Yogyakarta, suarapembaruan.news – Industri fashion memiliki kontribusi yang signifikan terhadap ekonomi kreatif di Indonesia, sektor ini bahkan mampu memberi kontribusi 20 % dari total sektor industri ekonomi kreatif. Industri ini pun menempati posisi ketiga terbesar sebagai penyumbang devisa negara di Indonesia. Pada tahun 2019, industri fashion mampu menyumbang devisa sebesar Rp 122 triliyun.
Desainer dalam negeri pun berani menciptakan tren baru dan mengubah wajah industri mode di Indonesia, bahkan, fashion menjadi salah satu produk terlaris di bidang e-commerce.
Bukan tanpa alasan, Jogja Fashion Trend (JFT) 2024 yang menjadi salah satu rangkaian dari acara Grebeg UMKM DIY 2024 yang telah digelar sejak 7 Agustus 2024 lalu sampai tanggal 11 Agustus 2024 atas kerjasama antara Bank Indonesia dan Pemda DIY, menjadi puncak dari perhelatan dengan tampilnya Executive & Exclusive Show by Afif Syakur dan Phillip Iswardono Minggu (11/08/2024) petang.
Creative Director JFT 2024 Phillip Iswardono pun menjelaskan, pada malam penutupan Grebeg UMKM DIY 2024 tersebut, pihaknya penampilkan 40 set desain yang terdiri dari 24 set busana wanita dan 14 pria. “Kami secara khusus harus mengeksplorasi kekayaan budaya Indonesia. Budaya Indonesia sensdiri sangat luas tak terbatas bada kain atau wastra," katanya.
Philip menjelaskan adapun wastra atau baju Indonesia menampilkan dari berbagai propinsi di Indonesia, ada lurik dari NTB, NTT Flores sampai Badui. Khusus Badui terkait dengan peluncuran buku “Badui” dari Bank Indonesia.
Pada malam penutupan JFT 2024 ini menampilkan dua sesi busana dimana pada sesi pertama menampilkan busana sederhana dan ready to wear. Namun, dikemas dengan hal lain sehingga penampilan lebih menarik. Sedangkan pada sesi kedua memberi kesan out of the box dengan cutting simple. Termasuk pilihan ]serba longgar atau oversize pada busana pria sehingga lebih casual.
"Sesi pertama menampilkan busana simpel dan sederhana. Hanya baju, blus, celana atau Jaket. Tapi ditambah macam macam misalnya watra Badui. lurik NTT dan Lombok atau Mataram. Adapun di sesi kedua lebih out of the box," unkapnya.
"Hal terpenting bisa mengikuti tren busana saat ini yang genderless sembari membaca peluang di masa depan. Misalnya, pasar saat ini sudah jenuh menggunakan busana yang ketat dan lebih memilih busana longgar. Hal ini juga penting bagi murid SMK yang ingin mendalami tetang tata busana," pungkasnya.
Karya Phillip Iswardono yang tampil unik, menggabungkan elemen tradisional dan modern. Dalam koleksinya, dia memadukan wastra nusantara tetap dengan gaya layering dan celana model longgar untuk pria. Sentuhan out of the box yang dihadirkan oleh Phillip menambah daya tarik pada karyanya .
Sementara itu pada sesi malam menampilkan tema Urban dan Mens Wear. Desainernya: Elgan by Nyudi, Studio Nala by Larasati, AGB by Afif Grurub, Mensbatik, Aryawasesa Aryowira, Rougeby Juniar Rahmawati, Salma Griya Busana, Hepi Kalista, Ridhoagency X Batik Wiliwang, Izzat Fashion House by Martin, Nakano Suit, Dinas Pariwisata Kabupaten Kutai Kartanegara. Lalu, Batik Melayu Kutai by Imam Mardioto, Batik Mawar Putih by Santika Mawar, dan Paradoxal by Samsuga.
Demikian juga Elgan by Nyudi, mengusung tema Seoul in the sun dengan konsep Korean look yang menggunakan sentuhan batik motif kontemporer.
Jogja Fashion Trend (JFT) 2024 yang di-organized by Asmat Pro Yogyakarta dan diikuti 139 desainer berbagai provinsi, diketahui juga menghadirkan Sinta Masson, Ina Priyono, Lenny Agustin, Agus Sunandar. Dikoreograferi Cicko Bactiar dari Jakarta. (*)
Artikel Terkait
Kendalikan Inflasi, Disperindag Bengkulu Bersama BI Gelar Pasar Murah Sembako
Dorong Kemandirian Pesantren BI DIY Dukung Muskerwil Himpunan Ekonomi Bisnis Pesantren
Pergelaran Jogja Fashion Trend Wadah Apresiasi Bagi Seluruh Generasi