Menurut Hendro, tindakan tersebut menjadi awal intimidasi dan penyiksaan yang dilakukan untuk menekan mental para relawan.
“Penyiksaan mereka mulai dari situ, ketika tidak ada pengakuan, terjadi penembakan untuk menakuti mental,” lanjutnya.
Tak berhenti di situ, Hendro juga mengaku mengalami penyiksaan fisik saat berada di dalam kontainer kapal milik Israel sebelum dipindahkan ke penjara.
Ia menyebut dirinya sempat disetrum dan mengalami kekerasan fisik di ruang gelap.
“Kemudian kami dibawa ke penjara, dan saat itu saya masih berada di kapal Israel dan penyiksaan dimulai di dalam kontainer. Kalau saya, disetrum karena badan kecil,” tuturnya.
Ia menggambarkan kondisi mencekam ketika tentara Israel berbadan besar melakukan kekerasan terhadap para relawan di ruang tertutup.
“Bayangkan, saat itu di ruangan gelap dan tentara Israel yang berbadan besar menendang-nendang. Itu pasti yang dirasakan anak-anak Palestina,” katanya.
Selain menceritakan kekerasan yang dialami, Hendro juga menyoroti dugaan propaganda informasi yang dilakukan pihak Israel kepada publik internasional.
Menurutnya, narasi yang disampaikan kepada dunia luar seolah menunjukkan para relawan diperlakukan baik, padahal kenyataannya berbeda.
“Perlu diingat, kebaikan yang terlihat bagi mereka adalah penderitaan,” tegas Hendro.
Ia menilai banyak pihak mendapat informasi yang tidak sesuai fakta karena narasi yang dibangun tidak menggambarkan situasi sebenarnya.
“Contohnya saat mereka menginformasikan tengah membantu para relawan, padahal sebenarnya mereka sedang menyiksa,” ujarnya.
Hingga kini belum ada tanggapan resmi dari pihak Israel terkait kesaksian para relawan GSF tersebut. Namun pengalaman yang dibagikan Hendro dan relawan lainnya terus memicu perhatian publik internasional terhadap kondisi kemanusiaan di Gaza dan perlakuan terhadap aktivis kemanusiaan di wilayah konflik.