Indrawan Nugroho: Rasa Aman di Pekerjaan Bukan Jaminan Karier

Photo Author
Stefy Thenu, Suara Pembaruan
- Senin, 25 Agustus 2025 | 10:00 WIB
CEO Corporate Innovation Asia (CIAS) sekaligus influencer kenamaan, Dr. Indrawan Nugroho. (YouTube.com / Dr Indrawan Nugroho)
CEO Corporate Innovation Asia (CIAS) sekaligus influencer kenamaan, Dr. Indrawan Nugroho. (YouTube.com / Dr Indrawan Nugroho)

Jakarta, SUARA PEMBARUAN – CEO Corporate Innovation Asia (CIAS), Dr. Indrawan Nugroho, mengingatkan bahwa pekerjaan yang terasa aman hari ini tidak otomatis menjamin karier di masa depan. Menurutnya, hanya individu yang relevan, adaptif, dan berani membaca arah perubahanlah yang bisa bertahan di tengah derasnya transformasi digital.

Dalam kanal YouTube pribadinya yang tayang 12 Agustus 2025, Indrawan menegaskan, “Pekerjaan Anda mungkin masih aman hari ini, tapi itu bukan jaminan karier Anda akan tetap selamat besok.”

Ia menjelaskan, dunia bergerak jauh lebih cepat dari rencana yang disusun. Teknologi berkembang pesat, sistem berganti, dan keunggulan masa lalu bisa usang dalam sekejap. Bagi Indrawan, yang menyelamatkan karier bukan jabatan atau status, melainkan kemampuan menjaga relevansi, kejernihan berpikir, serta keberanian merespons perubahan.

“Dunia tidak lagi menunggu kita menyusun strategi panjang. Perubahan kini menerobos masuk tanpa permisi. Yang dicari bukan sekadar orang baik, tetapi mereka yang siap,” tegasnya.

Indrawan juga mengutip riset McKinsey & Company (2024) yang menemukan 87 persen pimpinan perusahaan sadar pentingnya pekerja yang terus belajar. Namun, hanya 40 persen karyawan yang merasa bertumbuh dalam setahun terakhir. Kondisi itu membuat banyak orang tetap bekerja, tapi kehilangan arah dan semangat.

Ia menggambarkan situasi tersebut seperti menggenggam batu di tanah yang bergeser. Gaji, jabatan, dan fasilitas bisa memberi rasa aman semu, namun fondasi sejati ada pada kesiapan individu untuk tetap berdiri kokoh saat perubahan datang tiba-tiba.

Sebagai ilustrasi, Indrawan menyinggung kisah jatuhnya platform Evernote yang dulu populer tetapi kini tergeser pesaing seperti Obsidian dan Google Keep. Menurutnya, masalah Evernote bukan sekadar teknologi atau fitur, melainkan kegagalan membaca arah perubahan.

Hal yang sama berlaku untuk individu. “Kecepatan beradaptasi kini lebih menentukan masa depan daripada senioritas atau prestasi masa lalu,” tutup Indrawan.

Editor: Stefy Thenu

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Perdana, Jogja Scooter Parade digelar Tahun Depan

Minggu, 28 September 2025 | 21:58 WIB

5 Ide Bisnis Modal Kecil yang Cocok untuk Pemula

Senin, 1 September 2025 | 05:26 WIB
X