Perjuangannya membela petani dan juga nelayan, serta masyarakat di berbagai lapisan, membuatnya menjadi tokoh panutan di masyarakat.
Di desanya, Firman menyisihkan sebagian harta titipan Allah untuk membantu sesama bersama lintas komunitas seperti Gusdurian dan Keluarga Masyarakat Tionghoa, yang dilakukan di klenteng Hok Tik Bio Pati pimpinan Eddy Siswanto.
Saat pulang ke desanya, di tahun 2007, Firman tersentuh saat melihat suasana pengajian anak-anak TPQ di emperan. Semangat mengaji dan menulis Al-Qur'an anak-anak tidak selaras dengan tempat yang saat itu sangat tidak nyaman dan untuk itu dia tergerak untuk membangun Masjid Al Firman dan TPQ Al Ikhlas
Dia berharap masjid Al-Firman mampu menjadi bagian dari syiar agama Islam di desanya, sedangkan TPQ yang dibangun menjadi upaya untuk memudahkan anak-anak desa setempat dalam belajar pendidikan Islam. Dalam jangka panjang, TPQ Al Ikhas diproyeksikan menjadi lembaga pendidikan formal seperti madrasah.
Dengan kepeduliannya terhadap peningkatan ibadah di masyarakat, tidak segan–segan turun langsung membantu pembangunan masjid di beberapa desa di Daerah Pemilihannya.
Sosok anak desa ini tidak tanggung – tanggung untuk meningkatkan karakter masyarakat dan wawasan kebangsaan dia melakukan kegiatan rutin, salah satunya adalah Sosialisasi 4 (empat) Konsensus Dasar Kebangsaan/ Sosialisasi 4 Pilar ke desa-desa dengan menggandeng Bupati dan Kodim 0718 Pati serta kegiatan sosial lainnya seperti pembuatan jambanisasi di Desa–Desa tertinggal tidak sedikit yang telah dicapainya.
Komitmennya yang tinggi untuk membangun Daerah Pemilihannya, membuatnya tidak sungkan–sungkan turun ke desa dengan berpakaian ala kadarnya bahkan tidak jarang terlihat menggunakan sandal membaur dengan rakyat yang diwakili dari desa ke desa, sikap kesederhanaannya sebagai anak desa dan wakil rakyat inilah yang semakin memikat rakyat yang diwakilinya.
Program pertanian, perikanan dan kehutanan yang selalu diberikan kepada masyarakat sudah sangat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat dan hampir tidak ada orang sampai pelosok desa yang tidak mengenal dirinya. Bantuan yang disalurkan kepada masyarakat dan petani/nelayan di daerah pemilihannya, setelah menjadi anggota DPR, dilakukan secara gratis, tanpa pungutan.
Visi dan gagasan besar untuk membangun Indonesia dari desa melekat kuat dalam dirinya, yang memiliki visi meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa. Visi itu berangkat dari filosofi "ekonomi suatu negara akan kokoh, jika masyarakat di desa sejahtera".
Untuk itu, berbagai potensi yang ada di desa mulai dari sektor pertanian, peternakan, perikanan, hingga UMKM harus dioptimalkan. Apalagi dengan adanya dukungan dari Dana Desa yang dikucurkan Pemerintah, maka perekonomian masyarakat desa akan meningkat. Rakyat dapat berdaya, makmur dan sejahtera.
"Saat ini, baik di kota maupun di desa, tak ada rumah yang tanpa memiliki alat-alat elektronik yang membutuhkan energi listrik sangat besar," ujarnya.
Maka, untuk menghadapi kian meningkatnya kebutuhan energi itu, kita tak lagi dapat mengandalkan energi fosil yang jumlahnya sangat terbatas. Melainkan harus mampu menciptakan energi terbarukan. Untuk memenuhi kebutuhan pangan yang kian besar, maka perlu dilakukan swasembada pangan untuk mewujudkan kedaulatan pangan nasional.
“Kita harus mampu swasembada pangan, yang sumbernya berasal dari petani lokal, tidak menggantungkan diri pada impor. Untuk itu, infrastruktur di pedesaan seperti waduk, irigasi, dll, serta mekanisasi pertanian harus terus ditingkatkan. Saat ini, mulai terlihat adanya swasembada beras dan jagung, ini yang harus terus didukung," ungkapnya.
Melalui peningkatan sumber daya masyarakat petani, Firman telah melakukan secara rutin bimbingan tehnis diberbagai sektor, seperti pertanian, kelautan, perikanan, kehutanan dan lingkungan hidup yang selalu tidak lepas dari pencermatannya.