SUARA PEMBARUAN - Dalam suatu majelis yang hangat dan penuh keakraban, para sahabat Rasulullah ﷺ berkumpul dan melontarkan pertanyaan yang menggambarkan kepekaan hati mereka.
"Wahai Rasulullah," kata mereka, "orang-orang kaya telah memborong pahala. Mereka shalat sebagaimana kami shalat, mereka berpuasa sebagaimana kami berpuasa, dan mereka dapat bersedekah dengan kelebihan harta mereka. Lalu bagaimana dengan kami yang miskin ini?"
Rasulullah ﷺ menatap mereka dengan penuh kasih dan memberikan jawaban yang menenangkan jiwa:
“Bukankah Allah telah menjadikan bagi kalian sesuatu untuk bersedekah? Sesungguhnya setiap tasbih adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap tahlil adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, menyuruh kepada kebaikan adalah sedekah, mencegah kemungkaran adalah sedekah, dan berhubungan (jima’) salah seorang di antara kalian dengan istrinya juga merupakan sedekah.” (HR. Muslim no. 1006)
Hadis ini diriwayatkan juga oleh Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, dan dijelaskan dalam Arba’in Nawawi, bahwa para sahabat yang miskin merasa bukan iri, tapi bersemangat mencari jalan untuk menyamai pahala saudara mereka yang lebih mampu. Ini bukanlah kedengkian, melainkan rasa ingin berlomba-lomba dalam kebaikan (musabaqah fil khairat).
Baca Juga: Islam Memberikan Kedudukan Tinggi Bagi Kaum Wanita yang Shalihah
Dalam hadis ini, Rasulullah ﷺ membukakan pintu sedekah yang sangat luas — bahwa ia tidak terbatas pada materi. Bahkan dzikir seperti Subhanallah, Alhamdulillah, La ilaha illallah, dan Allahu Akbar, adalah sedekah. Begitu pula setiap ajakan kepada kebaikan dan setiap larangan terhadap kemungkaran, semuanya tercatat sebagai sedekah.
Dalam hal yang tampaknya sangat duniawi seperti hubungan suami-istri, Islam mengajarkan bahwa itu pun dapat menjadi ladang pahala, jika diniatkan dengan benar.
“Tahukah kalian,” sabda Rasulullah ﷺ, “jika seseorang memenuhi syahwatnya pada yang haram, maka dia berdosa. Maka jika ia memenuhi syahwatnya itu pada yang halal, ia mendapatkan pahala.” (HR. Muslim)
Imam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan bahwa syahwat yang disalurkan dengan halal, seperti hubungan suami-istri, justru membawa banyak maslahat: menjaga pandangan, menahan diri dari zina, menjaga keturunan, dan memperbanyak umat Islam.
Lebih lanjut, Ustaz Mugiono, M.Pd.I, dosen UIN Raden Fatah Palembang, menyampaikan dalam ceramahnya, bahwa: "Hadis ini menunjukkan bahwa keikhlasan dan niat adalah kunci. Perbuatan yang mubah bisa menjadi pahala jika diniatkan karena Allah. Bahkan apa yang kita suapkan ke mulut istri, bisa menjadi sedekah, jika karena mengharap ridha-Nya."
Rasulullah ﷺ juga bersabda: “Tidaklah nafkah yang engkau cari karena mengharap wajah Allah kecuali engkau akan diberi balasan karenanya, bahkan sampai apa yang engkau suapkan ke mulut istrimu.” (HR. Bukhari no. 56)
Baca Juga: Muslim RI Diincar untuk Siap Menikmati Wisata Halal Dunia
Dalam konteks ini, kita memahami bahwa Allah Yang Maha Pemurah telah membuka banyak pintu amal bagi siapa saja. Tak peduli miskin atau kaya, semua bisa memberi dan bersedekah. Bahkan senyum yang tulus kepada saudaramu adalah sedekah.
Artikel Terkait
JK : Jadikan Negara Asia Tenggara Pusat Pendidikan Tinggi Islam
Adab Bekerja Bagi Seorang Islam
Jusuf Kalla Bertemu Wakil Grand Syaikh Al-Azhar, Bahas Kerja Sama Pendidikan Islam
Indonesia dan Mesir Miliki Kesamaan Memandang Islam Moderat dan Junjung Tinggi Toleransi
Prabowo Minta kepada Mahasiswa RI di Al Azhar Kairo untuk Belajar Islam yang Sejuk
Pemprov Bengkulu dan PMII Bahas Penguatan Peran Mahasiswa Islam
Islam Memberikan Kedudukan Tinggi Bagi Kaum Wanita yang Shalihah