Surabaya, SUARA PEMBARUAN – Hoax atau ujaran kebencian dan provokasi beredar dengan mudah, cepat dapat diterima setiap individu melalui gawai masing-masing. Hal tersebut dapat menjadi potensi timbulnya kejadian-kejadian yang tidak diinginkan.
"Banyaknya informasi yang kita terima juga harus diimbangi kemampuan untuk filtering, harus bijak menerima informasi dan tidak sembarang membagikan informasi, ini penting saat ini," pesan Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa, dalam peringatan Hari Literasi Internasional, Senin (8/9/2025).
Menurutnya, perangkat digital membantu memperluas kesempatan belajar dan mengakses informasi, tetapi di sisi lain berisiko menciptakan marjinalisasi ganda terhadap pembelajaran literasi tradisional, juga dari manfaat era digital. "Ini harus menjadi perhatian kita bersama,"tegasnya.
Di Jawa Timur sendiri Gubernur Khofifah bangga menyebutkan bahwa Nilai Tingkat Gemar Membaca (TGM) tahun 2024 Provinsi Jawa Timur sebesar 77,15. Angka ini masuk dalam kategori tinggi.
Pun begitu dengan Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) Tahun 2024 Provinsi Jawa Timur yang berada di angka 78,60 dan masuk dalam kategori Sedang.
Namun begitu, menurutnya saat ini literasi tak lagi sekadar soal bisa membaca dan menulis, melainkan juga kemampuan untuk memahami, mengolah, dan memanfaatkan informasi dengan bijak.
Literasi digital menjadi keterampilan penting agar seseorang mampu memilah mana informasi yang benar dan mana yang merupakan hoaks. "Kembali saya mengajak agar semua berliterasi dengan lebih komprehensif, saring before sharing, kembali saring before sharing, supaya tidak termakan dan tidak menyebar hoax serta provokasi," tambahnya.
Artikel Terkait
Gelar Webinar Nasional, Perkuat Literasi dan Pertahanan Siber Perangkat Daerah di Gowa
OJK Jateng Dorong UMKM dan Generasi Muda Melek Finansial Lewat Sosialisasi Pendanaan dan Puncak Bulan Literasi Keuangan
Dorong Literasi dan Inklusi Finansial, Danantara dan IFG Perkuat Sinergi Komunikasi