kesehatan

UNDIP Gelar Pelatihan Kegawatdaruratan Obstetri di Brebes, Tekan Angka Kematian Ibu dan Bayi

Minggu, 14 September 2025 | 09:58 WIB
Prof. Charles Anawo Ameh, Ph.D. (Head of International Public Health Department, Liverpool School of Medicine, UK hadir sebagai pembicara.


Brebes, SUARA PEMBARUAN – Program Studi PPDS Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro (UNDIP) mengadakan Pelatihan Kegawatdaruratan Obstetri (Pengembangan Kapasitas Jejaring Pendidikan) di Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, Rabu, 10 September 2025.


Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya UNDIP mewujudkan Sustainable Development Goals (SDGs) poin 3: Good Health and Well-Being, dengan fokus membekali tenaga kesehatan agar sigap menghadapi kondisi darurat obstetri demi mencegah kematian ibu dan bayi.

Hadir sebagai asesor sekaligus pemateri On-the-Job Training di RSUD Brebes, Prof. Charles Anawo Ameh, Ph.D., dari Liverpool School of Medicine sekaligus Co-Director WHO Collaboration Center for Research and Training in Maternal and Newborn Health.

Peserta pelatihan terdiri dari dokter umum, bidan dengan level keterampilan berbeda (merah, kuning, hijau), hingga sopir ambulans dari Puskesmas PONED dan PMP di Brebes. Mereka berasal dari berbagai fasilitas layanan, termasuk Puskesmas Tanjung, Ketanggungan, Kersana, Larangan, Kluwut, Siwuluh, Wanasari, Sidamulya, Luwung Gede, serta tenaga dari RSUD Brebes dan RS Mutiara Bunda.

Menurut Dr. dr. Ratnasari DC, M.Si., Med., Sp.O.G. Subsp. Obginsos, Ketua Prodi Obsgyn FK UNDIP sekaligus Ketua Pelaksana, angka kematian ibu (AKI) dan bayi (AKB) di Indonesia masih lebih tinggi dibanding negara ASEAN lain. Karena itu, pelatihan ini penting agar tenaga medis mampu bekerja cepat, tepat, dan terintegrasi.

“Brebes memiliki AKI dan AKB tertinggi di Jawa Tengah. Namun dengan kolaborasi, tahun ini angkanya sudah turun hampir 50 persen. UNDIP ingin berperan aktif memperkuat kompetensi tenaga medis melalui praktik klinis, asistensi teknis, hingga sistem rujukan yang lebih baik,” jelasnya.

Dalam sesi studi kasus, peserta berlatih menangani ibu dengan pendarahan pasca persalinan yang berpotensi memicu komplikasi serius seperti preeklampsia postpartum, stroke, kerusakan organ, hingga kematian. Simulasi dilakukan di Puskesmas Brebes dan Siwuluh, lalu dilanjutkan dengan rujukan pasien ke IGD RSUD Brebes sebagai rumah sakit PONEK.

Prof. Charles Ameh menekankan bahwa darurat obstetri tidak bisa diprediksi, sehingga kesiapan sistem, keterampilan tenaga medis, ketersediaan obat, transportasi, dan komunikasi menjadi kunci. “Target global AKI adalah di bawah 70 per 100.000 kelahiran, sementara AKB di bawah 1,2 persen. Untuk mencapainya, diperlukan peningkatan kapasitas, kolaborasi riset, dan dukungan lintas sektor,” ujarnya.

Ia juga menyoroti faktor sosial budaya yang turut memengaruhi kesehatan ibu dan bayi. Kesadaran masyarakat, kesiapan ibu, dukungan keluarga, serta akses rutin ke fasilitas kesehatan harus ditingkatkan. “Selain pelatihan, penting juga memastikan ketersediaan peralatan medis dan obat-obatan. Ini adalah tanggung jawab bersama, termasuk pemerintah,” tambahnya.

Pelatihan ini menjadi wujud komitmen FK UNDIP dalam menjalankan visi ‘UNDIP Bermanfaat’, khususnya di bidang kesehatan masyarakat. Melalui program ini, diharapkan kualitas layanan kesehatan di Brebes meningkat, angka kematian ibu dan bayi menurun, serta generasi Indonesia Emas dapat terwujud.

Tags

Terkini

GMTD Perkuat Peran Kader Posyandu di Makassar

Sabtu, 27 Juni 2026 | 22:47 WIB