Baca Juga: Merusak Misi Damai, 18 Anggota OPM Ditembak Mati Prajurit TNI di Intan Jaya
Jawaban tersebut membuat Umar mengira bahwa di rombongan kafilah pasti ada orang yang sangat alim. Kemudian diperintakannya pula untuk bertanya’ “Ayat Qur’an manakah yang paling agung? Ayat apakah yang paling kuat hukumnya? Dan ayat Qur’an manakah yang paling luas cakupannya?” Setiap pertanyaan dijawab dengan baik oleh Abdullah. Hingga tiba satu pertanyaan, “Kabar ayat Qur’an manakah yang paling menakutkan?” Abdullah menjawab,“(Pahala dari Allah) itu bukanlah menurut angan-anganmu yang kosong dan tidak (pula) menurut angan-angan ahli Kitab. Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu dan ia tidak mendapat pelindung dan tidak (pula) penolong baginya selain dari Allah.” (QS. An Nisaa’ ; 123)
*Takut Kepada Allah*
Abdullah bin Mas’ud menilai ayat ini memberikan kabar yang menakutkan. Pendapat itu disetujui oleh Umar. Kabar yang menakutkan yang pertama ada pada kalimat “pahala itu bukanlah seperti angan-anganmu”. Ayat ini menjadikan setiap orang haruslah takut kepada Allah, bahwa sesungguhnya Allah-lah yang mengatur kehidupan manusia.
Apalagi para ulama biasanya sangat takut kepada Allah, khawatir amal mereka tidak diterima. Sebab, semakin seseorang memiliki ilmu dan banyak amal, dia semakin takut kepada Allah. Selama ini, boleh jadi kita sering mengingat kebaikan yang pernah kita lakukan, berbagai ibadah yang kita jalankan. Lalu kita mengkalkulasi, begitu banyak pahala yang menurut kita telah kita kumpulkan. Semestinya kita khawatir, jangan-jangan nilai disisi Allah sebenarnya jauh dari angan-angan kita.
Baca Juga: Islam Memberikan Kedudukan Tinggi Bagi Kaum Wanita yang Shalihah
Kelak akan banyak orang yang celaka. Mereka merasa telah berbuat yang sebaik-baiknya, padahal apa yang dianggap baik, ternyata bukan kebaikan menurut Alloh,;“Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.” (QS. Al Kahfi : 104). Ibnu Qayyim al-Jauziyah menafsirkan maksud yang merugi dalam ayat ini, “inilah hasil amalan yang bukan diperuntukkan Allah, atau tidak mengikuti sunnah Rasulullah Shallalahu ‘alihi wa sallam.”
Ikhlas
Maka selayaknya kita memperhatikan dan mengevaluasi amal kita, sebelum dan sesudahnya. Sebelum beramal, selayaknya kita bertanya,” untuk siapa saya beramal? Dan bagaimana saya mesti beramal?” Jawaban yang pertama adalah dengan mewajibkan hati kita untuk ikhlas, yakni tidak beramal dan berbuat kecuali hanya karena Allah semata. Adapun pertanyaan kedua, “bagaimana saya mesti beramal?” Jawabannya haruslah dengan, mengikuti sunnah Rasulullah Shallalahu ‘alihi wa sallam. “Barangsiapa yang beramal dengan suatu amalan yang tidak ada perintah dariku, maka tertolak.” (HR. Bukhari)
Amal yang diterima oleh Allah, hanyalah amal yang ikhlas dan benar. Sementara kita tidak bisa menjamin, bahwa semua yang kita lakukan sudah ikhlas seperti yang diperintahkan, baik sebelum amal, tatkala beramal, dan ba’da amal. Tidak heran jika ulama salaf mengatakan, “ikhlas itu berat.” Sufyan ast-Tsauri juga berkata, ”Aku tidak pernah mengobati penyakit yang lebih berat dari mengobati niatku.” Orang yang beribadah tapi tidak ikhlas atau tidak benar, kelak akan tertipu oleh angan-angannya.
Baca Juga: Muslim RI Diincar untuk Siap Menikmati Wisata Halal Dunia
Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam barsabda,;“Sesungguhnya orang yang bangkrut dikalangan umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan pahala sholat, sgaum, maupun zakat. Akan tetapi dia telah mencela ini, menuduh itu, memekan harta si anu, menumpahkan darah si anu, memukul si anu, lalu kebaikannya diberikan kepada si ini, kebaikan lain diberikan kepada si itu, hingga kebaikannya telah habis sementara ke dzhalimannya belum terlunasi, maka dosa orang yang didzhalimi ditimpali kepadanya, lalu dia dilemparkan ke neraka.” (HR. Muslim).
Dalam hadist tadi, terdapat ancaman menakutkan. Namun juga ada hiburan yang melegakan. Dimana setiap kesusahan dan penderitaan sekecil apapun yang dialami oleh seorang muslim itu adalah kafarah (penebus) bagi dosa. Pada akhirnya, kita berdo’a, semoga Allah berkenan mengampuni dosa-dosa kita dan menyelamatkan kita dari siksa neraka. Semoga Allah memberikan kegembiraan berupa pengampunan atas dosa-dosa kita semua. Doa adalah senjata bagi umat yang beriman.(*)