Suatu ketika pada 1809, Paus Pius VII, mendekam di balik jeruji besi pasukan Napoleon. Dalam kesendirian yang kelam dan ketidakpastian, ia berseru dalam doa kepada Yesus— melalui pengantaraan Bunda Maria. Bukan hanya demi kebebasan dirinya, tetapi dengan kerendahan hati ia mengikrarkan sebuah janji: bila ia dibebaskan, satu bulan penuh akan dipersembahkan bagi devosi (dari bahasa Latin devotio: yang berarti pengorbanan, penyerahan, sumpah, kesalehan, cinta bakti) umat kepada sang Bunda.Baca Juga: Merusak Misi Damai, 18 Anggota OPM Ditembak Mati Prajurit TNI di Intan Jaya
Lima tahun kemudian, pada 24 Mei, kebebasan itu datang. Dan seperti Maria yang setia pada fiat-nya, Paus Pius VII pun menepati janjinya. Melalui ensiklik The Month of May, ia menetapkan bulan Mei sebagai waktu istimewa bagi Gereja untuk memandang Maria—bukan sekadar sebagai ibu surgawi, tetapi sebagai teladan iman yang teguh dan kasih yang tak tergoyahkan.
Bulan Maria bukan sekadar tradisi. Ia adalah ruang batin. Suatu undangan untuk berhenti sejenak dari hiruk-pikuk dunia, dan masuk ke dalam kesunyian di mana Tuhan berbicara kepada seorang perempuan sederhana dari Nazaret.Baca Juga: Komunikasi Desak KPK Tersangkakan Pengusaha Batubara Terkait Kasus Dugaan Korupsi Mantan Gubernur Rohidin Mersyah
Di antara gemuruh dunia dan riuhnya pencarian makna, ada satu sosok hening yang memikat hati umat beriman: Maria, ibu Yesus dari Nazaret. Kepadanya, Gereja memberikan penghormatan istimewa—devosi yang disebut hyperdulia—sebuah ungkapan cinta yang mendalam, hormat yang lembut, dan kekaguman yang penuh harap.
Bukan karena Maria adalah pusat keselamatan, tetapi karena ia membiarkan Allah bekerja sepenuhnya dalam dirinya. Ia adalah bejana rahmat, tempat di mana Sabda menjadi daging. Dalam keheningan kamarnya, ketika malaikat membawa kabar, Maria tidak meminta penjelasan. Tidak menuntut jaminan. Ia hanya menjawab, “Aku ini hamba Tuhan. Jadilah padaku menurut perkataan-Mu.” (Luk 1:38)Baca Juga: Lindungi Keselamatan Wisatawan, Pemkot Bengkulu Perketat Izin Usaha Wisata
Dan dari hatinya yang berserah, lahirlah nyanyian agung kerendahan hati: “Mulai sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia, karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku.” (Luk 1:48)
Mengapa hati kita tertarik padanya? Karena Maria tidak pernah mengangkat dirinya. Allah sendiri yang mengangkatnya, memilihnya menjadi Bunda Sang Juru Selamat—sebuah panggilan yang bukan hanya historis, tetapi terus berlangsung dalam rahmat. Seperti ditegaskan dalam Lumen Gentium, keibuannya tidak berakhir di kaki salib. Ia terus menyertai Gereja—mendoakan, menjadi pengantara, karena cinta seorang ibu tidak terikat ruang dan waktu.Baca Juga: 104 Perusahaan di Bengkulu Siap Salurkan CSR Untuk Kesejahteraan Masyarakat
Maria bukan pengganti Kristus. Ia menunjuk kepada-Nya. Ia adalah cermin bening yang memantulkan cahaya Putranya. Gereja sepanjang zaman memandangnya bukan sebagai tujuan, tetapi sebagai penuntun. "Ad Jesum per Mariam" — kepada Yesus melalui Maria — bukan sekadar semboyan lama, tapi napas iman yang terus hidup dalam hati yang berserah.
Dari Maria kita belajar bahwa kemuliaan tidak lahir dari kehebatan manusia, tapi dari penyerahan total kepada kehendak Allah. Ia menunjukkan bahwa kekuatan sejati tidak selalu bersuara lantang, tapi seringkali hadir dalam diam yang penuh iman.Baca Juga: UMK Academy Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi Mengantar Pia Putra Kusuma Naik Kelas
Devosi kepada Maria bukan pelarian dari Kristus. Justru di sanalah kita semakin memahami Kristus—dalam cara Maria mencintai, mendampingi, dan mendoakan. Maria tidak menghalangi jalan menuju Yesus. Ia membuka jalan itu lebih lebar dengan cintanya yang tak bersyarat.
Di balik sunyi kamar Nazaret, sejarah dunia diubah. Di sanalah porta fidei, pintu iman. Dalam rahimnya, Allah tidak datang sebagai penguasa, melainkan sebagai bayi. Maka dari hati yang bersih dan tubuh yang murni, lahirlah Kasih yang menjelma.Baca Juga: Gelombang PHK Massal di Indonesia: Mengapa Terus Berlanjut?
Maria adalah Hawa Baru—bukan yang membawa manusia jatuh, tapi yang membangkitkan. Ia adalah Tabut Perjanjian Baru—bukan dari emas, tapi dari daging yang kudus, yang mengandung Firman yang Hidup.
Dan ketika Yesus berkata dari salib, “Inilah ibumu,” (Yoh 19:27) Ia tidak hanya menyerahkan Maria kepada Yohanes, tapi menyerahkan Maria kepada seluruh Gereja. Sejak itu, Maria adalah milik setiap murid yang dikasihi.Baca Juga: Alma Wiranta : Sinergi Kejaksaan dan TNI untuk Memperkuat Pertahanan Negara
Artikel Terkait
Kodam IV/Diponegoro Bangun Gereja di Lingkungan Makodam
MBG Ini Program Yang Baik, Ketua Persekutuan Gereja-Gereja di Papua : Mari Kita Dukung Program Ini
Sidang Majelis Sinode Gereja Kibaid 2025 di Makassar, Ratusan Peserta Utusan 48 Klasis dari 27 Provinsi di Indonesia
Anggota Polres Kaur Jaga Gereja Amankan Perayaan Wafat Isa Almasih
Kardinal Luis Antonio Tagle, 'Fransiskus dari Asia': Kandidat Kuat Pengganti Paus di Tengah Harapan Baru Gereja