Prambanan Shiva Festival 2025 Menghidupkan Candi sebagai Warisan Budaya yang Tak Lekang Zaman

Photo Author
Philipus Anton, Suara Pembaruan
- Minggu, 15 Februari 2026 | 22:04 WIB
Wakil Menteri Pariwisata, Ni Luh Puspa membuka Prambanan Shiva Festival
Wakil Menteri Pariwisata, Ni Luh Puspa membuka Prambanan Shiva Festival

Yogyakarta, SUARA PEMBARUAN – Suasana khusyuk menyelimuti kompleks Candi Prambanan saat puncak perayaan Mahashivaratri dalam rangkaian Prambanan Shiva Festival 2025 digelar. Festival yang baru pertama kali diselenggarakan ini menjadi tonggak penting dalam upaya menjadikan Prambanan bukan sekadar situs bersejarah yang diam membisu, melainkan sebagai living monument—warisan budaya yang terus hidup, sakral, dan dirawat secara turun-temurun oleh lintas generasi.

Wakil Menteri Pariwisata, Ni Luh Puspa, yang turut hadir dalam malam puncak, menyampaikan pentingnya menjaga harmoni antara pelestarian nilai-nilai spiritual dengan penguatan sektor pariwisata. Menurutnya, festival ini menjadi bukti nyata bahwa situs warisan dunia bisa berperan ganda, sebagai ruang ibadah yang khidmat sekaligus destinasi budaya berkelas internasional.

“Melalui Prambanan Shiva Festival, kami ingin candi ini tidak hanya berdiri kokoh sebagai monumen masa lalu, tetapi benar-benar hidup sebagai warisan budaya yang sakral. Dari sisi pariwisata, kegiatan ini diharapkan mampu mendongkrak kunjungan wisatawan, baik domestik maupun mancanegara,” ujarnya.

Ia memaparkan, capaian sektor pariwisata Indonesia sepanjang 2025 menunjukkan grafik positif. Kunjungan wisatawan mancanegara mencapai 15,39 juta, tumbuh 10,8 persen dibanding tahun sebelumnya dan melampaui target RPJMN. Sementara itu, pergerakan wisatawan nusantara tercatat sebanyak 1,2 miliar perjalanan, meningkat 17,55 persen. Indonesia juga berhasil meraih 154 penghargaan internasional, termasuk pengakuan dari UN Tourism terhadap desa-desa wisata di Bali dan Banyuwangi.

Untuk tahun 2026, pemerintah menargetkan kunjungan wisman sebanyak 16 hingga 17,6 juta, serta 1,18 miliar perjalanan wisatawan nusantara. “Yang paling utama bukan sekadar angka, melainkan kualitas destinasi dan pengalaman yang dibawa pulang wisatawan,” tegas Ni Luh.

Kolaborasi lintas sektor menjadi kunci sukses terselenggaranya festival yang berlangsung sejak 17 Januari hingga malam Mahashivaratri tersebut. Direktur Utama InJourney Destination Management, Febrina Intan, menekankan bahwa perhelatan ini adalah buah kerja sama erat berbagai pihak.

Menurutnya, Candi Prambanan sebagai Shiva Grha—rumah Dewa Siwa—merupakan mahakarya leluhur yang didirikan dengan kesadaran spiritual yang mendalam. Perayaan Mahashivaratri di sini dimaknai sebagai ajakan pulang ke rumah, memberikan ruang bagi umat Hindu untuk berefleksi dan menyucikan diri, sekaligus membuka ruang dialog budaya bagi masyarakat luas.

“Candi Prambanan adalah jembatan yang menghubungkan kejayaan masa lampau dengan harapan masa depan. Di sini, sakralitas bertemu modernitas, spiritualitas berjalan seiring dengan upaya memperkuat pariwisata,” ucap Febrina.

Sebagai simbol penerangan batin, ribuan umat menyalakan 1008 dipa atau lampu minyak di pelataran candi. Cahaya yang menyala serempak itu diharapkan tidak hanya menerangi kawasan Prambanan, tetapi juga menjadi pemersatu semangat persaudaraan dan kebersamaan sebagai satu bangsa.

Apresiasi tinggi juga disampaikan Duta Besar India untuk Indonesia, Sandeep Chakravorty. Ia menyebut Prambanan sebagai kuil Siwa terbaik yang pernah ia lihat selama menjelajahi berbagai belahan dunia.

“Indonesia memiliki kekayaan budaya yang luar biasa. Prambanan adalah kuil Siwa terbaik di dunia,” ujarnya. Ia pun mendorong agar wisatawan India yang jumlahnya besar di Bali, dapat diarahkan untuk berkunjung ke Yogyakarta dan Jawa Timur, menikmati langsung warisan budaya seperti Prambanan dan destinasi sekitarnya.

Chakravorty juga mengungkapkan adanya komitmen kerja sama antara Presiden Prabowo Subianto dan Perdana Menteri India Narendra Modi dalam upaya restorasi Prambanan. Tim ahli dari India direncanakan akan datang untuk memberikan kontribusi dalam pemugaran, agar struktur candi semakin mendekati bentuk aslinya dari abad ke-9.

Sementara itu, Ketua Umum Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Pusat, Wisnu Bawa Tenaya, menegaskan bahwa Mahashivaratri bukan hanya ritual keagamaan semata, melainkan momentum untuk membangun manusia Indonesia yang utuh, lahir, batin, dan sosial.

Ia menilai prosesi kirab dari Kedulan menuju Prambanan sejauh lima kilometer dengan membentangkan bendera Merah Putih sepanjang hampir seribu meter menjadi simbol kuat persatuan dan semangat kebangsaan dalam balutan spiritualitas.

Halaman:

Editor: Philipus Anton

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

DMI Kerja Sama Dewan Imam Nasional Australia

Rabu, 15 Juli 2026 | 13:56 WIB
X