Semarang, suarapembaruan.news - Direktur Utama BPJS Kesehatan, Ali Ghuffron Mukti memastikan Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) mampu memberikan perlindungan kesehatan menyeluruh bagi masyarakat Indonesia.
Buktinya, per 1 Juli 2024 sebanyak 274.143.614 jiwa penduduk Indonesia telah terdaftar sebagai peserta JKN. Angka ini mengantarkan Indonesia meraih Universal Health Coverage (UHC) dengan capaian sebesar 97,66%.
“Indonesia hanya butuh waktu 10 tahun untuk memastikan penduduknya memiliki akses layanan kesehatan. Mengalahkan Korea Selatan yang membutuhkan waktu 12 tahun, Jepang 36 tahun atau bahkan Jerman selama 127 tahun,” katanya dalam saat menjadi Guest Lecture di Universitas Muhammadiyah (UNIMUS) Semarang, pada Jumat (5/7).
Dia menjelaskan, semakin bertumbuhnya angka kepesertaan JKN membuat BPJS Kesehatan terus berbenah diri dengan mengembangkan beragam inovasi untuk memberikan kemudahan akses layanan kepada peserta JKN.
Salah satunya dengan penetapan Nomor Induk Kependudukan (NIK) sebagai salah satu identitas resmi kepesertaan JKN. Tak hanya itu, beragam layanan digital juga diluncurkan agar peserta JKN merasa lebih nyaman dalam pemanfaatannya nanti.
“Kami juga mempunyai Aplikasi Mobile JKN yang sangat lengkap. Di aplikasi ini juga ada KIS Digital, jadi peserta apabila lupa membawa kartu bisa memakai KIS Digital atau cukup menunjukkan NIK pada Kartu Tanda Penduduk (KTP),” ujarnya.
Ia menuturkan, BPJS Kesehatan melalui Transformasi Mutu Layanan ingin memberikan pelayanan terbaik kepada peserta JKN, yakni pelayanan yang mudah, cepat dan setara. Mudah, Selain NIK sebagai identitas peserta JKN, juga tidak ada fotokopi berkas dalam akses layanan.
Cepat, dengan pemanfaatan sistem antrean online dan optimalisasi kanal informasi dan pengaduan di fasilitas kesehatan.
“Pelayanan setara, artinya tanpa diskriminasi, tanpa iur biaya tambahan serta peningkatan layanan petugas yang ramah,” tambahnya.
Terlebih, akses pelayanan kesehatan juga terus bertambah seiring dengan peningkatan jumlah peserta. BPJS Kesehatan telah bekerja sama dengan 23.202 Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP), 3.129 Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjutan (FKRTL), serta 6.107 sarana penunjang seperti optik, apotek, dan laboratorium yang tersebar di seluruh nusantara.
Tercatat, pada tahun pertama Program JKN ini berjalan sejumlah 92,3 juta pemanfaatan pelayanan kesehatan telah dirasakan oleh peserta JKN. Pada tahun 2023, Program JKN ini telah dimanfaatkan sekitar 1,6 juta perhari atau 606,7 juta pemanfaatan pelayanan kesehatan dalam satu tahun.
“Secara tidak langsung Program JKN ini, membuka kesempatan seluas-luasnya bagi lulusan fakultas kedokteran dan lulusan bidang kesehatan lainnya untuk dapat berkontribusi penuh dalam ekosistem Program JKN dan bergotong-royong mewujudkan masyarakat yang sehat,” kata Ghufron.
Ghufron mengingatkan, agar lulusan bidang kesehatan dalam negeri tak perlu rendah diri. Dia yakin jika putra dan putri Indonesia memiliki kompetensi yang tidak kalah serta mampu bersaing baik di kancah nasional maupun internasional.
Lebih lanjut, Ghufron berharap dengan telah terjalinnya kolaborasi dan kerja sama antara BPJS Kesehatan dengan UNIMUS Semarang, insan UNIMUS Semarang yang telah selesai menimba ilmu, juga dapat menjadi salah satu bagian dari Program JKN.
Usia kegiatan, Ghufron beserta jajaran berkesempatan mengunjungi dan meninjau pelayanan kesehatan di RS UNIMUS Semarang. Dia berharap, fasilitas kesehatan ini memberikan layanan terbaik kepada pasien dan berkontribusi menyejahterakan masyarakat di bidang kesehatan.