Misa Inaugurasi, Paus Leo XIV Serukan Gereja Kasih dan Persatuan : 'Inilah Momentum Kasih!'

Photo Author
Stefy Thenu, Suara Pembaruan
- Senin, 19 Mei 2025 | 05:30 WIB
Paus Leo XIV saat dipasangkan Cincin Nelayan, sebelum misa inaugurasi pelantikan.  (ist)
Paus Leo XIV saat dipasangkan Cincin Nelayan, sebelum misa inaugurasi pelantikan. (ist)

Vatikan, SUARA PEMBARUAN – Dalam homili perdananya sebagai Paus, Leo XIV menyerukan Gereja universal untuk kembali pada panggilan dasarnya: kasih dan persatuan.

Misa inaugurasi yang berlangsung di Basilika Santo Petrus, Vatikan, ini dihadiri ribuan peziarah dari seluruh dunia, termasuk para kardinal, pemimpin negara, dan anggota korps diplomatik.

Paus Leo XIV memulai khotbahnya dengan penuh syukur, mengutip refleksi Santo Agustinus tentang kegelisahan hati manusia yang hanya tenang dalam Allah. Ia mengenang wafatnya Paus Fransiskus sebagai momen duka, namun menekankan bahwa Gereja tidak pernah ditinggalkan oleh Sang Gembala Agung.

“Dengan takut dan gemetar, saya datang kepada Anda sebagai seorang saudara, untuk berjalan bersama dalam kasih Allah,” tutur Paus Leo XIV dalam nada rendah hati namun tegas.

Mengambil inspirasi dari peristiwa kebangkitan Yesus di Danau Tiberias, ia menekankan bahwa misi Gereja bukanlah dominasi, propaganda, atau kuasa, tetapi pelayanan dalam kasih seperti yang dicontohkan Kristus. “Pelayanan Petrus ditandai oleh kasih yang rela berkorban. Gereja Roma memimpin dalam amal kasih. Otoritas sejatinya adalah Kasih Kristus,” ujarnya.

Ia juga memperingatkan bahaya hierarkisme dan eksklusivisme dalam Gereja. “Petrus tidak dipanggil untuk menjadi tuan atas umat, tetapi untuk menggembalakan mereka dengan rendah hati,” katanya, seraya mengutip 1 Petrus dan ajaran Santo Agustinus tentang Gereja sebagai komunitas kasih.

Dalam dunia yang tercerai-berai oleh kebencian, ketakutan, dan ketimpangan ekonomi, Paus Leo XIV mengajak umat Kristiani menjadi ragi perdamaian dan harmoni. Ia menegaskan pentingnya dialog lintas agama dan kerja sama dengan semua orang yang berkehendak baik, “membangun dunia baru di mana perdamaian berkuasa.”

Mengutip Paus Leo XIII, pendahulunya di abad ke-19, ia menutup homilinya dengan pertanyaan reflektif: “Bila ajaran kasih itu memang subur, tidakkah semua pertentangan akan segera berakhir?”

Homili ini menandai awal masa kepemimpinan Paus Leo XIV, yang tampaknya akan mengusung arah Gereja yang misioner, inklusif, dan berakar kuat pada kasih ilahi. Dengan semangat yang membumi namun berjangkauan universal, ia mengajak seluruh umat untuk “bersama-sama, sebagai semua saudara, berjalan menuju Allah dan saling mengasihi.”

 

Editor: Stefy Thenu

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X