Surabaya, SUARA PEMBARUAN - Hubungan perdagangan Provinsi Jawa Timur dengan Uzbekistan, menunjukkan tren yang positif. Pada periode Januari–Oktober 2025, nilai ekspor nonmigas Jatim ke Uzbekistan mencapai USD 9,36 juta. Meningkat signifikan dibandingkan tahun sebelumnya, dengan tren pertumbuhan rata-rata lima tahun terakhir yang cukup tinggi.
Komoditas utama ekspor Jatim meliputi lemak dan minyak nabati, produk makanan olahan, sabun dan preparat pembersih, serta kertas dan karton.
Sementara itu, nilai impor Jawa Timur dari Uzbekistan tercatat sebesar USD 43,06 juta, dengan komoditas utama berupa pupuk yang berkontribusi penting terhadap sektor pertanian di provinsi ini.
Hal tersebut disampaikan Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa, ketika menerima kunjungan Duta Besar Uzbekistan untuk Indonesia dan ASEAN, Oybek Eshonov, di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Jumat (13/2/2026).
Sister Province
Dalam pertemuan tersebut Gubernur Khofifah menjajaki peluang kerja sama sister province antara Jawa Timur dengan Samarkand, yakni kota tertua di Asia Tengah dan terbesar kedua di Uzbekistan.
Dalam pertemuan tersebut, kedua belah pihak membahas rencana penandatanganan kerja sama sister province yang diharapkan dapat memperkuat hubungan bilateral, khususnya di bidang perdagangan, pendidikan, kebudayaan, dan penguatan jejaring masyarakat.
Khofifah menjelaskan, saat ini Pemerintah Provinsi Jawa Timur tengah menempuh proses administrasi dan perizinan sesuai ketentuan yang berlaku, melalui koordinasi dengan Kementerian Luar Negeri dan Kementerian Perdagangan Republik Indonesia.
Setelah tahapan tersebut selesai, penandatanganan protokol kerja sama direncanakan dapat dilaksanakan sebelum selanjutnya diajukan untuk memperoleh persetujuan DPRD Jawa Timur.
Rencananya, penandatanganan akan dilakukan bertepatan dengan kunjungan Gubernur Samarkand ke Jawa Timur pada 4–7 April mendatang.
Selain aspek ekonomi dan pemerintahan, Gubernur Khofifah menekankan bahwa hubungan Jawa Timur dan Samarkand memiliki kedekatan historis dan spiritual yang kuat. "Jawa Timur dan Samarkand ini punya hubungan spiritual dan keagamaan yang erat. Dari pondok pesantren kita, banyak sekali kunjungan religi ke makam dari Syekh Imam Bukhari karena mereka banyak mengkaji hadits Imam Bukhari. Sekarang pun rombongan dari Pesantren Ploso Kediri dipimpin langsung oleh Kyai Nurul Huda juga sedang berada di Samarkand," jelasnya.
Ia juga menyebutkan bahwa saat ini rombongan dari Pesantren Ploso Kediri yang dipimpin oleh Kyai Nurul Huda tengah berada di Samarkand untuk kegiatan keagamaan.
Lebih lanjut, Khofifah menambahkan bahwa salah satu Wali Songo, yakni Syekh Maulana Malik Ibrahim, yang memiliki peran penting dalam penyebaran Islam di Jawa Timur, diyakini berasal dari wilayah Asia Tengah, termasuk Samarkand. Hal tersebut memperkuat ikatan historis dan kultural antara kedua wilayah.
"Bukan itu saja, wali songo di Jawa Timur juga ada yang berasal dari Samarkand, yaitu Syekh Maulana Malik Ibrahim. Jadi pada dasarnya, kita juga membangun kekuatan spiritualitas dari perspektif budaya dalam hubungan Indonesia-Uzbekistan, khususnya Jawa Timur-Samarkand," lanjut Khofifah.
Artikel Terkait
Khofifah : Jatim Siap Jadi Pionir Talent DNA Nasional
212 Perusahaan Jepang Tanam Modal di Jatim, Total nilai investasi 5 miliar Dolar AS
BPH Migas Dorong Roadmap FSRU, Amankan Pasokan Gas Jatim Jangka Panjang