Pakar UGM Soroti Eskalasi Unjuk Rasa Di Iran Di Titik Kritis, Ribuan Tewas dalam Kerusuhan Terparah Sejak Revolusi 1979

Photo Author
Philipus Anton, Suara Pembaruan
- Sabtu, 24 Januari 2026 | 14:56 WIB
Eskalasi gelombang unjuk rasa di Iran mencapai titik kritis, (doc. Istimewa)
Eskalasi gelombang unjuk rasa di Iran mencapai titik kritis, (doc. Istimewa)

Gelombang unjuk rasa besar yang melanda berbagai kota di Iran sepanjang Januari 2026 telah mencatatkan fase paling kritis dan berdarah dalam sejarah domestik negara tersebut sejak Revolusi Islam 1979. Data yang dilaporkan oleh media pemerintah sendiri menyebutkan korban jiwa mencapai minimal 3.117 orang, mencakup masyarakat sipil dan pasukan keamanan, dalam waktu yang relatif singkat. Angka ini mengindikasikan tingkat kekerasan yang luar biasa.

Akar konflik bersifat sistemik dan multidimensi, merupakan akumulasi dari dampak yang pertama depresi Ekonomi Ekstrem, Saat ini Kapasitas ekonomi Iran hanya beroperasi sekitar 50% akibat sanksi internasional jangka panjang, dampak pandemi, dan kondisi global. Hal ini menjadi pemicu Langsung: Lonjakan harga bahan pokok melebihi 70% pasca-insiden serangan militer AS-Israel terhadap instalasi nuklir Iran. Hal ini diperburuk dengan penurunan Nilai tukar Rial Iran merosot ke level terburuk, menyentuh 1,4 juta Rial per 1 Dolar AS. Lalu pola penanganan unjuk rasa yang represif, keras dan otoriter oleh rezim.

Menanggapi situasi tersebut, Kepala Pusat Studi Keamanan dan Perdamaian (PSKP) Universitas Gadjah Mada, Ahmad Munjid, M.A., Ph.D., memberikan analisis mendalam:

  • Indikator Kerapuhan Rezim: Tingginya korban jiwa akibat kekerasan aparat menandai melemahnya legitimasi rezim. "Rezim manapun akan membabi buta ketika menghadapi ancaman eksistensial. Jurus yang dipakai adalah selalu menyalahkan pihak luar, yakni Amerika dan Israel," ujarnya pada Jumat (23/1). Namun, narasi penyalahan pihak asing dinilai tidak akan menyelesaikan akar masalah.
  • Kebutuhan Solusi Substantif: Rezim didesak untuk segera merumuskan solusi atas krisis ekonomi primer dan tuntutan demokrasi sebagai penentu stabilitas nasional. Meski ketegangan di jalanan telah mereda, masalah ekonomi belum teratasi. "Demonstrasi akan meletus kembali sewaktu-waktu. Rakyat Iran membutuh makan dan menjalani kehidupan dengan normal," tegas Munjid.

Munjid mengkomparasikan kemiripan dan perbedaan mendasar antara gelombang protes 2026 dengan revolusi 1979:

  • Persamaan: Keduanya didorong oleh kekecewaan publik masif terhadap rezim yang berkuasa, yang dipicu oleh kebangkrutan ekonomi, korupsi elit, dan respons otoriter yang brutal.
  • Perbedaan Krusial:
  1. Konsolidasi dan Kepemimpinan: Gerakan 1979 memiliki konsolidasi kekuatan yang terorganisir dengan figur pemersatu yang jelas (Ayatullah Ruhollah Khomeini) yang mampu mengoordinasi berbagai kelompok oposisi. Sementara, protes 2026 lebih bersifat sporadis dan terfragmentasi, tanpa kepemimpinan oposisi sentral yang diterima luas.
  2. Konflik Generasi dan Sosial: Saat ini, terdapat jurang aspirasi yang dalam antara elit teokrasi lanjut usia dengan generasi muda yang lebih progresif. "Semakin ketat rezim agama mengontrol, semakin banyak rakyat Iran yang justru menjauh dari agama," ungkap Munjid, menunjukkan terjadinya alienasi massal terhadap kontrol negara.

Krisis ini telah meluas melampaui politik, menyebabkan;

Kolapsnya Fasilitas Publik: Terputusnya layanan air bersih dan pasokan listrik di berbagai daerah.;  

Mobilisasi Kelas Pedagang: Unjuk rasa meluas ke kalangan pedagang di Grand Bazaar Tehran yang menutup toko dan turun ke jalan akibat lumpuhnya aktivitas ekonomi.

Respons Lockdown Digital: Rezim merespons dengan mematikan jaringan internet dan melakukan penangkapan massal (puluhan ribu orang), selain korban tewas dan luka-luka.

Meskipun gelombang protes fisik telah mereda, Iran berada dalam ketidakstabilan kronis. Kombinasi dari krisis ekonomi yang belum terselesaikan, ketiadaan saluran aspirasi politik yang damai, represi negara, serta fragmentasi gerakan oposisi, menciptakan siklus yang rentan terhadap ledakan kekerasan berulang. Masa depan stabilitas Iran bergantung pada kemampuan rezim maupun kekuatan masyarakat sipil dalam merumuskan jalan keluar dari kebuntuan sistemik ini, di tengah tekanan geopolitik dan ekonomi yang sangat berat.

Editor: Philipus Anton

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

DMI Kerja Sama Dewan Imam Nasional Australia

Rabu, 15 Juli 2026 | 13:56 WIB
X