penanggalan. Kalender Lunisolar Tionghoa, kalender Hijriah, serta kalender Masehi memiliki siklus yang tidak sinkron. Namun pada 2026, ketiganya “bertemu” dalam periode yang sangat singkat.Baca Juga: Penerima Manfaat MBG di Jatim Capai 8,4 Juta Jiwa

Berdasarkan penelusuran, peristiwa serupa terakhir kali terjadi pada 1863 dan diperkirakan baru akan terulang kembali pada 2189. Momentum ini dipandang sebagai pengingat bahwa perbedaan tradisi, budaya, dan keyakinan dapat hadir bersamaan, sekaligus memperkuat pesan keberagaman di dunia.

Di Indonesia, momen spiritual tersebut terasa semakin istimewa. Pada 18 Februari 2026, Hari Rabu Abu yang menandai awal masa Prapaskah bagi umat Katolik bertepatan dengan 1 Ramadan 1447 Hijriah bagi warga Muhammadiyah.Baca Juga: Terdampak tagar #STOP BAYAR PAJAK# Pendapata Pelayanan Pajak Daerah UPPD Semarang 2 Alami Penurunan 0.1%

Situasi ini menciptakan potret kebersamaan, di mana jutaan masyarakat menjalankan ibadah puasa dengan dasar teologis yang berbeda. Umat Katolik memasuki masa pertobatan selama 40 hari menuju Paskah, sementara umat Islam Muhammadiyah memulai puasa Ramadan berdasarkan Kalender Hijriah Global Tunggal.

Selain itu, sehari sebelumnya pada 17 Februari 2026, masyarakat juga merayakan Tahun Baru Imlek 2577. Rangkaian ini semakin memperkaya wajah toleransi dan keberagaman di Tanah Air.Baca Juga: Guru Besar Teknik Geologi UGM, tentang Fenomena Sink Hole Di Gunung Kidul Dan Sumbar

Menteri Agama RI Nasaruddin Umar menilai perbedaan metode penentuan awal bulan sekaligus kesamaan waktu ibadah sebagai rahmat bagi bangsa.

Ia menegaskan, esensi puasa baik dalam Ramadan maupun Prapaskah adalah pengendalian diri, empati, dan kepedulian sosial. Momentum tersebut, menurutnya, dapat menjadi ruang memperkuat persaudaraan kebangsaan serta memperkokoh nilai toleransi di tengah masyarakat majemuk Indonesia.Baca Juga: Teror Usai Kritik MBG, Ketua BEM UGM: “Semakin Ditekan, Kami Semakin Kuat”

Editor: Stefy Thenu

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X