Perjalanan iman jarang dimulai dari tempat yang terang, namun sering lahir dari lorong-lorong gelap batin, dari hati yang lelah oleh dosa, dan dari jiwa yang terlalu lama merasa jauh dari pangkuan Sang Gusti. Begitulah kisah seorang pendosa—bukan pendosa dalam arti label moral semata, melainkan manusia yang tersesat oleh kehendaknya sendiri, terikat pada kesombongan, ketakutan, dan keakuan. Di ruangan yang gelap, dalam kitab suci yang kusam dan lusuh tertutup debu, samar-samar dilihatnya tertulis, “Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah”.Baca Juga: Jurnalisme di Tengah Riuh Zaman: Antara Kecepatan, Etika, Kekuasaan dan Nurani
Ia menjalani hidup dengan keyakinan bahwa dirinya mampu berdiri sendiri. Dunia dijadikan pusat, ambisi dijunjung tinggi, dan suara hati perlahan diredam. Dosa tidak selalu tampak sebagai kejahatan besar; kadang ia hadir dalam bentuk keengganan untuk peduli, dalam pembenaran diri yang terus-menerus, atau dalam penolakan halus terhadap kebenaran. Hati menjadi keras, namun anehnya juga rapuh. Dulu, saat dia masih kecil, guru sekolah minggunya pernah menyampaikan Firman Tuhan, “Hati itu licik, lebih licik dari pada segala sesuatu, hatinya sudah membatu”.Baca Juga: Kepala Suku Kamoro: Jangan Biarkan Kekerasan Rusak Masa Depan Papua
Pada titik tertentu, di usianya yang kian merambat jauh, dan rambutnya yang kian memutih, kelelahan itu tak lagi bisa disembunyikan. Ada kehampaan yang tak terisi oleh keberhasilan, relasi, atau pujian. Di sanalah Sang Juruselamat bekerja—dengan bisikan lembut yang menembus retakan hati. Sebuah panggilan untuk pulang. Sayup-sayup didengarnya, sebuah suara yang lirih penuh kasih, “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu”.Baca Juga: Turmini Tenis Meja Gelapa Series 2 2026 Siap Digelar, Pertoe Siap Jadi Tuan Rumah yang Baik
Pertobatan bukanlah peristiwa instan. Seperti orang yang melakukan perjalanan panjang, dan pelan-pelan menyadari bahwa arah hidupnya keliru. Ada rasa malu saat menoleh ke belakang, ada tangis ketika menyadari betapa banyak kesempatan yang disia-siakan. Namun dalam terang kasih Sang Juruselamat, rasa malu itu tidak mematikan—ia justru menyembuhkan. Sebab “jika kita mengaku dosa kita, maka Allah adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan”, begitu ungkap pastor gerejanya suatu kali, saat ditemuinya di sudut taman doa kecil di pinggir sawah.Baca Juga: Brimob Turun Gunung! Pantai dan Sungai di Jateng Disulap Bersih dalam Sehari
Dalam terang dan kasih, si pendosa pun tertunduk dalam kepasrahan. Pasrah pada Sang Gusti untuk melepaskan semua dosa dan khilaf yang sejak muda diakrabinya. Kegilaan dan kesesatan yang dulu begitu mudah diumbarnya, kini membuatnya tenggelam dalam rasa malu dan sesal yang panjang. Saat semuanya belum terlambat, Tuhan lebih dulu menemukannya. Membasuh semua dosanya yang merah bak kirmizi menjadi seputih salju. Dari kepingan demi kepingan iman yang tersisa, cahaya kasihNya menuntunnya menemukan jalan pulang.Baca Juga: Mal Ciputra Jakarta Kembali Hadirkan CL Cup Mural Competition 2026, SMP Athalia dan SMA UPH College Raih Juara
Iman sejati tumbuh ketika seseorang berhenti bernegosiasi dengan kebenaran. Saat ia menyerahkan kehendaknya, meletakkan egonya, dan berkata dengan jujur: “Tuhan, aku lelah.” Di titik inilah iman bukan lagi sekadar pengetahuan atau tradisi, melainkan relasi yang hidup. “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang”.Baca Juga: Wacana Ekspor 1 Juta Ton Beras, DPR Ingatkan Pemerintah Jangan Gegabah
