Belajar dari (Kekalahan atas) Jepang

Photo Author
Stefy Thenu, Suara Pembaruan
- Rabu, 11 Juni 2025 | 09:16 WIB



Kekalahan telak 0-6 dari Jepang di Stadion Suita, Osaka, Selasa (10/6/2025), jadi hasil buruk yang menyesakkan dada, sekaligus tamparan keras - yang mengajak kita berhenti sejenak dari euforia dan mulai bercermin dengan jujur. Di balik skor yang mencolok itu, tersembunyi pelajaran mendalam tentang apa yang dimaksud dengan sepak bola modern, dan mengapa kita tertinggal.Baca Juga: Pemprov Bengkulu Serahkan Pengelolaan Taman Remaja ke Investor Swasta

Bung Towel, salah satu pengamat paling tajam dalam sepak bola Indonesia, menyebutnya sebagai “kebenaran sepak bola yang tak terbantahkan.” Pernyataan ini bukan bentuk keputusasaan, melainkan ajakan untuk menyadari kenyataan objektif—Jepang sudah lama menapaki proses panjang pembangunan sepak bola mereka dengan fondasi yang kokoh: filosofi, struktur, dan visi jangka panjang.

"Bahasa sederhananya," kata Bung Towel dalam program Rakyat Bersuara di iNews TV, Selasa (10/6/2025) malam, "mereka (Jepang) berhitung dari 1, 2, 3, dan seterusnya. Kita, dengan semua akselerasi yang terjadi belakangan ini, mungkin langsung lompat ke angka 6 atau 7." Analoginya jelas. Jepang tidak instan. Mereka tidak sekadar membeli waktu atau memoles nama besar, mereka membangun pondasi dari bawah.Baca Juga: Selamatkan Penumpang Kapal Tenggelam, Ramadhani dan Istri Diberangkatkan Gubernur Bengkulu Ibadah Umroh

Apa yang membedakan Jepang dari Indonesia? Identitas. Jepang bermain sebagai Jepang. Mereka bukan meniru gaya Eropa, bukan juga bergantung pada naturalisasi sebagai jalan pintas utama. Mereka punya filosofi bermain yang konsisten dari level usia dini hingga tim senior. Itu terlihat jelas saat kapten senior Wataru Endo memberikan ban kapten ke Takefusa Kubo, simbol regenerasi dan kepercayaan pada pemain muda.

Langkah ini bukan sekadar romantisme. Ini bukti bahwa kepemimpinan dan visi masa depan disiapkan dalam tim, bukan menunggu terjadi. Bahkan Bung Towel sudah memprediksi Hajime Moriyasu bakal digantikan oleh mantan kapten legendaris, Makoto Hasebe, usai Piala Dunia 2026. Artinya: regenerasi bukan hanya di atas lapangan, tapi juga di balik layar.Baca Juga: Respon Pencabutan IUP Raja Ampat, Ketua Bidang Kelautan MN KAHMI Angkat Suara

Sementara kita? Timnas Indonesia memang tengah berkembang pesat. Tapi perkembangan itu lebih banyak ditopang oleh gebrakan individual, kebijakan darurat, dan semangat heroisme. Bukan sistematis. Dan di situlah letak persoalan kita: tanpa sistem dan fondasi kuat, ledakan semangat hanya akan jadi kembang api sesaat.

Pelatih Timnas Patrick Kluivert, cukup jujur dalam pengakuannya usai dibantai Jepang. Ia menyebut lawan tampil dengan pressing kolektif luar biasa, pergerakan yang terorganisasi, dan kualitas individu yang unggul. Tapi yang paling menyakitkan adalah fakta bahwa Jepang tampil tanpa pemain bintang seperti Mitoma, Minamino, dan Morita—namun tetap dominan dan perkasa.Baca Juga: Nadiem Makarim Siap Bantu Ungkap Kasus Dugaan Korupsi Laptop Rp9,9 Triliun, Tegaskan Sikap Antikorupsi

Apa artinya ini? Jepang bukan bergantung pada nama, mereka bergantung pada sistem. Ketika satu pemain absen, pemain lainnya bisa mengisi peran itu tanpa kehilangan identitas permainan. Kita? Seringkali ketika satu pemain absen, wajah tim bisa berubah total. Bahkan filosofi bisa ikut menghilang.

