Kini Unikal tengah menyiapkan akreditasi internasional seperti AACSB untuk Manajemen dan IABEE untuk Teknik. Bahkan, lewat Program Studi Teknologi Batik, Unikal siap memperkenalkan batik —warisan UNESCO— ke dunia.Baca Juga: Pendamping Desa di Bengkulu Diminta Wujudkan Kemandirian dan Inovasi Pembangunan
Kampus Transformatif Kreatif
Unikal sejak awal didirikan oleh Letjen Ali Said, S.H., dengan cita-cita bahwa perguruan tinggi harus dekat dengan rakyat. Filosofi samarthya mahotsaha paramadharma (bekerja tanpa pamrih) tetap dijaga.
Komitmen itu diwujudkan lewat berbagai program beasiswa. Mulai dari Beasiswa Yatim Berprestasi, KIP Kuliah, hingga beasiswa yayasan dengan potongan SPI hingga 100 persen.Baca Juga: Gubernur Helmi Hasan : Dana APBD Harus Dinikmati Masyarakat Bengkulu
Tak hanya itu, kampus berinisiatif mendirikan Rumah Amal untuk menyokong biaya kuliah mahasiswa dari keluarga yang kurang mampu. “Kami ingin memastikan bahwa pendidikan tinggi bisa diakses oleh semua kalangan tanpa terkecuali,” tegasnya.
Dengan hampir 6.000 mahasiswa aktif yang tersebar dari 22 provinsi, keberagaman menjadi kekuatan. Program Studi Batik, misalnya, terus mendorong mahasiswa agar me-lahirkan karya berdasarkan filosofi budaya asal daerah masing-masing.Baca Juga: Pemprov Bengkulu Dorong Percepatan Pengembangan Kawasan Industri Pulau Baai
Unikal juga memiliki desa binaan di Pekalongan dan Batang. Program ini berfokus pada pemberdayaan masyarakat, dari bidang ekonomi hingga kesehatan lingkungan. Tak heran jika pada 2024 dan 2025, Unikal menjadi mitra Pemerintah Kota Pekalongan hingga meraih penghargaan bergengsi Innovative Government Award.
Menyapa Dunia
Visi besar Unikal 2035 jelas, yaitu menjadi universitas unggulan di bidang iptek yang menghasilkan generasi mandiri, profesional, dan berakhlak mulia.Baca Juga: JK : Penguasaan Bidang Ekonomi dan Ilmu Pengetahuan Jadi Kunci kemajuan Peradaban Islam di Asia Tenggara
Langkah menuju perguruan tinggi kelas dunia digencarkan lewat kelas internasional, student mobility, pertukaran dosen, hingga benchmarking dengan kampus-kampus Asia Tenggara dan Pasifik. Kerja sama telah dijalin dengan An Giang University, Kalasin University, hingga Dong A University.
“Dies Natalis ke-44 kami usung tema Bridging Knowledge Across Borders. Kami ingin membuktikan kampus di Pekalongan bisa punya dampak global,” ujarnya optimis.Baca Juga: JK : Penguasaan Bidang Ekonomi dan Ilmu Pengetahuan Jadi Kunci kemajuan Peradaban Islam di Asia Tenggara
Di tengah visi besar dan ditopang rencana global, sang rektor tetap berpijak pada nilai ikhlas. Filosofi kampus Samarthya Mahotsaha Paramadharma menjadi kompas. Dari Pekalongan, cahaya itu bisa menembus batas, menyapa dunia.
“Kalau hanya mengejar peringkat tanpa ruh pengabdian, universitas akan kehilangan jiwanya. Karena itu, ilmu harus selalu kembali ke masyarakat,” pungkasnya.*Baca Juga: Mengubah Perusahaan Jamu Keluarga Jadi Ikon Industri Internasional