"Nanti Malam Kupikir Lagi" dari Resah menjadi Album Baru Mitty Zasia

Photo Author
Fuska Sani Evani, Suara Pembaruan
- Kamis, 24 Oktober 2024 | 14:06 WIB
Mitty Zasia. (SPnews/Fuska SE)
Mitty Zasia. (SPnews/Fuska SE)

 

Yogyakarta, SUARA PEMBARUAN -   Berangkat dari kegalauan hati, Mitty Zasia vokalis dengan warna suara milenial ini, justru melahirkan  karya teranyarnya, "Nanti Malam Kupikir Lagi"

‘Anak rantau’ asal Sulawesi Utara yang telah menetap di Kota Gudeg sejak tahun 2018 ini dikenal dengan suara lembut dan lirik-liriknya  yang mendalam, pun telah merilis beberapa single dan album sebelumnya, seperti "27" dan pada "Nanti Malam Kupikir Lagi" menampilkan sisi lain dari Mitty, dengan eksplorasi rasa mendalam sebagai cara kontemplasi dan introspektif.

Kepada media di Yogyakarta, Mitty berkisah kalau 15 lagu dalam album teranyarnya itu, berkisah tentang masa-masa ‘pencarian diri’, menemukan apa yang selama ini terasa kurang di hidupnya. “Mimpi besar yang perlu dikejar. Masalahnya, tak ada yang kasih peringatan bahwa efek samping dari memiliki mimpi adalah pengejarnya,  sering babak belur dihantam proses,” uajrnya.

Dengan berbagai genre musik, mulai dari pop, akustik, hingga sedikit sentuhan elektronik, Mitty Zasia terlibat langsung dalam penulisan lirik dan komposisi musik untuk album ini. Ia bekerja sama dengan beberapa produser musik ternama untuk menciptakan aransemen yang unik dan menarik. Proses rekaman dilakukan di beberapa studio di Jakarta dan Yogyakarta, memberikan sentuhan lokal yang khas

Mitty menyadari, sebagai perempuan yang perantau, telah  menumbuhkan dinamika tersendiri dalam upayanya meraih cita-cita. Perjalanan panjang ini membuatnya rutin berpikir sampai khawatir berlebihan, dan kegelisahan inilah yang kemudian muncul dalam 15 lagu di album keduanya.

“Lagu-lagu di album ini semuanya keresahan yang ganggu pikiranku, rata-rata munculnya tengah malam terus sampai pagi dan berulang besoknya, makanya album ini kukasih judul Nanti Malam Kupikir Lagi,” ujar Mitty. Saat ditela’ah lebih dalam, perbincangan Mitty dengan diri sendiri di waktu-waktu rawan itu berputar soal situasinya sebagai perempuan, pemimpi, dan perantau.

Sebagai menjadi perempuan, Mitty mempertanyakan bagaimana dirinya tumbuh besar mengemban beban sosial yang tidak dimintanya lewat lagu seperti “Tolak Ukur” dan “Untuk Perempuanku di Cermin”. Untuk lagu yang disebut terakhir, Mitty berkolaborasi dengan solois asal Semarang, Fanny Soegi.

Hahit-getir petualangan selama merantau ke Yogyakarta, mengejar mimpi, dan jauh dari orang-orang yang ia sayangi, ia torehkan lewat “Pada Akhirnya Berkawan Berlalu” dan “Rela Tak Semudah Kata”, berkutat melawan suara-suara bising yang meragukan keputusannya yang tertuang lewat lagu seperti “Keluar Kamar” dan “Terbentur kan Terbentuk”, hingga mendapati kenyataan demi kenyataan pahit hidup yang ia temui selama proses itu lewat “Sandwich” dan  “Kepala Tiga”.

Dari 15 lagu itu, “Bukan Seleramu” dipilih Mitty sebagai focused track karena dianggap cukup mewakili album, “Aku suka lagu itu karena dia egois. ‘Bukan Seleramu’ kubikin sebagai usahaku berterus terang kepada orang yang minta aku untuk jadi apa yang dia mau.

Bekerja sama dengan sutradara Bagus Tikus, video klip “Bukan Seleramu” sudah bisa ditonton di YouTube pada hari perilisan album.

Seluruh pengerjaan album ini, lanjjut Mitty, dipercayakan Mitty sepenuhnya kepada 6 produser di Yogyakarta, mereka adalah Sasi Kirono, Fareeq Angkasa, Yabes Yuniawan, Awalawe, Adiyatma Dadi Raharjo, dan Usaha Terbaik Kita. Sementara, artwork album dikerjakan oleh seniman visual Jogja Isac Kumoro. Mitty juga bekerjasama dengan Mohammed Kamga, Endah Widiastuti, dan Lintang Larasati sebagai vocal director. (*)

 

Editor: Fuska Sani Evani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X