tokoh

William Shakespeare, Sang Penyair Abadi yang Karyanya Menembus Batas Zaman

Selasa, 12 Agustus 2025 | 08:15 WIB
William Shakespeare, penyair terkemuka yang dijuluki “Bard of Avon”. (X.com/bridge)

Jakarta, SUARA PEMBARUAN – Lebih dari empat abad sejak kepergiannya, nama William Shakespeare—yang dijuluki Bard of Avon atau “Penyair dari Avon”—tetap hidup di hati para pecinta sastra. Karya-karyanya terus dibaca, dipentaskan, dan diadaptasi di seluruh dunia, menjadikannya tokoh yang mengubah wajah sastra sepanjang masa.

Shakespeare lahir pada 23 April 1564 di Stratford-upon-Avon, Inggris, dari keluarga sederhana. Ayahnya seorang pembuat sarung tangan, sementara ibunya berasal dari keluarga pemilik tanah. Dari kota kecil ini, ia memulai perjalanan menuju panggung dunia.

Pada usia 18 tahun, ia menikahi Anne Hathaway dan dikaruniai tiga anak. Kehidupannya berubah drastis setelah pindah ke London, di mana ia mulai menulis untuk teater. Dengan kemampuan merangkai kisah dan bahasa yang memukau, Shakespeare memengaruhi cara orang menulis dan memahami drama, melampaui batas waktu, bahasa, dan budaya.

Karya-karyanya bukan sekadar cermin kehidupan, tetapi juga panduan memaknainya. Ungkapan legendaris “All the world’s a stage” dari drama As You Like It menjadi refleksi bahwa hidup adalah panggung, dan setiap orang memiliki perannya.

Di masa tuanya, ia menulis karya-karya seperti The Winter’s Tale dan The Tempest, yang memadukan tragedi, keajaiban, pengampunan, dan harapan—menunjukkan kedewasaannya dalam memahami emosi manusia. Setelah wafat pada 23 April 1616, sahabat-sahabatnya menerbitkan First Folio, kumpulan naskah drama yang mengabadikan warisannya.

Bahkan Ben Jonson, rival sekaligus pengagumnya, menyebut Shakespeare sebagai “bukan hanya untuk zamannya, tetapi untuk segala zaman.”

Hingga kini, drama Shakespeare telah diterjemahkan ke hampir semua bahasa utama, dipentaskan dari teater klasik di Inggris hingga panggung modern di Tokyo, bahkan diadaptasi menjadi film Hollywood dan pertunjukan jalanan di Afrika. Karakternya terasa hidup, dialognya memikat, dan konflik yang diangkat bersifat universal—membuatnya relevan di setiap generasi.

Meski hidup di abad ke-16, pandangannya tentang cinta, kekuasaan, keserakahan, dan penebusan tetap selaras dengan realitas modern. Shakespeare membuktikan bahwa emosi manusia adalah bahasa abadi, dan bahwa goresan tinta yang lahir dari hati mampu mengubah dunia. Selama manusia mencintai seni bercerita, kisah-kisahnya akan terus hidup.

Tags

Terkini