Yogyakarta, SUARA PEMBARUAN – Seniman dan desainer grafis Alex Pracoyo menghadirkan pameran tunggal bertajuk Ojo Urik pada 16–20 Desember 2025 di Ndalem Langenkusumo, Yogyakarta. Pameran ini digelar bertepatan dengan peringatan Hari Anti Korupsi Dunia dan menjadi momentum penting bagi Alex untuk merajut kembali perjalanan panjangnya di dunia seni rupa, dari media cetak hingga panggung internasional.
Lebih dari 50 karya ditampilkan dalam pameran kali ini. “Delapan puluh? Enggak nyampe,” ujarnya sambil tersenyum. Namun jika ditotal dari seluruh perjalanan panjangnya, karya-karya Alex telah hadir dalam lebih dari seratus pameran, termasuk undangan internasional di 22 negara. “Awalnya, pameran ini mau saya pisah. Tapi kalau dibikin sendiri-sendiri, saya bisa kecapekan. Jadi sekalian saja,” katanya. Beberapa karya yang ditampilkan kali ini sebelumnya juga telah ikut serta dalam pameran undangan di luar negeri. Alex dikenal konsisten berkarya sejak masa sekolah. Coretan spontan di meja belajar hingga poster dengan Rapido menjadi benih kreativitas yang kemudian berkembang. Kini, karya-karya itu menjelma menjadi visual matang yang menembus ruang pamer internasional. Pengalaman pameran di luar negeri pun beragam. Di Taiwan, lukisannya pernah dipajang di jalan setapak kampus. “Katanya pameran internasional, tapi lukisan saya ditaruh di bawah. Yang nonton ya cuma yang lewat,” kenangnya. Sebaliknya, di Korea Selatan ia merasakan standar tinggi. “Pamerannya di hall internasional. Lighting-nya bagus, standarnya tinggi. Saya yang orang Jogja ini sampai gumunan, kagetan. Perlakuannya apik banget,” ujarnya. Meski berbeda, Alex menegaskan semua pengalaman berharga. “Yang penting bukan tempatnya, tapi bagaimana karya itu bisa bicara.”
Secara harfiah, ojo urik berarti jangan curang. Alex mengangkat tema ini sebagai refleksi atas praktik kecurangan kecil dalam keseharian. Ia menggunakan bahasa anak-anak, seperti ojo urik dan ojo ngunthet, untuk menyampaikan pesan integritas dengan cara yang ringan namun tajam. “Beli es, ngambil tiga bilang dua. Ngepek, bolos. Itu kan bentuk ‘korupsi’ kecil dalam tanda kutip,” jelasnya. Dengan pendekatan jenaka, Alex mengajak publik bercermin bahwa integritas bukan hanya soal pejabat tinggi atau kebijakan besar, melainkan juga tentang kejujuran yang dimulai dari hal-hal kecil. Pesan ini sejalan dengan semangat Hari Antikorupsi Dunia. “Pak Gubernur pernah bilang, kita boleh punya statement, tapi pakailah local jenius, bahasa yang membumi. Tidak harus simposium atau seminar di hotel. Saya coba menerjemahkan itu lewat karya,” tambahnya.
Pameran Ojo Urik tidak hanya menampilkan karya visual, tetapi juga menghadirkan berbagai program pendukung. Pengunjung diajak mengikuti workshop dan talkshow bertema AI dan seni, mendengarkan dongeng serta mengikuti lomba mewarnai anak, menyaksikan drama Jawa, hingga menikmati suasana angkringan dan wedangan yang menambah keakraban. Dengan rangkaian kegiatan ini, pameran diharapkan menjadi ruang pertemuan berbagai kalangan: pegiat seni, komunitas kreatif, keluarga, pelajar, hingga masyarakat umum yang tertarik pada isu antikorupsi dan perkembangan seni rupa kontemporer.