Kita sedang bermimpi besar. Dan tidak ada yang salah dengan mimpi. Tapi mimpi tanpa desain adalah utopia. Jika kita ingin mencapai level Jepang, kita harus belajar dari caranya mereka membangun, bukan sekadar meniru hasil akhirnya.Baca Juga: Hasanuddin, Ketua PN Sungguminasa, Tinggalkan Gowa

Mulai dari pembinaan usia dini yang konsisten, kurikulum pelatihan yang menyatu dari tingkat akar rumput sampai elite, manajemen federasi yang bebas intervensi politik, hingga keberanian memberi tempat bagi pelatih-pelatih lokal berfilosofi. Jepang tak pernah "panic buying" untuk mengangkat citra.

Dan satu hal lagi: Jepang tidak membangun untuk sekadar lolos ke Piala Dunia. Mereka membangun untuk bisa bersaing di Piala Dunia. Ini dua hal yang sangat berbeda. Kita saat ini baru sampai pada tahap ingin “ikut tampil.” Jepang sudah berpikir: “bagaimana bisa menang.”Baca Juga: Coach Justin Soroti Semangat Bebas Pemain Timnas: Beckham hingga Kambuaya Bersinar Kontra China

Sejatinya, masih ada jalan panjang bagi Indonesia. Lolos ke Round 4 adalah capaian bersejarah. Tapi jangan sampai sejarah ini jadi semu karena kita terlalu cepat puas. Di Round 4 kita masih akan menghadapi lawan-lawan yang cukup berat: negara-negara Timur Tengah yang kerap licik "ngerjain" lawan-lawannya.

Kekalahan dari Jepang harus jadi momen refleksi nasional. Bukan hanya oleh pemain, tapi juga oleh federasi, pelatih, pengamat, media, bahkan publik. Kita harus mengambil hikmah atas kekalahan ini, dan menjadi pelecut untuk bangkit dan menjadi digdaya atas lawan-lawan kita di Round 4: sebelum mimpi menuju Piala Dunia 2026 benar-benar terkubur...*

BUNG STH BICARA adalah kolom opini tentang isu hangat dan aktual yang ditulis oleh Stefy Thenu, jurnalis senior Suara Pembaruan, aktivis sejumlah organisasi, anggota PWI Jateng dan bersertifikat Wartawan Utama Dewan Pers.

Halaman:

Editor: Stefy Thenu

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Jangan Tunggu (Sampai Ada) Revolusi !

Rabu, 4 Maret 2026 | 15:49 WIB

MBG Untuk Siapa?

Selasa, 24 Februari 2026 | 11:41 WIB

Jalan Pertobatan Menuju Masyarakat Sejahtera

Minggu, 15 Februari 2026 | 10:41 WIB

Wartawan Sejati, Manusia Baik

Rabu, 11 Februari 2026 | 08:40 WIB

Perjalanan Pulang

Senin, 9 Februari 2026 | 17:23 WIB

Reformasi Setengah Hati

Senin, 1 September 2025 | 11:29 WIB

Dwi Hartono dan Dark Triad Personality

Rabu, 27 Agustus 2025 | 10:30 WIB

Arya Daru Tewas, Diplomat Dibungkam?

Jumat, 11 Juli 2025 | 10:33 WIB

Porta Potty Party Dubai

Jumat, 27 Juni 2025 | 09:09 WIB

Gaji Hakim dan Mahalnya Keadilan

Jumat, 13 Juni 2025 | 08:55 WIB

Belajar dari (Kekalahan atas) Jepang

Rabu, 11 Juni 2025 | 09:16 WIB

Oom Simon, Terima Kasih!

Jumat, 23 Mei 2025 | 09:05 WIB

Ijazah dan Ilusi Bangsa yang Tertinggal

Jumat, 16 Mei 2025 | 10:35 WIB
X