Alam Tidak Marah, Kita yang Lalai: Membaca Krisis lewat Pertobatan Ekologis

Photo Author
Stefy Thenu, Suara Pembaruan
- Rabu, 28 Januari 2026 | 18:34 WIB
Cyprianus Lilik Krismantoro Putro Koordinator Nasional Gerakan Laudato Si' Indonesia, saat menjadi narasumber dalam forum diskusi DPD ISKA Jateng di Rumah Uskup, Rabu (28/1/2026). (SP/Stefy Thenu)
Cyprianus Lilik Krismantoro Putro Koordinator Nasional Gerakan Laudato Si' Indonesia, saat menjadi narasumber dalam forum diskusi DPD ISKA Jateng di Rumah Uskup, Rabu (28/1/2026). (SP/Stefy Thenu)

“Pertobatan ekologis adalah hijrah batin. Berpindah dari sikap pasrah dan eksploitatif menuju tanggung jawab sebagai penjaga bumi,” tuturnya.Baca Juga: Fransiskus Kemong: Keamanan Kondusif Kunci Pembangunan di Mimika

Menurut Lilik, krisis ekologi tidak bisa dipisahkan dari krisis kemanusiaan. Alam yang rusak selalu melahirkan penderitaan sosial. Karena itu, perubahan harus dimulai dari kesadaran individu, diperkuat oleh komunitas, dan dilembagakan dalam kebijakan publik.

Ia mengingatkan bahwa konstitusi Indonesia menjamin hak setiap warga negara atas lingkungan hidup yang baik dan sehat. “Jika bencana terus berulang, itu tanda amanat konstitusi belum sepenuhnya dijalankan,” katanya.*Baca Juga: Kapendam XVII/Cenderawasih: Bukan Pesawat TNI yang Jatuh di Perairan Dekat Bandara Douw Nabire, Milik Smart Air

Halaman:

Editor: Stefy Thenu

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

DMI Kerja Sama Dewan Imam Nasional Australia

Rabu, 15 Juli 2026 | 13:56 WIB
X