Mengikuti Kristus berarti ndherek gesang anyar—hidup baru yang menuntut kesetiaan dalam perkara kecil. Doa menjadi napas, sabda menjadi pelita, dan kasih menjadi jalan. Pendosa yang dahulu hidup untuk dirinya sendiri kini belajar memandang dunia dengan mata hati yang dituntun Roh Kudus. Seperti yang diingatkan Yesus bahwa “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku”.Baca Juga: Corporate Wellness Program 2025 Ditutup, Perwira Pertamina Diajak Konsisten Jalani Hidup Sehat
Suatu hari, dalam sebuah misa, gembala gerejanya berbicara soal hakikat melayani. Bahwa melayani bukan semata melayani manusia, tapi sejatinya demi kemuliaanNya. Ada kalimat yang indah soal ini: “Jika memilih pilihlah yang terbaik, dan jika dipilih jadilah yang terbaik!” Semua reksa pelayanan yang kita lakukan untuk memperluas Kerajaan Allah. “Apa yang kita perbuat semata-mata untuk Ndherek jembaraken Kraton Dalem Gusti,” ungkap Sang Romo di ujung homilinya.Baca Juga: Indonesia Kaya Hadirkan Padel Berkebaya: Kebaya Menyatu dengan Gaya Hidup Aktif Generasi Muda
Frasa ndherek jembaraken Kraton Dalem Gusti tidak berbicara tentang kekuasaan atau wilayah, melainkan tentang hati manusia. Kerajaan Allah meluas setiap kali ada pengampunan yang diberikan, setiap kali kebenaran ditegakkan dengan kasih, dan setiap kali seorang percaya memilih setia di tengah dunia yang kompromistis. Karena “Kerajaan Allah bukan soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus” (Roma 14:17).Baca Juga: Presiden Apresiasi Konsistensi NU Menjaga Kerukunan Antarumat Beragama di Indonesia
Dalam kebijaksanaan Jawa, pengabdian sejati lahir dari kesadaran akan posisi diri. Manusia bukan pusat semesta. Ia hanyalah kawula yang hidup oleh anugerah. Ketika kesadaran ini meresap, pelayanan tidak lagi menjadi beban, melainkan wujud syukur. Seperti nasihat rasul Paulus: “Karena kasih karunia Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang, dan kasih karunia yang dianugerahkan-Nya kepadaku tidak sia-sia”.Baca Juga: Prabowo–Albanese Teken Traktat Keamanan, RI–Australia Perkuat Konsultasi Strategis
Perjalanan pertobatan ini tidak tanpa jatuh bangun. Kadang bayang-bayang lama datang kembali, dan langkah terasa goyah. Namun iman sejati tahu ke mana harus kembali. Sang Juruselamat yang sama yang memanggil di awal perjalanan tetap setia menopang hingga akhir. Firman Tuhan meneguhkan: “Ia yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus”.Baca Juga: RI–Australia Teken Treaty Keamanan, Sugiono: Bukan Pakta Militer, Tapi Forum Konsultasi Rutin
Akhirnya, perjalanan seorang pendosa menuju iman sejati adalah kisah tentang pulang—pulang kepada kasih yang tidak berubah, kepada kebenaran yang memerdekakan, dan kepada panggilan mulia untuk ndherek jembaraken kraton Dalem Gusti. Sebab “Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang”. Dan di sanalah, sang pendosa menemukan dirinya yang sejati: bukan lagi milik dosa, melainkan kawula dalam kasih Sang Juruselamat.*Baca Juga: HUT Gerindra Bikin Atribut Menjamur, Sekjen Sugiono Minta Maaf dan Perintahkan Dicopot
BUNG STH BICARA adalah kolom opini tentang isu hangat dan aktual yang ditulis oleh Stefy Thenu, jurnalis senior Suara Pembaruan, aktivis sejumlah organisasi, anggota PWI Jateng dan bersertifikat Wartawan Utama Dewan Pers.