Irwan Hidayat Dorong Negara Bangun Pasar Jamu, Industri Herbal Jateng Kian Menguat

Photo Author
Stefy Thenu, Suara Pembaruan
- Jumat, 23 Januari 2026 | 17:12 WIB
Tim Kerja Spesifik Komisi VII DPR RI dipimpin Evita Nursanty melihat proses produksi di pabrik Jamu dan Farmasi Sido Muncul, Bergas, Kabupaten Semarang, Jumat (23/1/2026).  (SP/Stefy Thenu)
Tim Kerja Spesifik Komisi VII DPR RI dipimpin Evita Nursanty melihat proses produksi di pabrik Jamu dan Farmasi Sido Muncul, Bergas, Kabupaten Semarang, Jumat (23/1/2026). (SP/Stefy Thenu)


Ekspor jamu Jawa Tengah tembus USD 24,6 juta hingga November 2025, namun penguatan pasar dinilai kunci keberlanjutan industri herbal nasional.

Semarang,  SUARA PEMBARUAN — Direktur PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk, Irwan Hidayat, menegaskan bahwa peran pemerintah dalam membangun pasar (market) menjadi faktor krusial agar industri jamu dan produk berbasis bahan alam dapat tumbuh inklusif, berkelanjutan, dan memberi manfaat luas bagi masyarakat.Baca Juga: Seruan Damai Tokoh Adat Dogiyai, Masyarakat Diminta Jaga Kamtibmas


Irwan menilai, kemajuan industri jamu tidak cukup hanya ditopang oleh kekuatan korporasi besar. Negara perlu hadir melalui kebijakan strategis yang mendorong terbentuknya pasar jamu nasional yang kuat, sehingga petani, pengrajin bahan baku, hingga pelaku UMKM bisa ikut terlibat dalam rantai nilai industri herbal.


“Yang paling penting itu market. Kalau pasarnya dibangun oleh pemerintah, semua bisa ikut berpartisipasi. Bukan hanya perusahaan besar,” ujar Irwan, saat menerima kunjungan Tim Kerja Spesifik Komisi VII DPR RI di pabrik jamu miliknya, Jumat (23/1/2026). Baca Juga: Dukung Pilkada Lewat DPRD, Firman Soebagyo Soroti Biaya Politik dan Korupsi


Ia berkaca pada pengalamannya membangun Sido Muncul sejak akhir 1960-an hingga 1980-an dalam keterbatasan. Menurutnya, proses membangun usaha dari nol justru membentuk karakter dan semangat berbagi manfaat dengan banyak pihak.


“Dulu kami membangun dalam kondisi serba tidak ada. Sekarang mungkin lebih mudah, tapi nilai kebersamaan itu yang harus dijaga. Saya tidak ingin hanya satu yang maju, tapi semua bisa jalan bersama,” tegasnya.Baca Juga: PT Freeport Indonesia Perkuat Komitmen Keselamatan Kerja Lewat Kegiatan Serentak di Tiga Wilayah


Irwan menjelaskan, Indonesia sejatinya tidak kekurangan bahan baku herbal. Kekayaan hayati yang melimpah justru menjadi keunggulan utama. Tantangan sesungguhnya terletak pada strategi kebijakan pemerintah dalam menciptakan kebutuhan dan kesadaran pasar terhadap produk jamu.


Ia mengungkapkan telah menyusun kompendium bahan alam Indonesia yang memuat hasil uji dan informasi khasiat berbagai tanaman herbal untuk pengobatan, mulai dari penyakit kanker, liver, lambung, hingga gangguan pencernaan seperti GERD. Kompendium tersebut direncanakan akan diluncurkan bersama pemerintah.Baca Juga: Aksi Mandi Lumpur Kades Sunarso Viral, Gegara Protes Jalan Rusak 24 Tahun Tak Diperbaiki

Kompendium adalah ringkasan padat atau ikhtisar yang berisi poin-poin penting atau prinsip utama dari suatu bidang ilmu, karya, atau topik yang lebih luas; intinya, ia merangkum pengetahuan secara komprehensif tetapi ringkas.

“Kalau masyarakat tahu manfaatnya, mereka akan mencari obat berbasis bahan alam. Ketika permintaan tumbuh, petani akan bergerak, pengrajin ikut hidup. Ini seperti lokomotif yang menarik gerbong-gerbong ekonomi di belakangnya,” jelas Irwan.Baca Juga: Puting Beliung Terjang Pasar Karangpandan, Dagangan Pedagang Beterbangan


Ia menegaskan visinya menjadikan industri jamu sebagai ekosistem bersama dari hulu hingga hilir, bukan sekadar bisnis, tetapi kekuatan ekonomi berbasis kearifan lokal.


Sementara itu, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mencatat sektor industri terus memberi kontribusi positif terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) pada triwulan III tahun 2025. Capaian ini didorong oleh kemudahan perizinan usaha, kebijakan peningkatan iklim investasi, serta dukungan infrastruktur dan sumber daya alam.Baca Juga: Firman Soebagyo Usul Satgas PKH Jadi Badan Permanen di Bawah Presiden


Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jawa Tengah, Yully Emmylia, menyebut kemajuan industri daerah ditandai berkembangnya sejumlah kawasan industri strategis, seperti Kawasan Industri Kendal, Kawasan Industri Wijaya Kusuma, dan Kawasan Industri Terpadu Batang. 


Dari sisi perdagangan luar negeri, hingga November 2025 nilai ekspor jamu Jawa Tengah tercatat mencapai USD 24,6 juta, atau sekitar 0,22 persen dari total ekspor nonmigas Jawa Tengah. Negara tujuan ekspor meliputi Jepang, Amerika Serikat, Eropa, Timur Tengah, serta negara-negara Asia.Baca Juga: Uji Materi UU Pensiun DPR di MK, Warga Soroti Hak Seumur Hidup Dinilai Tak Adil

Halaman:

Editor: Stefy Thenu

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X