Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan China memasuki babak baru. Untuk pertama kalinya dalam dua tahun terakhir, dua raksasa ekonomi dunia ini menyepakati jeda dalam perang tarif yang telah mengguncang perekonomian global.Baca Juga: Bawa Ganja Karyawan PT. Freeport Ditangkap di Bandara Sentani
Perundingan intensif di Jenewa, Swiss, melahirkan kesepakatan dramatis untuk menurunkan tarif impor secara timbal balik selama 90 hari ke depan. Namun, apakah ini tanda perdamaian permanen atau sekadar taktik menunda kehancuran sistemik?Baca Juga: Pelanggaran ODOL di Gowa Merajalela, Bupati Husniah Minta Ditindak Tegas
Sejak awal, perang dagang ini bukanlah semata soal angka neraca perdagangan, melainkan pertarungan supremasi ekonomi global. Presiden Donald Trump membangun narasi tentang "kemenangan" melawan praktik dagang tidak adil China, sementara Beijing membalas dengan cara yang sama agresifnya.
Namun kini, di tengah tekanan ekonomi domestik dan peringatan resesi dari berbagai sektor industri AS, pendekatan maksimalis itu terpaksa melunak. Trump mengirimkan utusan kepercayaan — Menteri Keuangan Scott Bessent dan Perwakilan Dagang Jamieson Greer — ke meja perundingan dengan mandat jelas: redam krisis, jaga muka.Baca Juga: Pesona Silvia Roy Shita, Selebgram 'Pemersatu Bangsa' dari Pulau Dewata
Kesepakatan di Jenewa menandai penurunan tarif impor AS terhadap China dari 145% menjadi 30%, sementara tarif China terhadap AS dipangkas dari 125% menjadi 10%. Secara teknis, ini adalah de-eskalasi yang dramatis. Tetapi dalam dunia geopolitik dan ekonomi, pengurangan tarif ini bisa dibaca sebagai sinyal panik — bukan strategi matang.
Para penasihat Trump menyebut ini sebagai "jalan pendaratan" yang aman. Tapi faktanya, pernyataan itu lebih terdengar seperti pengakuan bahwa pesawat sudah nyaris kehabisan bahan bakar dan turbulensi tak lagi bisa dihindari.Baca Juga: Mengenang Eddie Nalapraya, Bapak Pencak Silat Dunia yang Meninggal di Usia 93 Tahun
Lebih dari sekadar urusan ekspor-impor, Trump menjadikan perdagangan sebagai alat tekanan diplomatik. Bahkan, dalam pernyataan tidak langsung, ia mengaitkan gencatan senjata India-Pakistan dengan janji peningkatan arus dagang AS ke kedua negara. Ini menunjukkan betapa politik luar negeri pemerintahan Trump dibentuk dari logika transaksional yang sempit — seolah segala ketegangan global bisa diselesaikan dengan satu kontrak dagang.
Satu hal yang menjadi pertanyaan besar: apa yang akan terjadi setelah 90 hari ini berakhir? Apakah ini benar-benar permulaan bagi rekonstruksi hubungan dagang yang sehat, atau hanya bentuk baru dari taktik delay yang ujung-ujungnya kembali ke ancaman tarif?Baca Juga: 13 Orang Tewas dalam Ledakan Amunisi di Garut, TNI AD Lakukan Investigasi
Beberapa diplomat menyebut kesepakatan ini sebagai “ujian laboratorium” untuk keinginan sejati kedua pihak dalam menemukan solusi jangka panjang. Namun pasar dan dunia usaha tidak seoptimis itu. Rantai pasok global yang telah rusak tidak serta-merta pulih dengan janji tiga bulan. Investor ingin kepastian, bukan euforia sementara.
Gencatan senjata dagang AS-China ini adalah pencapaian dalam konteks krisis, bukan hasil dari strategi unggul. Ini lebih menyerupai kompromi terpaksa akibat tekanan pasar, bukan transformasi paradigma kebijakan perdagangan.Baca Juga: Pemprov Bengkulu Alokasikan Dana Perbaikan Jalan Provinsi di Kabupaten Benteng Rp 182,2 Miliar
Dalam politik global, yang terlihat tenang di permukaan seringkali menyembunyikan gejolak yang lebih besar di bawahnya. Dunia patut bertanya: apakah ini awal dari babak baru hubungan dagang AS-China, atau sekadar titik koma sebelum kalimat panjang konflik berlanjut? *Baca Juga: Saudi Tangkap Puluhan Pelanggar Visa Haji: Haji Ilegal Terancam Sanksi Berat
BUNG STH BICARA adalah kolom opini tentang isu hangat dan aktual yang ditulis oleh Stefy Thenu, jurnalis senior Suara Pembaruan, aktivis sejumlah organisasi, anggota PWI Jateng dan bersertifikat Wartawan Utama Dewan Pers.
Artikel Terkait
Sri Mulyani dan Menkeu China Bahas Tarif Impor AS hingga Kolaborasi ASEAN+3 di Milan
Tarif Balasan Trump Timbulkan Kekhawatiran, Menko Airlangga Soroti Proyek AZEC dalam Kemitraan Ekonomi RI-Jepang
PM Malaysia Ungkap Isi Pembicaraan dengan Prabowo Soal Kenaikan Tarif Impor AS
Update Tarif Resiprokal Trump: Terapkan Tarif 100 Persen untuk Semua Film yang Diproduksi di Luar AS
AS dan China Sepakat Berunding di Jenewa untuk Redakan Ketegangan Tarif Resiprokal