Bali, SUARA PEMBARUAN - Prof. Dr. I Made Suarta, SH, M.Hum, adalah sosok yang mencerminkan pencapaian dan dedikasi dalam dunia pendidikan.
Sebagai Rektor Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI), seniman, dan pengusaha, ia telah mengukir banyak prestasi. Namun, di balik keberhasilannya itu, tersimpan kisah perjuangan hidup yang tidak mudah.
Lahir dari keluarga yang tidak berkekurangan, Suarta justru harus menjalani hidup yang penuh keterbatasan sejak kecil.
Ayahnya wafat saat ia masih sangat muda, menyisakan sang ibu sebagai satu-satunya tumpuan keluarga. Sejak kecil, ia akrab dengan kerja keras—berjualan es keliling hingga menjadi buruh panen demi membantu ekonomi keluarga.
Tragedi kembali menimpanya menjelang akhir masa SMA: ibunya meninggal dunia. Namun, sebelum berpulang, sang ibu meninggalkan pesan penting,“Jangan pernah berhenti sekolah dan jangan ubah cita-citamu.” Wasiat itu menjadi kompas hidup Suarta, membawanya terus melangkah walau penuh rintangan.
Ia melanjutkan studi di IKIP PGRI Bali, kini menjadi UPMI, sebagai angkatan pertama. Demi membiayai kuliah sekaligus membantu adik-adiknya, Suarta bekerja siang hari dan kuliah sore. Dari buruh bangunan hingga petugas kebersihan ia lakoni, sampai akhirnya dipercaya sebagai mandor pembangunan gedung kampus.
Lulus sebagai Sarjana Bahasa dan Sastra Indonesia pada 1988, Suarta kemudian diangkat menjadi dosen dan pegawai bagian keuangan.
Keterlibatannya yang aktif semasa kuliah membuka jalannya dalam dunia akademik. Tak puas sampai di sana, ia melanjutkan studi hukum di Universitas Mahendradatta dan lulus pada 1994, lalu meraih gelar Magister Linguistik di Universitas Udayana pada 2003.
Kecintaannya pada seni membawanya terjun dalam organisasi tari. Pengalaman ini menginspirasi tesis magisternya yang menuai pujian dan mengantarkannya memperoleh beasiswa penuh program doktoral. Gelar doktor di bidang Sastra ia raih pada 2009, juga di Universitas Udayana.
Selama pengabdiannya di UPMI, Suarta telah menempati berbagai posisi penting: Ketua Program D2 PGTK (2004), Pembantu Rektor II (2006–2010), hingga akhirnya menjabat sebagai Rektor sejak 2010 hingga kini.
Di bawah kepemimpinannya, kampus ini berkembang pesat dan berganti nama menjadi Universitas PGRI Mahadewa Indonesia demi membuka peluang lebih luas dalam pengembangan ilmu.
Kini, UPMI menaungi 13 program studi dari penggabungan IKIP PGRI Bali dan STMIK Denpasar, yang dikelola di dua fakultas utama: Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan serta Fakultas Teknik Informatika. Suarta berharap, ke depan kampusnya juga dapat membuka program studi kedokteran.
Di luar dunia kampus, Suarta aktif dalam berbagai kegiatan sosial dan pembangunan, seperti menjadi Ketua Koperasi Coblong Pamor, Pembina Yayasan Dharma Sunu Mandare, hingga Tim Ahli Pemerintah Provinsi Bali.
Perjalanan hidup Made Suarta adalah kisah tentang konsistensi, kerja keras, dan dedikasi. Dari masa kecil yang penuh tantangan, ia menjelma menjadi figur sentral dalam dunia pendidikan di Bali—mengabdi, membangun, dan terus memberi.*