Manila, SUARA PEMBARUAN — Kebijakan darurat energi nasional yang diumumkan pemerintah Filipina memicu perhatian luas publik Indonesia. Status ini resmi berlaku sejak 26 Maret 2026, setelah Presiden Ferdinand Marcos Jr. menetapkannya beberapa hari sebelumnya menyusul krisis pasokan bahan bakar.
Akar persoalan bermula dari memanasnya konflik di Timur Tengah, khususnya setelah penutupan Selat Hormuz oleh Iran sebagai respons atas serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel. Dampaknya langsung terasa bagi Filipina yang selama ini bergantung pada impor minyak dari kawasan tersebut.
Ketergantungan tinggi terhadap impor—mencapai sekitar 90 persen kebutuhan nasional—membuat pasokan energi Filipina kini berada di ambang kritis. Sejak konflik meningkat pada akhir Februari 2026, distribusi bahan bakar terganggu dan harga melonjak tajam.
Di ibu kota Manila, perubahan gaya hidup warga mulai terlihat. Banyak pekerja yang sebelumnya menggunakan kendaraan pribadi atau transportasi umum kini memilih berjalan kaki ke tempat kerja akibat kelangkaan BBM dan harga yang tak terjangkau.
Kondisi ini turut diperparah oleh keterbatasan cadangan energi. Data dari Departemen Energi Filipina menunjukkan stok bensin hanya cukup untuk sekitar 53 hari, sementara diesel diperkirakan bertahan 46 hari dan bahan bakar jet hanya 39 hari.
Dampak krisis juga menghantam sektor transportasi. Puluhan ribu pengemudi jeepney—kendaraan ikonik Filipina—dan becak motor terpaksa mengurangi operasional bahkan berhenti total karena lonjakan harga bahan bakar. Kenaikan harga diesel dilaporkan mencapai lebih dari 120 peso per liter, hampir dua kali lipat dari harga normal.
Pemerintah memang telah menyalurkan bantuan tunai kepada para pengemudi terdampak, namun dinilai belum mampu menutup beban biaya operasional. Sejumlah kelompok pekerja transportasi bahkan mulai menyuarakan rencana aksi protes besar-besaran di Manila.
Menghadapi situasi ini, pemerintahan Marcos bergerak mencari alternatif pasokan energi. Langkah yang ditempuh antara lain menjajaki kerja sama impor minyak dari negara-negara seperti Rusia, China, serta kawasan Asia Tenggara. Bahkan, Filipina dilaporkan kembali membuka jalur impor minyak dari Rusia untuk pertama kalinya dalam lima tahun terakhir.
Salah satu pengiriman yang disorot adalah kedatangan tanker Rusia yang membawa ratusan ribu barel minyak mentah menuju terminal energi nasional. Upaya ini diharapkan mampu meredam tekanan krisis, meski tantangan pemulihan pasokan masih cukup besar di tengah ketidakpastian geopolitik global.*