Yogyakarta, SUARA PEMBARUAN - Di tengah dominasi buku anak terjemahan dan gempuran konten digital yang serba cepat, sebuah inisiatif di Yogyakarta mengajak publik untuk menengok kembali akar sastra anak Indonesia. Pameran bertajuk Petak Umpet Sastra Anak hadir sebagai ruang refleksi dan penghormatan terhadap karya-karya lokal yang pernah mewarnai masa kecil generasi sebelumnya. Diselenggarakan oleh Kepustakaan Populer Gramedia (KPG), Museum Anak Bajang, dan Bentara Budaya pada 7–16 November 2025, pameran ini sekaligus menjadi bentuk penghormatan atas satu tahun kepergian Dwianto Setyawan—salah satu penulis buku anak paling berpengaruh pada dekade 1970–1980-an. Namun lebih dari sekadar mengenang, pameran ini menjadi ajakan untuk kembali merayakan dan menghidupkan kembali semangat sastra anak Indonesia.
Lebih dari sekadar pajangan ilustrasi dan sampul buku, pameran ini dirancang sebagai perjalanan lintas waktu. Pengunjung diajak menyusuri jejak panjang perkembangan sastra anak, mulai dari era proyek Inpres, maraknya buku terjemahan, perjuangan DS Group, hingga munculnya kembali novel-novel lokal untuk pembaca usia middle grade. Alih-alih membatasi definisi sastra, pameran ini membuka ruang dialog antar generasi.
“Petak umpet ini sudah waktunya kita akhiri,” ujar Romo Sindhunata SJ, adik Dwianto Setyawan sekaligus penggagas pameran, dalam diskusi pra-acara. “Dengan dokumentasi dan refleksi yang telah dikumpulkan, saatnya kita kembali menggaungkan sastra anak Indonesia.”
Pembukaan pameran pada 7 November berlangsung meriah. Romo Sindhunata hadir bersama Christina M. Udiani dari KPG dan tiga kurator: Setyaningsih, Nai Rinaket, dan Hanputro Widyono. Acara dibuka dengan tarian warok cilik, alunan keroncong dari Sakpenake, serta pembacaan cerita oleh siswa SD Muhammadiyah Sapen.
Sebagai bagian dari upaya pelestarian, KPG menerbitkan ulang 15 karya klasik dari Dwianto Setyawan dan Djokolelono dalam seri Klasik Semasa Kecil. Judul-judul seperti Sersan Grung-Grung, Tanah Sang Raksasa, dan Astrid Rumah Pohon kembali hadir dengan ilustrasi baru, dilengkapi satu buku esai bertajuk Melangkah ke Sastra Anak. “Setelah bukunya kembali tersedia, langkah berikutnya adalah menjadikannya bahan percakapan. Maka lahirlah pameran ini,” jelas Christina M. Udiani.
Selama sepuluh hari, pengunjung dapat mengikuti berbagai kegiatan interaktif: dari permainan detektif “Melacak Sersan Grung-Grung”, lokakarya mendongeng, tur kuratorial, hingga diskusi bersama tokoh-tokoh seperti Reda Gaudiamo dan Herdiana Hakim. Diskusi lainnya menghadirkan Djokolelono, Toni Masdiono, Aprinus Salam, Elfira Prabandari, dan sejumlah pemikir yang membahas arah baru sastra anak Indonesia.
Pameran ini terwujud berkat sinergi puluhan komunitas dan lembaga, termasuk Majalah Basis, Rembuku, Detectives.id, Balai Bahasa Yogyakarta, dan Gramedia. Kolaborasi ini menegaskan bahwa menjaga ruang imajinasi anak bukan hanya tugas penulis dan penerbit, melainkan tanggung jawab kolektif kita semua.
Artikel Terkait
Merawat Akar Budaya Pesisir: Sastra Jawa Pantura sebagai Cermin Identitas dan Inspirasi Masa Kini
Diponegoro Hero Film AI Sejarah Kepahlawanan Bangsa Karya Anak Bangsa
Menteri PKP Maruarar Sirait Apresiasi Proyek Rusun ASN Kejati DIY