Prabowo Pastikan Siap Tanggung Jawab Soal Utang Kereta Cepat Whoosh: Rakyat Tak Perlu Khawatir

Photo Author
Stefy Thenu, Suara Pembaruan
- Rabu, 5 November 2025 | 12:25 WIB
Presiden Prabowo tegaskan ambil tanggung jawab soal Whoosh. (Tangkapan layar YouTube Sekretariat Presiden)
Presiden Prabowo tegaskan ambil tanggung jawab soal Whoosh. (Tangkapan layar YouTube Sekretariat Presiden)



Jakarta, SUARA PEMBARUAN Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa pemerintah akan mengambil tanggung jawab penuh terhadap proyek **Kereta Cepat Jakarta–Bandung (KCJB) atau Whoosh, yang saat ini tengah menjadi sorotan publik karena isu utang besar yang mencapai Rp116 triliun.

Dalam sambutannya saat peresmian revitalisasi Stasiun Tanah Abang Baru, Jakarta Pusat, Selasa (4/11/2025), Prabowo menekankan agar masyarakat tidak perlu khawatir atas polemik tersebut. Ia memastikan negara akan mampu menyelesaikan seluruh persoalan yang berkaitan dengan proyek transportasi cepat tersebut.

“Enggak usah khawatir soal Whoosh. Saya sudah pelajari masalahnya, dan tidak ada yang perlu ditakutkan. Saya yang akan tanggung jawab,” ujar Prabowo.

Presiden juga menenangkan pihak PT KAI (Persero) agar tidak cemas dengan beban finansial yang melekat pada proyek tersebut.

“PT KAI jangan khawatir. Semua sarana dan teknologi yang digunakan untuk rakyat adalah tanggung jawab bersama, dan pada akhirnya tanggung jawab Presiden Republik Indonesia. Jadi sekarang Whoosh tanggung jawab saya,” tegasnya.

Prabowo pun mengimbau agar isu Whoosh tidak dijadikan alat politik. Ia menduga ada pihak tertentu yang sengaja memperkeruh suasana dan menimbulkan keresahan di tengah masyarakat.

“Jangan dipolitisasi. Jangan kita menari di gendangnya orang lain yang ingin membuat rakyat cemas,” katanya.

Prabowo juga mengingatkan bahwa proyek transportasi publik tidak semestinya dinilai dari sisi keuntungan finansial semata, melainkan manfaat sosial dan ekonomi yang lebih luas.

“Transportasi publik di seluruh dunia tidak dihitung dari untung rugi, tapi dari manfaat bagi rakyat. Ini bagian dari *public service obligation,” jelasnya.

Pandangan ini sejalan dengan pernyataan mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang menegaskan bahwa proyek Whoosh adalah layanan publik. Jokowi menyebut indikator keberhasilan transportasi umum bukan laba, melainkan keuntungan sosial, seperti penurunan emisi karbon, peningkatan produktivitas, dan penghematan waktu tempuh.

Polemik utang proyek Whoosh bermula dari perbedaan nilai tawaran awal antara Jepang dan China. Jepang menawarkan nilai proyek 6,2 miliar dolar AS, sementara China 5,5 miliar dolar AS. Namun biaya tersebut membengkak menjadi 7,27 miliar dolar AS akibat cost overrun sebesar 1,2 miliar dolar.

Dari total nilai tersebut, 75 persen dibiayai melalui pinjaman dari China Development Bank, sementara 25 persen berasal dari modal gabungan PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI) dan Beijing Yawan HSR Co. Ltd.

Saat ini, pemerintah sedang membahas restrukturisasi utang Whoosh agar tenor pembayaran dapat diperpanjang dari 40 tahun menjadi 60 tahun, guna menjaga keberlanjutan proyek tanpa membebani keuangan negara.

Dengan ketegasan ini, Prabowo menegaskan kembali komitmennya untuk menjaga kepercayaan publik dan memastikan bahwa proyek strategis nasional seperti Whoosh tetap menjadi simbol kemajuan transportasi Indonesia, bukan sumber kecemasan masyarakat.*

Editor: Stefy Thenu

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

DMI Kerja Sama Dewan Imam Nasional Australia

Rabu, 15 Juli 2026 | 13:56 WIB
X