Tidak hanya masakan modern yang dikenal sebagai masakan Padang yang telah tersebar di seluruh Indonesia dan dunia, masyarakat Minangkabau sudah terbiasa dengan tradisi masak-memasak karena tradisi merantau yang menjadikan masyarakatnya harus memiliki cadangan makanan saat di perjalanan. Selain itu, geografi Minangkabau memiliki bumbu rempah yang melimpah dan keahlian nenek moyang mampu mengolah menjadi kuliner yang bervariasi.
Tidak hanya sebagai pemenuhan fisik, kuliner di ranah Minangkabau menjadi sebuah simbol untuk berbagai kepentingan, seperti upacara keagamaan, pernikahan, dan adat. Tentunya, dalam tradisi kuliner tersebut terdapat nilai Minangkabau, seperti nilai budaya, adat, kebersamaan, dan penghormatan.
Baca Juga: Generasi Emas Milik Mereka yang Rajin, Pintar dan Bersemangat.
Salah satu naskah yang berasal dari Minangkabau adalah naskah yang ditulis oleh Syekh Abdul Latif Syakur, ulama, penyuka kuliner, dan penulis resep masakan. Pramono (2024) mengungkapkan bahwa Syekh Abdul Latif Syakur merupakan anak dari Muhammad Amin Paduko Intan yang lahir pada tanggal 5 Agustus 1882 di Nagari Air Mancur, Agam, Sumatera Barat. Naskah yang ditulis oleh beliau adalah naskah beraksara Jawi dengan penjelasan resep jenis kue, lauk-pauk pendamping menu utama. Pramono menjelaskan adanya salah satu cara memasak menu kuliner yang terdapat dalam naskah tersebut.
Menu sambal patai menjadi sebuah bukti bahwa Syekh Syakur sebagai penulis naskah yang melegitimasi bahwa tradisi Minangkabau dalam kepenulisan naskah dalam berbagai pengetahuan patut diacungi jempol. Tidak hanya itu, berdasarkan naskah yang ditemukan juga terdapat pengetahuan dalam membuat sambal ati dan jenis sambal lainnya. Naskah tersebut menandakan kuatnya peran dapur dalam kehidupan sehari-hari masyarakat masa lalu.
Alih-alih hanya diwariskan secara lisan, nenek moyang kita ternyata cukup cermat mendokumentasikan berbagai resep masakan, termasuk cara mengolah hati ayam dengan bumbu rempah khas. Penggunaan aksara Jawi dalam penulisan resep memperlihatkan perpaduan erat antara budaya tulis, pengaruh Islam, dan kebiasaan lokal dalam kehidupan masyarakat Nusantara.
Baca Juga: Pertamina Dukung Penegakan Hukum atas Dugaan Penyalahgunaan BBM Subsidi di Sulsel
Menariknya, struktur penulisan resep dalam naskah tersebut tidak jauh berbeda dengan buku masak modern. Ada daftar bahan, instruksi langkah demi langkah, dan bahkan tips agar rasa sambal lebih harum atau hati ayam tidak terlalu keras. Ini menunjukkan bahwa dokumentasi resep adalah bagian penting dari kehidupan rumah tangga masa lalu dan dapur pun memiliki tempat terhormat dalam budaya tulis tradisional.
Menggali naskah-naskah kuliner dalam aksara Jawi bukan hanya soal menelusuri resep, tetapi juga membuka jendela sejarah mengenai tradisi, teknologi dapur, jaringan perdagangan rempah, hingga nilai-nilai budaya dan spiritual yang melekat dalam setiap sajian. Dengan membaca dan menghidupkan kembali resep-resep tersebut, kita tidak hanya menyajikan masakan, tetapi juga mewariskan identitas.
Kini, dengan teknologi digital dan minat terhadap gastronomi lokal yang terus tumbuh, naskah-naskah seperti ini patut dijaga dan dipopulerkan kembali. Sebab di balik setiap lembaran tua itu, tersimpan rasa, ingatan, dan cinta yang ditulis dengan tinta serta tradisi.