Inggris Akui Palestina, Israel Ancam Balas dengan Aneksasi Tepi Barat

Photo Author
Stefy Thenu, Suara Pembaruan
- Selasa, 23 September 2025 | 06:14 WIB
Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer (kiri) akui Palestina merdeka di tengah Menteri Keamanan Israel, Ben Gvir (kanan) desak pencaplokan Tepi Barat. (Instagram.com/@keirstarmer - @otzma_yehudit)
Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer (kiri) akui Palestina merdeka di tengah Menteri Keamanan Israel, Ben Gvir (kanan) desak pencaplokan Tepi Barat. (Instagram.com/@keirstarmer - @otzma_yehudit)

 


Jakarta, SUARA PEMBARUAN - Untuk pertama kalinya dalam lebih dari seratus tahun, Inggris secara resmi mengakui Palestina sebagai sebuah negara.

Langkah bersejarah ini menandai perubahan besar dalam dinamika politik internasional dan disambut luas sebagai peluang baru menuju solusi damai dua negara. Namun, keputusan tersebut justru memicu reaksi keras dari sejumlah menteri Israel yang kembali menghidupkan wacana aneksasi Tepi Barat.

Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, dalam pernyataan video pada Minggu (21/9/2025), menegaskan pengakuan ini bertujuan menjaga peluang perdamaian tetap terbuka di tengah memburuknya situasi di Gaza.

Ia juga menekankan bahwa langkah ini dilakukan bersama tiga sekutu—Kanada, Australia, dan Portugal—yang sehari sebelumnya mengumumkan dukungan serupa. Kini, lebih dari 140 negara di dunia telah menyatakan pengakuan terhadap Palestina.

Namun di Israel, Menteri Keamanan Itamar Ben Gvir menilai keputusan itu sebagai ancaman. Ia menyerukan percepatan penerapan kedaulatan Israel di Yudea dan Samaria serta pembubaran penuh Otoritas Palestina. Bahkan, ia berjanji akan mengajukan proposal aneksasi dalam rapat kabinet mendatang.

Nada serupa disampaikan Menteri Keuangan Israel, Bezalel Smotrich. Ia menolak intervensi negara lain dalam menentukan masa depan Israel, sembari menegaskan bahwa satu-satunya jawaban atas langkah “anti-Israel” adalah kedaulatan penuh atas tanah yang diklaim sebagai warisan Yahudi. Smotrich pun mendesak Perdana Menteri Benjamin Netanyahu agar segera mengambil langkah tegas.

Netanyahu sendiri menyebut pengakuan tersebut sebagai “hadiah bagi terorisme” dan memastikan tidak akan ada negara Palestina di barat Sungai Yordan. Ia juga berjanji akan melawan keputusan itu melalui forum PBB dan arena diplomasi lainnya dalam beberapa hari ke depan.

Sementara itu, Palestina menyambut penuh dukungan internasional ini. Menteri Luar Negeri Otoritas Palestina, Varsen Aghabekian Shahin, menyebut pengakuan dari Inggris dan ratusan negara lainnya sebagai pesan penting bagi rakyat Palestina.

“Ini adalah pesan harapan untuk masa depan yang bebas, merdeka, dan berdaulat,” ujarnya dalam konferensi pers di Ramallah. Ia juga menuding tindakan Israel sebagai upaya sistematis menghapus eksistensi bangsa Palestina, budaya, dan masa depannya.

Kini, dunia menanti arah perkembangan diplomasi global, di tengah dukungan internasional yang semakin menguat terhadap kedaulatan Palestina, berhadapan dengan sikap keras Israel yang berupaya menggagalkannya.

Editor: Stefy Thenu

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X