Pameran ini juga mendapat apresiasi dari dua tokoh penting yang hadir, Wakil Gubernur DIY KGPAA Paku Alam X dan Rektor Universitas Gadjah Mada Prof. Ova Emilia. KGPAA Paku Alam X membuka sambutannya dengan gaya personal dan penuh nostalgia. Ia menegaskan bahwa pencapaian Alex patut diapresiasi karena tidak semua perupa memiliki kesempatan menampilkan karya dalam ruang publik. Menyoroti tagline pameran Transparansi dalam Warna, Integritas dalam Coretan, ia menekankan integritas Alex yang sejak dulu tidak pernah mau dipaksa menggambar sesuatu di luar kehendaknya. “Ia selalu setia pada gayanya sendiri. Tidak bisa diarahkan seenaknya, dan justru di situlah letak integritasnya,” ungkapnya.
Ia juga berbagi kisah masa pandemi, ketika Alex diminta membuat karya bertema masker namun tidak pernah selesai karena tidak merasa ‘klik’ dengan ide tersebut. “Itu bentuk integritas. Ia berkarya bukan karena diminta, tetapi karena benar-benar ingin,” katanya. Selain itu, Paku Alam X menyinggung kemurahan hati Alex yang pernah mengizinkan karyanya digunakan tanpa menuntut royalti. “Sebuah sikap yang jarang kita temui,” tambahnya. Di akhir sambutan, ia mengaku sentimental karena reuni dengan sahabat-sahabat lama semasa SMA, termasuk Prof. Ova. “Mari kita berdoa agar pameran ini berjalan lancar, penuh makna, dan menjadi ruang apresiasi hangat bagi karya-karya Mas Alex Pracoyo,” tutupnya.
Sementara itu, Prof. Ova Emilia menekankan kedekatan personalnya dengan Alex. Ia hadir bukan semata sebagai Rektor UGM, melainkan sebagai sahabat lama sekaligus pecinta seni. Dalam refleksinya, ia mengenang masa sekolah ketika Alex sudah menunjukkan minat besar pada seni rupa. “Meja belajarnya selalu penuh dengan coretan spontan penuh ekspresi, bahkan saat guru mengajar kimia atau fisika,” kenangnya. Ia juga menyinggung karya-karya awal Alex yang menggunakan Rapido, alat gambar populer pada masa itu. “Saya tidak selalu paham maknanya, tapi saya tahu setiap goresan menyimpan kedalaman,” ujarnya. Kini, menurut Prof. Ova, konsistensi dan ketekunan Alex menjelma dalam karya matang yang relevan dengan tema pameran. “Transparansi dan integritas bukan hanya penting dalam seni, tetapi juga dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” tegasnya. Ia mengajak publik menjadikan pameran ini sebagai ruang refleksi dan apresiasi. “Mari rayakan keberagaman ekspresi dan makna yang ditawarkan seni. Selamat kepada Mas Alex Pracoyo, semoga ini menjadi awal perjalanan lebih luas dalam dunia seni dan kebudayaan,” tutupnya.
Pameran ini diselenggarakan di Ndalem Langenkusumo, sebuah bangunan heritage Jawa klasik akhir abad ke-19 peninggalan KRT Madukusumo. Berlokasi di kawasan Kraton Yogyakarta, ndalem ini kini difungsikan sebagai guesthouse dan ruang serbaguna dengan karakter rumah Jawa yang kental—lengkap dengan pendopo, gandhok, dan halaman lapang.
Melalui Ojo Urik, publik diajak mengenal lebih dekat Ndalem Langenkusumo sebagai ruang yang merawat nilai budaya, keterbukaan, dan perjumpaan lintas komunitas. Pertemuan antara isu antikorupsi, ekspresi visual kontemporer, dan ruang heritage diharapkan menghadirkan pengalaman reflektif, hangat, dan relevan dengan situasi hari ini.
Pameran tunggal Alex Pracoyo dengan tema Transparansi dan Integritas pun menjadi bukan sekadar peristiwa artistik, melainkan momentum refleksi nilai-nilai universal. Dari coretan masa sekolah hingga karya matang yang kini dipamerkan, Alex meneguhkan bahwa seni dapat menjadi bahasa yang membumi sekaligus menggugah, mengajak publik untuk merayakan kejujuran, integritas, dan keberagaman ekspresi dalam kehidupan.