Saran Ahli Perihal Konflik Mematikan di Way Kambas

Photo Author
Philipus Anton, Suara Pembaruan
- Selasa, 3 Februari 2026 | 14:28 WIB
Deforestasi Picu Konflik Gajah dan Manusia di Sumatra (Doc. Humas UGM)
Deforestasi Picu Konflik Gajah dan Manusia di Sumatra (Doc. Humas UGM)

Yogyakarta, SUARAPEMBARUAN – Darusman, Kepala Desa Braja Asri di Lampung Timur, tewas setelah terinjak gajah liar. Insiden ini memperkeruh hubungan antara manusia dan satwa di Taman Nasional Way Kambas (TNWK). Sebagai respons, pemerintah daerah berencana membangun pagar pembatas permanen dan menutup sementara kegiatan wisata alam di kawasan tersebut. Menurut Prof. Dr. drh. Raden Wisnu Nurcahyo, Guru Besar Parasitologi FKH UGM, konflik ini adalah gejala dari masalah yang lebih dalam. "Konflik terus meningkat akibat tekanan eksternal dan internal pada populasi gajah," katanya di Kampus UGM, Selasa (3/2).

Secara eksternal, gajah menghadapi penyempitan habitat drastis akibat deforestasi dan alih fungsi lahan di sekitar taman nasional. Perubahan zona inti menjadi zona pemanfaatan juga memperkecil ruang hidup mereka. Ditambah gangguan iklim yang memengaruhi ketersediaan air dan pakan, gajah pun terpaksa masuk ke lahan warga. "Gajah memiliki memori ruang yang kuat. Mereka tetap melewati jalur migrasi tradisional, meski jalur itu kini telah berubah menjadi perkebunan atau pemukiman," jelas Wisnu.

Faktor lain adalah perburuan liar untuk mengambil gading, yang meningkatkan tekanan dan perilaku defensif gajah. Secara internal, gajah yang berada di Pusat Latihan Gajah (PLG) menghadapi ancaman penurunan keragaman genetik akibat keterbatasan aliran gen, peningkatan genetic drift, dan risiko perkawinan sesama keluarga (inbreeding). Perbedaan asal usul gajah di PLG juga memengaruhi keragaman genetik spesies endemik ini.

Sebagai solusi, Wisnu menekankan pendekatan terpadu yang meliputi:

  1. Pembangunan Infrastruktur Pembatas Permanen: Pagar listrik, kawat, atau tanggul sepanjang ±70 km di perbatasan TNWK, dengan desain adaptif sesuai tingkat kerawanan wilayah.
  2. Pemulihan Habitat: Restorasi ekosistem dan pengkayaan pakan di dalam kawasan agar gajah tidak perlu keluar.
  3. Pengamanan Berteknologi: Pemasangan GPS collar pada gajah liar untuk memantau pergerakan, serta penggunaan gajah terlatih untuk penggiringan.
  4. Kolaborasi Multipihak: Melibatkan masyarakat, mitra Polhut, TNI, dan Polri dalam patroli bersama, dengan skema pembiayaan lintas sektor.

Tragedi ini menyadarkan semua pihak bahwa solusi jangka panjang diperlukan. Bukan sekadar membatasi pergerakan gajah, tetapi juga memulihkan rumah mereka, sehingga koeksistensi damai dapat diciptakan tanpa korban lagi di kedua sisi.

Editor: Philipus Anton

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

DMI Kerja Sama Dewan Imam Nasional Australia

Rabu, 15 Juli 2026 | 13:56 WIB
X