Roma Kyo Kae Saniro
Dosen Fakultas Ilmu Budaya,
Universitas Andalas
Walaupun tradisi lisan nenek moyang sangat dominan di Indonesia, hal tersebut tidak berarti tidak adanya tradisi kepenulisan yang dilakukan oleh nenek moyang.
Beranjak pada masa lampau, tradisi menulis menjadi sebuah peninggalan nenek moyang yang menghasilkan produk berupa naskah kuno. Naskah kuno ini juga berisi berbagai pengetahuan yang dimiliki oleh nenek moyang untuk diturunkan dan dibagikan kepada orang lain.
Salah satu keberagaman pengetahuan nenek moyang ini adalah terkait dengan resep masakan. Resep masakan di Indonesia sangat bervariasi dari Sabang hingga Merauke. Setiap wilayah memiliki keunikan yang menjadi pembeda dan kekhasan wilayah tersebut. Pada masa kini, misalnya, kita mengetahui rendang dan makanan berempah dan bersantan dari masakan Minangkabau atau kita mengetahui berbagai makanan sayur mentah atau lalapan dari masyarakat Sunda atau kita pun mengetahui olahan papeda yang digunakan sebagai makanan pokok dari Indonesia Timur.
Lebih jauh, misalnya, perbedaan geografi yang membedakan ciri khas kulinernya. Daerah pegunungan menghasilkan kuliner yang cenderung berasal dari tumbuhan atau daerah pantai yang cenderung menghasilkan kuliner ikan atau hasil laut. Tentunya, keberagaman ini menjadi warna menarik sebagai khazanah kuliner Indonesia.
Baca Juga: Rahasia Hidup Bugar di Usia Lanjut: Menu Sehat yang Mudah dan Ramah di Kantong
Khazanah kuliner ini diharapkan tetap bertahan hingga bertahun-tahun mendatang walaupun pada masa kini kuliner tradisional sangat rentan untuk tergerus dengan kuliner modern yang lebih instan dan kekinian. Eksistensi kuliner Indonesia ini harus tetap bertahan dengan salah satu solusi berupa penulisan atau pencatatan dalam bentuk naskah. Naskah tersebut diharapkan mampu menjadi pengabadian pengetahuan masa lampu yang dapat dibaca dan diketahui oleh banyak pihak.
Dengan demikian, naskah menjadi sebuah hal penting untuk pengingat masyarakat terkait dengan pengetahuan masyarakat Indonesia. Salah satu naskah kuno atau manuskrip yang berisi pengetahuan nenek moyang Indonesia pun dapat ditemui di berbagai wilayah. Contohnya adalah naskah Ramayana dan Arjunawijaya yang sebenarnya berasal dari Asia Selatan, tetapi dalam proses penyalinannya atau penulisannya, terdapat pengaruh dari pewayangan Nusantara. Makanan yang disebutkan adalah nasi ketan yang diberikan kepada pertapa (Arenga Indonesia).
Baca Juga: Neta Bertahan di Tengah Isu Pailit Induk, Andalkan Strategi Suku Cadang Lokal di Indonesia
Tidak hanya naskah Ramayana dan Arjunawijaya, naskah di Sumatera pun menjadi sebuah peninggalan pengetahuan kuliner nenek moyang pada masa lampau. Naskah yang dimaksud adalah naskah-naskah yang ditemukan oleh nenek moyang masyarakat Minangkabau. Mayoritas naskah Minangkabau menggunakan aksara Arab dengan bahasa Melayu atau disebut sebagai aksara Jawi. Di balik lembaran-lembaran yang mulai menguning dan rapuh itu, tersimpan catatan rasa, aroma, dan teknik memasak yang diturunkan lintas generasi.
Artikel Terkait
Neta Bertahan di Tengah Isu Pailit Induk, Andalkan Strategi Suku Cadang Lokal di Indonesia
Wamen Stella Usulkan Program MBG Jadi Media Belajar Matematika dan Bahasa Inggris
Labubu dan Treatonomics: Saat Gen Z Menemukan “Kemewahan Kecil” di Tengah Krisis
Empat Prajurit Jadi Tersangka Kematian Prada Lucky, 16 Anggota Lain Masih Diperiksa Puspom TNI
Kemensos Bagikan 15 Ribu Laptop dan Seragam untuk Siswa Sekolah Rakyat, Saifullah Yusuf Pastikan Proses Bersih
Pertamina Dukung Penegakan Hukum atas Dugaan Penyalahgunaan BBM Subsidi di Sulsel
Generasi Emas Milik Mereka yang Rajin, Pintar dan Bersemangat.
Gubernur Helmi Hasan Dukung Pengiriman Tenaga Kerja Asal Bengkulu Tujuan Jepang
Pemprov Bengkulu Bantu Biaya Pendidikan Siswa SMA/SMK dan Mahasiswa Asal Enggano
Banjir Landa Kota Bengkulu, Ratusan Rumah Warga Teredam